Badan Geologi Pastikan Video Erupsi Gunung Anak Krakatau dari Atas Kapal adalah Hoaks, Radius Bahaya Tetap 3 Kilometer

Badan Geologi Pastikan Video Erupsi Gunung Anak Krakatau dari Atas Kapal adalah Hoaks, Radius Bahaya Tetap 3 Kilometer
Gunung Anak Krakatau
Ikhtisar
  • Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan video yang diklaim memperlihatkan erupsi Gunung Anak Krakatau dari atas kapal merupakan informasi palsu atau hoaks.
  • Hasil verifikasi menunjukkan aktivitas terbaru Gunung Anak Krakatau hanya berupa dua erupsi kecil dengan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak.
  • Pemerintah menegaskan radius bahaya Gunung Anak Krakatau masih tetap 3 kilometer dan meminta masyarakat tidak mudah percaya informasi yang belum terverifikasi.

INFORMASI.COM, Jakarta - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa video yang beredar di sejumlah media sosial dan diklaim memperlihatkan erupsi Gunung Anak Krakatau dari atas kapal bukan merupakan rekaman aktivitas terbaru gunung api tersebut.

Video berdurasi kurang dari satu menit itu memperlihatkan sedikitnya dua orang merekam letusan gunung berapi yang disertai kilatan cahaya saat berada di atas sebuah kapal. Rekaman tersebut kemudian beredar luas dengan narasi yang mengaitkannya dengan aktivitas terkini Gunung Anak Krakatau.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan pihaknya telah melakukan verifikasi teknis terhadap video tersebut. Hasil pemeriksaan memastikan rekaman itu bukan berasal dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda.

"Masyarakat diimbau untuk tidak mempercayai maupun menyebarluaskan video yang belum terverifikasi. Seluruh informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau hanya disampaikan melalui kanal resmi Badan Geologi, PVMBG, dan MAGMA Indonesia," kata Lana dalam keterangan di Jakarta, Minggu.

Lana menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan Badan Geologi, Gunung Anak Krakatau hanya mengalami dua kali erupsi dalam beberapa hari terakhir. Erupsi pertama terjadi pada Kamis (2/7) pukul 14.05 WIB, sedangkan erupsi kedua berlangsung pada Jumat (3/7) pukul 11.50 WIB.

Pada kedua kejadian tersebut, tinggi kolom abu yang teramati mencapai sekitar 200 meter di atas puncak gunung. Tidak ditemukan aktivitas erupsi besar seperti yang tergambar dalam video yang beredar di media sosial.

Selain meluruskan informasi mengenai video, Badan Geologi juga mengklarifikasi kabar yang menyebut radius aman Gunung Anak Krakatau telah diperluas menjadi 5 kilometer. Lana menegaskan informasi tersebut tidak benar.

Menurutnya, hingga saat ini status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga dengan rekomendasi zona bahaya tetap dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi.

Dalam rekomendasi tersebut, masyarakat, wisatawan, pendaki, maupun nelayan diminta tidak memasuki atau melakukan aktivitas di dalam radius 3 kilometer. Larangan itu diberlakukan untuk menghindari potensi bahaya berupa lontaran batu pijar, aliran lava, awan panas, maupun hujan abu dengan intensitas tinggi.

Badan Geologi juga meminta masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Provinsi Banten dan Lampung agar tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang mengaitkan aktivitas Gunung Anak Krakatau dengan potensi tsunami tanpa dasar ilmiah.

Lana mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk selalu mengacu pada informasi resmi yang diperbarui secara berkala melalui situs Penyelidikan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) maupun aplikasi MAGMA Indonesia.

"Juga dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat," kata dia menambahkan.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.