Jasa Marga Siapkan Buka-Tutup Rest Area Arah Jakarta, KM 62B dan KM 52B Titik Perhatian

Jasa Marga Siapkan Buka-Tutup Rest Area Arah Jakarta, KM 62B dan KM 52B Titik Perhatian
Ilustrasi rest area
Ikhtisar
  • Jasa Marga akan menerapkan skema buka-tutup di sejumlah rest area di Tol Japek arah Jakarta pada 28-29 Maret.
  • Buka-tutup itu dilakukan untuk mengurangi kepadatan di jalur utama tol saat arus mudik dan balik.
  • Rest area KM 62B dan KM 52B menjadi titik yang dipantau ketat.

INFORMASI.COM, Jakarta - Jasa Marga menyiapkan skema buka-tutup di beberapa rest area ruas tol arah Jakarta sebagai langkah antisipasi untuk menahan penumpukan kendaraan di jalur utama. Kebijakan ini akan diberlakukan secara situasional, terutama ketika arus kendaraan menuju titik istirahat mulai mengganggu kelancaran lalu lintas.

Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, mengatakan rest area KM 62B dan KM 52B masuk dalam daftar lokasi yang berpotensi diterapkan pengaturan tersebut. Menurut dia, kebijakan itu diambil karena arus kendaraan di jalur tertentu sudah sangat padat dan membutuhkan pengendalian langsung di lapangan.

“Rest area 62B maupun 52B pasti akan kami nyatakan opsional untuk dibuka tutup,” ujar Rivan di Cikarang Utara, Jumat (27/3/2026).

Rivan menjelaskan, kepadatan lalu lintas di sekitar KM 66 sudah menyentuh angka 1 juta kendaraan atau sekitar 45 persen dari total pergerakan kendaraan yang terpantau. Angka itu menunjukkan bahwa tekanan arus tidak hanya terjadi di badan jalan, tetapi juga berimbas pada titik-titik layanan pengguna jalan seperti rest area.

Dalam kondisi seperti itu, kendaraan yang memaksa masuk ke area istirahat justru berisiko memperparah antrean di lajur utama. Karena itu, Jasa Marga meminta pengguna jalan untuk tidak terpaku pada satu lokasi pemberhentian, terutama ketika area tersebut sudah penuh.

Rivan menyebut ada beberapa rest area lain yang juga berpotensi memicu kepadatan. Titik-titik itu antara lain berada di KM 229, KM 208, dan KM 164. Menurut dia, pengguna jalan sebaiknya mulai menyusun rencana berhenti lebih awal atau menggeser lokasi istirahat ke titik yang masih lebih longgar.

Rest area yang menjadikan kepadatan terutama mulai dari rest area KM 229, kemudian KM 208, dan KM 164. Atas kondisi inilah kemudian, dengan parameter yang sudah ditentukan, maka kami mengimbau kepada masyarakat juga mempersiapkan, karena sebelum KM 229, juga ada KM 360, KM 380, atau setelahnya di KM 130 bisa digunakan.

Dengan pola pergerakan kendaraan yang terus berubah, Jasa Marga juga meminta pemudik untuk memanfaatkan aplikasi Travoy sebelum memasuki rest area. Langkah ini dinilai penting agar pengguna jalan tidak salah memilih lokasi berhenti, khususnya saat membutuhkan fasilitas tertentu seperti bahan bakar atau pengisian daya kendaraan listrik.

Rivan mengingatkan bahwa tidak semua rest area memiliki fasilitas yang sama. Ia mencontohkan rest area tipe B yang tidak menyediakan SPBU, sehingga pengemudi bisa terjebak masuk ke lokasi yang ternyata tidak sesuai kebutuhan perjalanan mereka.

“Karena beberapa tipe rest area, contohnya tipe B yang tidak ada SPBU, sudah masuk tapi enggak mendapatkan, maka di dalam Travoy tersebut masyarakat bisa mengetahui di mana ada SPBU atau SPKLU,” kata Rivan.

Ia menambahkan, informasi digital itu bisa membantu pemudik mengambil keputusan lebih cepat tanpa harus menambah beban antrean di rest area yang tidak menyediakan layanan yang dicari.

“Masyarakat bisa mengetahui di mana ada SPBU atau SPKLU, sehingga tidak perlu masuk malah tidak bisa melakukan pengisian atau charging,” tambahnya.

Di tengah potensi lonjakan arus kendaraan, Jasa Marga berharap pengguna jalan tidak hanya mengandalkan kondisi di lapangan, tetapi juga aktif memantau informasi lalu lintas dan fasilitas pendukung melalui aplikasi. Dengan cara itu, keputusan untuk berhenti di rest area bisa dilakukan lebih terukur dan tidak memperparah kepadatan di ruas tol arah Jakarta.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.