- • Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memaparkan data astronomi penentuan awal bulan Syawal 1447 Hijriah.
- • Konjungsi atau ijtimak terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23.23 WIB sebelum matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia.
- • Posisi hilal di Indonesia saat matahari terbenam berada pada ketinggian 0,91° hingga 3,13°, elongasi 4,54° – 6,1°.
INFORMASI.COM, Jakarta - Salah satu sistem penanggalan yang digunakan manusia untuk mengatur waktu adalah kalender bulan Qomariyah atau kalender Hijriah. Sistem ini didasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi serta pergerakan Bumi bersama Bulan mengelilingi Matahari.
Penentuan awal bulan Hijriah memiliki arti penting bagi umat Islam karena berkaitan langsung dengan waktu pelaksanaan ibadah, terutama pada bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.
Dalam proses tersebut, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memiliki peran memberikan layanan informasi ilmiah terkait tanda waktu serta posisi Matahari dan Bulan.
BMKG juga menyampaikan pertimbangan ilmiah kepada para pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Agama Republik Indonesia, dalam proses penentuan awal bulan Hijriah.
Selain menyajikan data hilal berdasarkan metode hisab atau perhitungan astronomi, BMKG juga melaksanakan rukyat atau pengamatan langsung hilal di 37 titik di seluruh Indonesia. Kegiatan observasi tersebut dapat disaksikan secara langsung melalui siaran daring di kanal hilal BMKG setiap bulan.
Untuk penentuan awal bulan Syawal 1447 Hijriah, BMKG memaparkan sejumlah parameter astronomi yang menjadi dasar pengamatan hilal saat matahari terbenam.
Secara astronomis, peristiwa konjungsi geosentrik atau ijtimak terjadi ketika bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari dengan asumsi pengamat berada di pusat Bumi.
Peristiwa tersebut akan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 01.23.23 UT atau pukul 08.23.23 WIB, 09.23.23 WITA, dan 10.23.23 WIT. Pada saat itu, nilai bujur ekliptika Matahari dan Bulan tercatat sama, yaitu 358,45 derajat.
Periode sinodis Bulan yang dihitung sejak konjungsi sebelumnya, yakni awal Ramadan 1447 Hijriah, hingga konjungsi berikutnya yang menandai awal Syawal 1447 Hijriah tercatat selama 29 hari 13 jam 22 menit.
Pada tanggal yang sama, waktu matahari terbenam di Indonesia bervariasi di setiap wilayah. Matahari terbenam paling awal terjadi pukul 17.48.13 WIT di Waris, sedangkan waktu terbenam paling akhir tercatat pukul 18.49.39 WIB di Banda Aceh.
Dengan memperhatikan waktu konjungsi dan waktu terbenam matahari tersebut, konjungsi dipastikan terjadi sebelum matahari terbenam pada 19 Maret 2026 di seluruh wilayah Indonesia.
Berdasarkan kondisi tersebut, pelaksanaan rukyat hilal bagi pihak yang menggunakan metode pengamatan dapat dilakukan setelah matahari terbenam pada tanggal tersebut.
Sementara itu, bagi pihak yang menggunakan metode hisab, perhitungan awal bulan Syawal tetap mempertimbangkan parameter astronomi hilal pada saat matahari terbenam pada 19 Maret 2026.
Data BMKG menunjukkan bahwa ketinggian hilal di Indonesia saat matahari terbenam berada pada kisaran 0,91 derajat di Merauke hingga 3,13 derajat di Sabang.
Parameter elongasi geosentris hilal tercatat berada pada rentang 4,54 derajat di Waris hingga 6,1 derajat di Banda Aceh.
Selain itu, umur Bulan saat matahari terbenam berkisar antara 7,41 jam di Waris hingga 10,44 jam di Banda Aceh. Nilai lag atau selang waktu antara matahari terbenam dan bulan terbenam berada pada rentang 5,6 menit di Merauke hingga 15,66 menit di Sabang.
BMKG juga mencatat fraksi iluminasi Bulan pada saat tersebut berada pada kisaran 0,13 persen di Jayapura hingga 0,22 persen di Sinabang.
Pada periode sejak matahari terbenam hingga Bulan terbenam pada 19 Maret 2026, objek Saturnus juga berada pada jarak sudut kurang dari 10 derajat dari Bulan.
Sementara itu, negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam kerja sama MABIMS menggunakan kriteria imkanur rukyat dalam penentuan awal bulan Hijriah.
Kriteria tersebut menetapkan bahwa hilal dapat dianggap memenuhi syarat apabila memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Berdasarkan data pengamatan BMKG, posisi hilal pada 19 Maret malam di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, belum mencapai batas minimal yang ditetapkan dalam kriteria tersebut. Terlebih di elongasinya.
Elongasi adalah jarak sudut antara Bulan dan Matahari yang dilihat dari Bumi. Nilai ini sangat menentukan apakah hilal (bulan sabit pertama) bisa terlihat setelah matahari terbenam atau tidak.
Dalam astronomi, semakin besar elongasi, semakin jauh posisi Bulan dari Matahari di langit, sehingga cahaya sabit Bulan lebih mudah terlihat. Sebaliknya, jika elongasi kecil, hilal sangat sulit terlihat karena masih terlalu dekat dengan cahaya Matahari.
Meski demikian, untuk penentuan 1 Syawal 1447 H sebagai Idulfitri akan ditetapkan pemerintah melalui Kementerian Agama melalui sidang isbat pada 19 Maret 2026. Apakah Idulfitri versi pemerintah jatuh pada 20 Maret atau 21 Maret 2026? Tunggu keputusan pada sidang isbat.