Profil Sherly Tjoanda: Gubernur Maluku Utara dengan Gurita Bisnis dari Tambang hingga Perhotelan

Profil Sherly Tjoanda: Gubernur Maluku Utara dengan Gurita Bisnis dari Tambang hingga Perhotelan
Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara.
Ikhtisar
  • Sherly Tjoanda merupakan pengusaha yang beralih ke politik dan menjabat sejak 2025.
  • Portofolio bisnisnya mencakup sektor tambang, perhotelan, logistik, hingga perikanan.
  • Sebagian besar aset dan bisnis berasal dari warisan mendiang suaminya, Benny Laos.

INFORMASI.COM, Jakarta - Sherly Tjoanda menempati posisi teratas dalam daftar gubernur dengan kekayaan terbesar di Indonesia berdasarkan data Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara periode 2025–2026. Total kekayaannya tercatat mencapai Rp972 miliar.

Sherly Tjoanda lahir di Ambon pada 1982. Ia menempuh pendidikan di Universitas Kristen Petra Surabaya dengan jurusan International Business Management, kemudian melanjutkan studi ke Inholland University di Belanda.

Bekal pendidikan bisnis tersebut menjadi fondasi awal kariernya di dunia usaha sebelum masuk ke ranah politik. Dalam perjalanan hidupnya, ia menikah dengan Benny Laos pada 2005 dan memiliki tiga anak.

Perubahan arah karier terjadi setelah Benny Laos meninggal pada 2024. Sherly kemudian melanjutkan pencalonan dan terpilih sebagai gubernur, sekaligus menjadi perempuan pertama yang memimpin Maluku Utara.

Dari Perusahaan Keluarga hingga Sektor Ekstraktif

Sebelum menjabat sebagai kepala daerah, Sherly dikenal aktif mengelola berbagai bisnis keluarga. Ia tercatat sebagai direktur di PT Bela Group, perusahaan yang menjadi payung sejumlah unit usaha.

Portofolio bisnisnya tersebar di berbagai sektor strategis, antara lain:

  • Perhotelan: pengelolaan hotel melalui jaringan usaha di bawah Bela Group
  • Pertambangan: nikel, emas, dan tembaga di wilayah Maluku Utara
  • Logistik dan pelayaran: mendukung distribusi dan aktivitas industri
  • Perikanan: sektor ekonomi berbasis sumber daya laut

Salah satu entitas penting adalah PT Karya Wijaya, di mana Sherly tercatat sebagai pemegang saham terbesar. Perusahaan ini memiliki konsesi tambang di Halmahera dengan izin operasional jangka panjang.

Selain itu, ia juga dikaitkan dengan perusahaan tambang lain seperti PT Amazing Tabara dan PT Indonesia Mas Mulia.

Sebagian besar bisnis yang kini terkait dengan Sherly berasal dari jaringan usaha yang dibangun bersama suaminya. Setelah wafatnya Benny Laos, kepemilikan saham perusahaan diwariskan kepada Sherly dan anak-anaknya.

Sherly menegaskan bahwa kepemilikan tersebut merupakan hasil warisan, bukan akumulasi baru setelah menjabat sebagai gubernur. Ia juga menyatakan telah mundur dari kepengurusan aktif perusahaan sebelum dilantik untuk menghindari konflik kepentingan.

Keterkaitan antara jabatan publik dan jaringan bisnis membuat nama Sherly kerap menjadi sorotan. Sejumlah pihak menilai adanya potensi konflik kepentingan, terutama di sektor pertambangan yang memiliki hubungan erat dengan kebijakan daerah.

Di sisi lain, Sherly menyatakan bahwa dirinya tidak lagi terlibat dalam operasional perusahaan dan hanya berstatus sebagai pemegang saham, sesuai ketentuan bagi pejabat publik.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.