Kenapa Cuaca Jabodetabek Terasa Panas Menyengat? BMKG: Suhu 36 Derajat hingga Awal Mei

Kenapa Cuaca Jabodetabek Terasa Panas Menyengat? BMKG: Suhu 36 Derajat hingga Awal Mei
Ilustrasi cuaca panas. Foto: Istimewa
Ikhtisar
  • BMKG mencatat suhu maksimum di Jabodetabek mencapai 35 hingga 36 derajat Celsius dalam beberapa hari terakhir, terutama di wilayah Jakarta Utara.
  • Kondisi panas ini dipengaruhi oleh posisi semu matahari di sekitar khatulistiwa, minimnya tutupan awan, serta dominasi angin timuran kering dari Australia.
  • BMKG memprediksi cuaca terik masih akan berlangsung hingga awal Mei 2026 dan mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas luar ruangan pada siang hari.

INFORMASI.COM, Jakarta - Warga Jabodetabek belakangan ini mengeluhkan udara panas yang terasa lebih menyengat dari biasanya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun angkat bicara.

Lembaga tersebut menyebut suhu udara di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekas itu memang mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa hari terakhir.

Keluhan warga itu sempat ramai di media sosial. Seorang netizen di platform X menulis pertanyaan, "di tempat kalian panas banget nggak sih." Netizen lain menimpali dengan nada bercanda, "Guys ini panas engap gada angin, sampai kapan sih, takut berubah jadi naga."

Menanggapi fenomena itu, Prakirawan cuaca BMKG, Rira Damanik, mengungkapkan data aktual di lapangan. Suhu maksimum terpantau mencapai 35 hingga 36 derajat Celsius, terutama di wilayah Jakarta Utara dan sekitarnya. Kondisi ini, menurut Rira, tidak terjadi secara kebetulan.

Salah satu pemicu utamanya adalah posisi semu matahari yang sedang berada di sekitar garis khatulistiwa. Akibatnya, intensitas penyinaran matahari di wilayah Indonesia sedang dalam titik maksimum. Faktor ini kemudian diperparah oleh minimnya tutupan awan. Langit yang cenderung cerah membuat radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa hambatan.

Selain dua faktor itu, Rira juga menyoroti peran angin timuran yang berasal dari Australia. Sifat angin tersebut kering dan menghambat proses pembentukan awan, khususnya di wilayah selatan ekuator, termasuk Jabodetabek. Meski kondisi terasa ekstrem, Rira membantah anggapan bahwa Indonesia sudah menghadapi fenomena El Nino. Ia menegaskan bahwa kondisi yang terjadi saat ini merupakan dinamika cuaca musiman biasa.

BMKG memprediksi cuaca panas dan terik masih akan berlangsung hingga awal Mei 2026, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator. Untuk mengantisipasi dampak buruk, lembaga itu mengimbau masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari. Warga juga disarankan menggunakan pelindung seperti topi atau payung serta memperbanyak konsumsi air putih.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.