INFORMASI.COM, Jakarta - Jawa Barat menempati posisi tertinggi dalam penurunan angka stunting nasional tahun 2024, disusul Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan.
Tiga provinsi berhasil mencatat penurunan signifikan dalam prevalensi stunting dibandingkan tahun sebelumnya.
- •Jawa Barat menurunkan prevalensi stunting dari 21,7 persen menjadi 15,9 persen.
- •Sumatera Selatan berhasil menekan dari 20,3 persen menjadi 16,8 persen.
- •Sulawesi Selatan menurunkan dari 27,4 persen menjadi 23,3 persen.
Sementara itu, Provinsi Bali dinobatkan sebagai daerah dengan angka stunting terendah nasional, masing-masing di:
- •Kabupaten Klungkung: 5,1 persen
- •Kabupaten Gianyar: 5,4 persen
- •Kabupaten Badung: 7,2 persen
Capaian tersebut diumumkan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Percepatan Penurunan Stunting 2025 di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Dalam acara itu, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyebut capaian Jawa Barat menunjukkan efektivitas kerja lintas sektor di tingkat daerah.
“ Ini (Jawa Barat) salah satu provinsi dengan penurunan paling signifikan. ”
— Gibran Rakabuming Raka, Wapres RI, dalam acara Rakornas Stunting di Jakarta, Rabu.
Tonggak Nasional di Bawah 20 Persen
Untuk pertama kalinya, angka prevalensi stunting nasional juga berhasil ditekan hingga di bawah 20 persen.
- •Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, angka stunting nasional kini berada di 19,8 persen.
- •Pemerintah menargetkan penurunan bertahap menjadi 14 persen pada 2029, dan 5 persen pada 2045.
- •Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut capaian ini sebagai tonggak penting dalam sejarah kesehatan anak Indonesia.
“ Kita mau mengucapkan selamat karena untuk pertama kalinya angka stunting nasional berada di bawah 20 persen. ”
— Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI, di acara tersebut.
Strategi Nasional Penurunan Stunting
Pemerintah menempuh dua jalur utama dalam menekan angka stunting — program spesifik di sektor kesehatan dan program sensitif di luar sektor kesehatan.
- •Di sektor kesehatan, fokus utama adalah pemenuhan gizi ibu hamil dan pencegahan anemia.
- •Di luar sektor kesehatan, intervensi dilakukan melalui pencegahan perkawinan dini, peningkatan akses air bersih, sanitasi, dan toilet layak.
- •Budi menegaskan sebagian besar kasus stunting berawal dari kondisi gizi ibu selama kehamilan.
“ Di luar kesehatan contohnya pencegahan perkawinan dini, kebersihan air, sanitasi, dan akses toilet layak. Sementara di sektor kesehatan, fokus kita ada dua, memastikan gizi ibu hamil cukup dan mencegah anemia. ”
— Budi menerangkan.
Pentingnya Asupan Protein Hewani
Menkes juga menyoroti pentingnya asupan protein hewani bagi anak-anak setelah masa ASI eksklusif.
- •Ia menjelaskan bahwa kenaikan angka stunting kerap terjadi pada usia 12–24 bulan akibat kurangnya konsumsi protein hewani.
- •Periode tersebut merupakan masa kritis pertumbuhan yang menentukan kualitas gizi anak di masa depan.
“ Biasanya kenaikan angka stunting terjadi setelah anak berhenti ASI, antara usia 12 sampai 24 bulan, karena kurang asupan protein hewani. Padahal, di masa itu tubuh sangat membutuhkan nutrisi tersebut. ”
— Menkes mengungkapkan.
(ANT)