BMKG: Bibit Siklon 96S dan 91W Picu Potensi Cuaca Ekstrem hingga Jumat

BMKG: Bibit Siklon 96S dan 91W Picu Potensi Cuaca Ekstrem hingga Jumat
Bibit Siklon 96S di selatan Nusa Tenggara. Gambar: BMKG
Ikhtisar
  • BMKG mendeteksi dua bibit siklon tropis, yakni 96S di selatan NTB dan 91W di Laut Filipina utara Maluku Utara yang berpotensi pengaruhi cuaca ekstrem.
  • Bibit Siklon 96S memicu potensi hujan lebat dan gelombang tinggi hingga Jumat, 16 Januari 2026, khususnya di selatan Jawa, Bali, NTB, NTT.
  • BMKG memprediksi kedua bibit tersebut berpeluang rendah berkembang jadi siklon tropis utama meski tetap berdampak luas.

INFORMASI.COM, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau dua bibit siklon tropis yang saat ini berada dalam Area of Responsibility Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta. Dua sistem ini memiliki potensi memengaruhi kondisi cuaca dan perairan di sejumlah wilayah Indonesia dalam 24 jam ke depan.

Menurut data BMKG, lokasi dua bibit siklon tropis tersebut adalah:

  • Bibit Siklon Tropis 96S terpantau di Samudera Hindia, selatan Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan tekanan minimum sekitar 1.002 hektopascal (hPa) dan kecepatan angin maksimum sekitar 20 knot (37 km/jam).
  • Bibit Siklon Tropis 91W berada di Laut Filipina utara Maluku Utara, tercatat dengan tekanan sekitar 1.002 hPa dan kecepatan angin maksimum mencapai 30 knot (56 km/jam).

Meski kedua bibit ini memiliki peluang rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis penuh, BMKG menyatakan bahwa keduanya tetap perlu diwaspadai karena menimbulkan dampak tidak langsung terhadap cuaca ekstrem di wilayah Indonesia.

Potensi Cuaca Ekstrem di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara

Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III, Cahyo Nugroho, mengatakan bibit Siklon Tropis 96S mulai terbentuk pada 14 Januari 2026 pukul 14.00 WITA, berdasarkan data dari Direktorat Meteorologi Publik.

Melalui InfoBMKG, BMKG menyampaikan bahwa dampak tidak langsung dari bibit 96S ini berpotensi memicu cuaca ekstrem di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara hingga Jumat, 16 Januari 2026 pukul 08.00 WITA.

BMKG memetakan potensi dampaknya sebagai berikut:

  • Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, termasuk di seluruh wilayah Bali.
  • Gelombang laut tinggi, dengan perkiraan mencapai 2,5 meter di Selat Lombok dan Selat Bali.
  • Gelombang yang lebih ekstrem hingga sekitar 4 meter berpeluang timbul di Samudera Hindia selatan Jawa Timur hingga selatan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Cahyo Nugroho menjelaskan bahwa bibit 96S bergerak ke arah barat daya, menjauhi wilayah Indonesia dalam periode 24 jam ke depan, namun dampak tidak langsungnya tetap dirasakan di daratan dan perairan sekitar Bali.

Dampak Lain dan Saran BMKG

Selain fenomena 96S, bibit Siklon Tropis 91W di Utara Maluku Utara juga memberi pengaruh pada cuaca Indonesia. BMKG mengimbau masyarakat di kawasan itu untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, gelombang tinggi, dan perubahan kondisi laut serta angin seiring pergerakan sistem tersebut.

BMKG menegaskan bahwa walaupun kedua bibit siklon ini cenderung tidak berkembang menjadi sistem siklon tropis kuat, kondisi atmosfer dan perairan tetap berpotensi menyebabkan gangguan seperti hujan lebat, gelombang tinggi, dan angin kencang di wilayah pesisir dan laut lepas selama periode pemantauan berlangsung.

BMKG terus melakukan pemantauan intensif terhadap kedua bibit siklon tersebut, termasuk pergerakan, karakteristik tekanan udara, dan kecenderungan perubahan intensitasnya. Semua informasi perkembangan ini disampaikan secara berkala melalui kanal resmi BMKG, termasuk InfoBMKG yang dapat diakses publik.

Kepala BBMKG Wilayah III mengingatkan warga, nelayan, dan pelaku transportasi laut agar tidak mengabaikan peringatan cuaca. Kesiapsiagaan terhadap potensi hujan deras, angin kuat, dan gelombang tinggi di perairan harus menjadi perhatian utama di daerah terdampak.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.