- • Meriyati Hoegeng, istri Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, wafat pada usia 100 tahun.
- • Meriyati dikenal sebagai istri dari Kapolri sederhana yang konsisten menjalankan hidup dalam prinsip kejujuran.
- • Kepergian Meriyati menutup satu bab penting sejarah figur keluarga Hoegeng yang kerap dijadikan teladan moral institusi Polri.
INFORMASI.COM, Jakarta - Meriyati Hoegeng, istri dari mantan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, wafat pada usia 100 tahun, pada Selasa (3/2/2026). Meriyati wafat setelah lama menjalani perawatan kesehatan akibat faktor usia lanjut.
Meriyati merupakan pendamping hidup Hoegeng Iman Santoso, sosok yang dikenal luas sebagai figur Kapolri paling bersih dan berintegritas dalam sejarah kepolisian Indonesia.
Kepergian Meriyati menjadi duka tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi masyarakat yang selama ini memandang keluarga Hoegeng sebagai simbol kejujuran dan kesederhanaan.
Menurut keterangan keluarga, Meriyati mengembuskan napas terakhir dalam keadaan tenang. Pihak keluarga menyampaikan bahwa kondisi kesehatan Meriyati memang menurun seiring bertambahnya usia, dan tidak terkait dengan penyakit akut tertentu.
“ Ibu Meriyati wafat pada usia 100 tahun. Mohon doa agar almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. ”
— Pihak keluarga Jenderal Hoegeng menyampaikan, di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Sosok Meriyati Hoegeng
Meriyati dikenal luas sebagai istri yang setia mendampingi Hoegeng Iman Santoso sejak awal karier kepolisian hingga masa pensiun. Dalam berbagai catatan dan wawancara yang pernah dipublikasikan, Meriyati kerap digambarkan sebagai sosok yang teguh memegang prinsip hidup sederhana, sejalan dengan nilai yang dianut sang suami.
Selama Hoegeng menjabat Kapolri pada periode 1968-1971, Meriyati memilih menjalani kehidupan yang jauh dari kemewahan. Ia menolak berbagai fasilitas yang dianggap berlebihan dan tetap mempertahankan pola hidup yang sama seperti sebelum Hoegeng menduduki jabatan tertinggi di institusi kepolisian.
Sikap tersebut kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari citra publik keluarga Hoegeng. Dalam berbagai kesempatan, Hoegeng sendiri pernah menyampaikan bahwa dukungan dan sikap istrinya berperan besar dalam menjaga konsistensi prinsip hidupnya selama bertugas.
Figur Keluarga yang Menjadi Teladan Polri
Dalam sejarah Polri, nama Hoegeng Iman Santoso sering disebut sebagai simbol integritas. Namun, citra tersebut tidak terlepas dari peran Meriyati sebagai pendamping yang konsisten menjaga nilai-nilai moral keluarga.
Hoegeng beberapa kali mengalami tekanan politik akibat sikap kerasnya terhadap pelanggaran hukum. Dalam situasi tersebut, Meriyati tetap memberikan dukungan penuh dan tidak pernah mendorong suaminya untuk mengambil jalan kompromi demi kenyamanan pribadi.
Peran Meriyati tidak muncul dalam jabatan formal, tetapi tercermin dalam sikap hidup yang dijalani keluarga Hoegeng secara utuh. Hal ini menjadikan Meriyati bukan sekadar istri pejabat, melainkan figur moral yang turut membentuk warisan nilai keluarga tersebut.