INFORMASI.COM, Jakarta - Badan Geologi Kementerian ESDM melalui PVMBG memaparkan penyebab gerakan tanah yang terjadi di kawasan Ngarai Sianok, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, hingga memaksa sejumlah warga mengungsi.
PVMBG menggarisbawahi bahwa kawasan Ngarai Sianok sejak awal tersusun sebagai lembah curam dengan tebing terjal yang mudah terpengaruh kondisi ekstrem.
Penjelasan teknis disampaikan lembaga ini untuk menggambarkan tingkat kerentanan geologi kawasan tersebut.
- •Lereng dapat memiliki kemiringan lebih dari 60%.
- •Morfologi terjal terbentuk akibat erosi kuat pada batuan vulkanik.
- •Reaktivasi struktur geologi membuat lereng menjadi berteras dan semakin tidak stabil.
- •Risiko gerakan tanah meningkat saat curah hujan tinggi atau gempa bumi terjadi.
“ Kawasan Ngarai Sianok merupakan lembah curam yang dibatasi oleh tebing-tebing terjal dengan kemiringan lereng yang dapat mencapai lebih dari 60 persen. ”
— Lana Saria, Plt Kepala Badan Geologi, keterangan tertulis, Selasa (25/11/2025).
Batuan Vulknanik Rapuh dan Mudah Jenuh Air
Kondisi litologi menjadi faktor besar yang memperlemah kestabilan tebing.
- •Tebing didominasi batuan piroklastik berupa ignimbrit dan tufa batu apung.
- •Di area lembah terdapat endapan koluvium dan material runtuhan tebing.
- •Batuan piroklastik yang lapuk bersifat rapuh, berpori, dan mudah menyerap air.
- •Ketika jenuh air, lereng kehilangan kekuatan dan mudah longsor.
“ Batuan piroklastik yang telah mengalami pelapukan cenderung rapuh, berpori, dan mudah jenuh air sehingga menurunkan kestabilan lereng ketika terinfiltrasi air hujan. ”
— Lana Saria mengatakan.
Pengaruh Sesar Semangko dan Retakan Tektonik
Secara geologi, kawasan ini berada tepat pada struktur aktif.
- •Ngarai Sianok dipengaruhi langsung oleh Patahan Besar Sumatera, Segmen Sianok.
- •Aktivitas tektonik dapat menghasilkan retakan baru atau memperbesar retakan lama.
- •Retakan membuat massa batuan semakin tidak kompak dan rawan longsor.
- •Pengamatan daerah menunjukkan rekahan yang berkembang setelah getaran gempa.
“ Hasil pengamatan di lapangan oleh instansi daerah sebelumnya juga menunjukkan adanya rekahan pada dinding tebing yang berkembang setelah getaran gempa. ”
— Lana Saria mengungkapkan.
Zona Permukiman dalam Kategori Kerentanan
Peta potensi gerakan tanah menunjukkan sebagian permukiman dekat tebing termasuk zona rawan.
- •Lereng curam dengan batuan vulkanik lapuk dikategorikan kerentanan menengah hingga tinggi.
- •Permukiman di bibir tebing masuk wilayah yang harus diwaspadai.
- •Risiko meningkat pada periode hujan atau ketika terjadi aktivitas seismik.
- •Kombinasi topografi curam, litologi rapuh, dan sesar aktif membuat wilayah ini sangat sensitif.
“ Kawasan pemukiman yang berdekatan dengan bibir tebing Ngarai Sianok termasuk dalam zona yang harus diwaspadai, terutama pada periode hujan intensif atau ketika terjadi aktivitas seismik. Kombinasi topografi terjal, litologi rapuh, dan keberadaan struktur aktif menjadikan kawasan ini sensitif terhadap potensi tanah bergerak. ”
— Lana Saria menjelaskan.
(ANT)