- • Gelombang protes atas menu MBG di hari pertama sekolah bulan Ramadan meluas dari berbagai daerah.
- • Wali murid mengeluhkan komposisi menu yang dinilai minim gizi dan tidak sesuai anggaran.
- • SPPG di sejumlah daerah pun buka suara, ada yang meminta maaf dan janji memperbaiki mutu, ada yang bilang sesuai anggaran.
INFORMASI.COM, Jakarta - Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada hari pertama sekolah di bulan Ramadan 1447 Hijriah, Senin (23/2/2026), yang seharusnya menjadi berkah justru berubah menjadi bulan-bulanan kritik.
Para wali murid, guru, dan masyarakat dari berbagai penjuru tanah air meluapkan kekecewaan terhadap menu yang diterima para siswa. Menu yang dibagikan dinilai jauh dari kata "bergizi" dan tidak mencerminkan nilai anggaran yang digelontorkan pemerintah.
Alih-alih makanan bergizi seimbang, para siswa menerima paket sederhana yang memicu pertanyaan publik tentang transparansi dan kualitas program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut.
Menanggapi gelombang protes itu, sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akhirnya buka suara. Ada yang meminta maaf, ada pula yang mengklaim telah menyalurkan menu sesuai standar Badan Gizi Nasional (BGN).
Protes dari Berbagai Daerah: Menu Minim dan Anggaran Dipertanyakan
Di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menu MBG dari SPPG Gagaksipat 2 menuai sorotan. Paket makanan berupa roti isi daging, sosis ayam, dan pisang ambon yang diterima salah satu PAUD dinilai kurang variatif. Ketua LSM Pengembangan Anak, Dewi Ritaningsih, mengungkapkan kekecewaannya setelah membuka langsung paket MBG di sekolah.
"Ini kurang memadai untuk tumbuh kembang anak," ujarnya singkat.
Sementara di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, keluhan datang bertubi-tubi. Luluk, wali murid dari Kecamatan Kota Bojonegoro, menyoroti menu anaknya yang hanya berisi roti kemasan, telur puyuh, dan dua buah rambutan.
"Ini hari pertama sekolah di bulan Ramadan. Saya berharap menunya lebih diperhatikan. Anak-anak memang puasa, tapi tetap butuh asupan yang baik untuk berbuka," ungkap Luluk.
Kondisi lebih parah terjadi di Kecamatan Purwosari. Indah, seorang wali murid, mengunggah foto menu MBG anaknya yang hanya berisi satu botol minuman probiotik dan sebungkus kacang sebagai menu berbuka. Warganet langsung bereaksi keras, memperkirakan nilai paket tersebut tak sampai Rp5.000.
"Itu nilainya berapa, sepertinya tak sampai Rp5 ribu, terus nilai gizinya dari mana?" tulis seorang warganet.
Di Kecamatan Temayang, Henny Puji Ningsih melaporkan bahwa paket MBG yang diberikan untuk tiga hari terdiri dari tiga butir telur, satu buah pir, dan satu porsi bubur ubi ungu. Ia mempertanyakan transparansi alokasi anggaran Rp15.000 per hari.
"Kami hanya ingin kejelasan, apakah sudah sesuai dengan anggaran. Kalau memang sesuai, tolong dijelaskan supaya kami paham," kata Henny.
Di Kota Palu, Sulawesi Tengah, seorang guru SDN 6 Kayumalue Ngapa menunjukkan paket MBG yang dibagikan untuk dua hari sekaligus. Menu hari pertama berisi susu, dua pisang, roti, dan empat telur puyuh. Sementara untuk hari berikutnya terdiri dari roti, tiga butir kurma, dan satu bungkus kacang.
Di Kota Blitar, Jawa Timur, menu MBG dari SPPG Tlumpu berupa satu roti burger, satu potong chicken katsu, satu bungkus keripik tahu, dan empat buah kelengkeng menuai protes keras. Ketua Komite SMAN 1 Kota Blitar, Sodiq Asrifin, menyampaikan kekecewaan mendalam.
"Sebagai wali murid sekaligus Komite, kami sangat menyesalkan menu MBG hari ini. Kami kecewa jika program Presiden Prabowo justru terkesan digembosi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab," tegasnya.
Menanggapi hal itu, mitra dapur SPPG Tlumpu, Mada Mahesa, membantah tudingan nilai menu tidak sesuai. Ia merinci harga komponen: roti bun Rp2.500, chicken katsu dan saus Rp4.000, keripik tahu Rp1.500, serta kelengkeng Rp2.000, yang jika ditotal mencapai Rp10.000 sesuai ketentuan.
Di Kabupaten Way Kanan, Lampung, seorang siswa SMA Negeri 3 Blambangan Umpu, Rahmat Kurniawan Munthe, menceritakan pengalamannya menerima MBG sekitar pukul 11.00 WIB. Paket yang diterimanya berisi pisang, roti, telur, kurma, dan puding, dikemas dalam tote bag yang harus dikembalikan. Ia bahkan melontarkan usulan agar MBG selama puasa lebih baik diganti uang tunai.
"Kalau bisa diganti uang saja dulu selama puasa, nanti setelah Ramadan baru makanan basah lagi," ungkapnya.
Respons SPPG: Ada yang Minta Maaf, Ada yang Klarifikasi
Menanggapi gelombang kritik yang menerpa, Koordinator SPPG Kabupaten Bojonegoro, Tommy, menyampaikan permohonan maaf. Ia mengakui adanya kekurangan dalam pelayanan dan kualitas mutu gizi yang diterima siswa di wilayahnya.
"Ke depan dan seterusnya untuk menu MBG pada bulan Ramadan akan kami lakukan perbaikan yang lebih baik dengan pengawasan mutu gizi sesuai standar yang ada," janji Tommy.
Pihak SPPG berkomitmen untuk memperketat pengawasan guna memastikan program MBG selama bulan Ramadan berjalan lebih optimal dan memberikan manfaat nyata bagi kesehatan siswa di Bojonegoro.
Sementara itu, Koordinator BGN Bulukumba, Wahyu, memberikan klarifikasi terkait anggaran yang menjadi sorotan publik. Ia menegaskan bahwa anggaran Rp15 ribu per porsi memang benar adanya. Namun, dana tersebut terbagi dalam beberapa kategori pembelanjaan, yakni bahan baku makanan, operasional SPPG, dan insentif fasilitas.
Untuk bahan baku makanan, anggaran dibagi menjadi dua kategori, yakni Rp8 ribu untuk porsi kecil (balita, TK, dan SD kelas 1–3) serta Rp10 ribu untuk porsi besar (SD kelas 4–6, SMP, SMA, ibu hamil, dan ibu menyusui). Nominal tersebut merupakan batas maksimal pembelanjaan bahan baku per porsi.
"Jika belanja bahan baku tidak mencapai batas maksimal, maka sisa anggaran tetap berada di virtual account," jelasnya.
Selain itu, terdapat anggaran operasional SPPG yang digunakan sesuai kebutuhan, termasuk untuk honor relawan atau pekerja, serta insentif bagi pemilik fasilitas.
Dengan demikian, Wahyu menegaskan bahwa anggapan di masyarakat yang menyebut anggaran Rp15 ribu per porsi dihabiskan seluruhnya untuk makanan adalah keliru.
"Anggaran tersebut telah diatur pembagiannya sesuai ketentuan yang berlaku," tegasnya.
Penyaluran di Lampung: Menu Kering dengan Sistem Tote Bag
Pelaksanaan program MBG di Lampung tetap berjalan selama bulan suci Ramadan dengan skema penyesuaian. Kepala SPPG Labuhan Ratu, Deni, menjelaskan bahwa perubahan tersebut merupakan tindak lanjut arahan dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Berdasarkan hasil rapat koordinasi, MBG untuk siswa sekolah selama Ramadan diberikan dalam bentuk menu kering dan tetap didistribusikan setiap hari. Anggaran tetap sesuai ketentuan, Rp10.000 dan Rp8.000 per porsi.
“Untuk sekolah tetap diantar pagi atau siang. Karena siswa sedang puasa, maka menunya berbentuk kering. Anggarannya tetap sesuai ketentuan, Rp 10.000 dan Rp 8.000 per porsi,” ujar Deni.
Khusus di SPPG Labuhan Ratu, menu kering yang dibagikan pada Senin (23/2) terdiri dari roti, susu, dan kurma. Susu yang diberikan tersedia dalam dua ukuran, yakni 200 mililiter dan 115 mililiter, menyesuaikan kategori anggaran.
Distribusi dilakukan menggunakan tote bag sesuai petunjuk teknis BGN. Tote bag tersebut digunakan secara bergantian atau sistem tukar pakai untuk efisiensi operasional.
“Setiap hari kita antar, lalu besoknya tote bag dikembalikan untuk dipakai lagi. Jadi tidak lagi menggunakan ompreng,” jelasnya.
Rangkaian keluhan dan klarifikasi ini menjadi catatan penting bagi pelaksanaan MBG di bulan Ramadan. Publik menanti langkah konkret dari seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan program yang menyasar jutaan siswa ini benar-benar memberikan manfaat sesuai tujuan awalnya: mencetak generasi Indonesia yang sehat dan cerdas.