- • Menteri HAM Natalius Pigai meminta kepolisian mengusut tuntas teror terhadap aktivis dan pemengaruh.
- • Sejumlah influencer dan aktivis lingkungan melaporkan ancaman fisik dan digital setelah mengkritik penanganan bencana Sumatra.
- • Meski demikian, Pigai minta influencer dan aktivis berbicara sesuai fakta, bukan dengan emosi dan personal.
INFORMASI.COM, Jakarta - Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai meminta aparat kepolisian mengusut secara menyeluruh sederet aksi teror yang dialami sejumlah aktivis dan pemengaruh setelah menyampaikan kritik terhadap penanganan banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Sumatera pada akhir November 2025.
“ Terkait maraknya teror yang menimpa influencer, saya minta kepada aparat kepolisian untuk mengusut secara tuntas agar diketahui apa motif dan siapa pelakunya. ”
— Natalius Pigai, Menteri HAM, di Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Pigai menyampaikan apresiasi kepada siapa pun, termasuk pemengaruh, yang menggunakan hak kebebasan berpendapat untuk menyampaikan kritik. Menurut dia, ruang demokrasi di Indonesia saat ini memberikan keleluasaan bagi masyarakat untuk menyampaikan pandangan.
“ Saat ini kita menikmati surplus demokrasi, yakni hak berpendapat atas pikiran dan perasaan yang dijamin tanpa adanya protokol lalu lintas. Dalam situasi ini, tidak mungkin institusi, apalagi negara, menghalangi kebebasan tersebut. ”
— Pigai mengungkapkan.
Kritik Jangan hanya Demi Popularitas
Meski demikian, Pigai mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat perlu disertai kehati-hatian. Ia menilai dalam praktiknya, kritik kerap bergeser menjadi serangan terhadap kehormatan individu maupun institusi.
Pigai juga menyatakan terdapat kemungkinan adanya pihak yang memanfaatkan narasi tertentu dengan berpura-pura menjadi korban demi kepentingan popularitas. Menurut dia, praktik semacam itu dapat memicu gangguan terhadap kehormatan interpersonal.
Pigai meminta para pemengaruh agar dalam menyampaikan kritik tidak serta-merta membingkai pemerintah sebagai pelaku. Ia menegaskan hingga saat ini belum ada pihak yang dapat dipastikan bertanggung jawab atas bencana di wilayah utara Sumatera tanpa melalui penyelidikan aparat penegak hukum.
Ia juga mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat kerap disertai dengan penggiringan opini menggunakan pola pikir keliru, seperti serangan pribadi, manipulasi emosi, generalisasi berlebihan, dan pengaburan hubungan sebab-akibat.
Oleh karena itu, Pigai mengajak masyarakat untuk tetap bersikap rasional dan objektif dalam menilai informasi, khususnya yang beredar di media sosial.
Terkait penanganan bencana di Sumatera, Pigai menyatakan pemerintah telah menunjukkan keseriusan melalui langkah yang sistematis, masif, dan terencana. Menurut dia, pemerintah menjalankan dua tahap utama, yakni tanggap darurat dan pembangunan infrastruktur sebagai bagian dari pemulihan masyarakat terdampak.
“ Semua orang tentu tahu dan telah menyaksikan bahwa hampir setiap minggu Presiden datang ke Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. ”
— Pigai menerangkan.
Pigai menolak keras upaya pembingkaian yang menyudutkan pemerintah sebagai pelaku teror tanpa dasar hukum dan bukti yang sah. Ia menegaskan jika memang terdapat teror, pelakunya bukan negara atau aktor pemerintah.
Rangkaian Teror terhadap Influencer dan Aktivis
Sebelumnya, sejumlah pemengaruh melaporkan aksi teror yang mereka alami setelah menyampaikan kritik terhadap penanganan bencana di Sumatera. Mereka antara lain:
- •Ramon Dony Adam alias DJ Donny
- •Sherly Annavita
- •Chiki Fawzi
DJ Donny melaporkan teror di rumahnya yang terjadi dua kali, yakni pada Senin (29/12) dan Rabu (31/12) dini hari.
“ Jadi, kemarin saya dapat teror, dikirim bangkai ayam ke rumah saya. Lalu, semalam jam 3.00 WIB, di CCTV terekam orang melempar molotov ke rumah saya. ”
— Ramon Dony Adam saat ditemui di Polda Metro Jaya, Rabu (31/12).
Sementara itu, Sherly Annavita mendapati mobilnya dicoret-coret oleh orang tidak dikenal. Chiki Fawzi mengaku menerima ancaman digital.
Selain pemengaruh, Greenpeace Indonesia menyampaikan salah satu aktivisnya, Iqbal Damanik, juga mendapat teror di rumahnya. Teror tersebut berupa pengiriman bangkai ayam disertai pesan ancaman tertulis.
“ Jagalah ucapanmu apabila Anda ingin menjaga keluargamu. Mulutmu harimaumu. ”
— Isi pesan ancaman tersebut, dikutip dari pernyataan Greenpeace Indonesia melalui akun Instagram resminya.