Kepala BGN: Keracunan MBG di Papua karena Dimasak Terlalu Cepat, Lama Disimpan

Kepala BGN: Keracunan MBG di Papua karena Dimasak Terlalu Cepat, Lama Disimpan
Sejumlah petugas SPPG menyiapkan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Tunggala Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (29/9/2025). ANTARA FOTO/Andry Denisah/rwa.
Ikhtisar
  • Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyebut kasus keracunan MBG di Papua terjadi karena makanan dimasak terlalu dini dan dikonsumsi melewati waktu aman.
  • Sebagian siswa membawa pulang makanan MBG sehingga hidangan yang seharusnya disantap di sekolah sudah tidak layak saat dikonsumsi.
  • BGN akan memperketat standar distribusi MBG dengan menetapkan batas waktu konsumsi serta memperkuat edukasi di sekolah.

INFORMASI.COM, Jakarta - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkap penyebab munculnya kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua. Ia menyebut persoalan tersebut terjadi karena proses memasak dan distribusi makanan belum berjalan sesuai standar keamanan pangan.

Menurut Sudaryono, sejumlah dapur MBG atau satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di Papua memasak makanan sejak malam sebelum dibagikan kepada siswa. Jarak waktu yang terlalu panjang membuat kualitas makanan menurun sebelum dikonsumsi.

"Masaknya kecepetan, kemudian saat dibawa itu sudah dalam kondisi rusak," kata Sudaryono kepada wartawan seusai rapat di kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Kamis (6/8/2026).

Ia menjelaskan, ada dapur MBG yang mulai memasak sekitar pukul 19.00 pada hari sebelumnya, kemudian makanan baru diberikan kepada siswa pada sekitar pukul 11.00 keesokan harinya. Kondisi tersebut membuat makanan berisiko mengalami kerusakan sebelum sampai ke penerima manfaat.

Selain masalah waktu produksi, BGN juga menemukan adanya siswa yang membawa pulang makanan MBG dan baru mengonsumsinya beberapa jam kemudian. Padahal, makanan tersebut seharusnya dimakan saat jam makan di sekolah.

"Yang harusnya dimakan jam 11, dia bawa pulang dan baru dimakan pukul 15.00 WIB atau pukul 16.00 WIB, jadi sudah rusak," ujar Sudaryono.

Menurut dia, kebiasaan membawa pulang makanan juga membuat risiko keracunan meluas. Makanan yang sudah tidak segar kemudian ikut dikonsumsi oleh anggota keluarga siswa.

"Yang kemudian keracunan bukan hanya anaknya, tetapi juga bapak, ibunya, atau saudaranya yang ikut makan," jelasnya.

Untuk mencegah kasus serupa, BGN akan membuat standar waktu konsumsi MBG dari proses memasak hingga makanan diterima dan disantap oleh siswa. Salah satu aturan yang akan diterapkan adalah batas waktu aman konsumsi atau best before.

Sudaryono mengatakan proses pengiriman makanan harus mengikuti standar waktu yang ketat agar kualitas makanan tetap terjaga.

"Tidak boleh lebih dari 4 jam kalau tidak salah, sehingga ada best before atau 'sebaiknya dikonsumsi sebelum'," tegasnya.

Selain memperbaiki sistem distribusi, BGN juga akan memperkuat edukasi di lingkungan sekolah. Salah satu rencana yang disiapkan adalah melibatkan guru dalam kegiatan makan bersama siswa.

Sudaryono mengatakan guru tidak perlu menangani distribusi makanan karena sekolah akan memiliki penanggung jawab khusus atau PIC. Namun, guru dapat ikut makan bersama siswa untuk memberikan contoh mengenai kebiasaan makan yang baik.

"Guru yang mengajar di kelas itu juga mendapatkan MBG tanpa direpotkan," ucapnya.

Ia menambahkan, guru juga akan memberikan edukasi mengenai pentingnya gizi serta mengingatkan siswa agar tidak membawa pulang makanan MBG.

"Edukasi agar barang ini jangan dibawa pulang. Maksud saya, ini penting untuk tidak dibawa pulang," imbuhnya.

Sudaryono menyebut rencana edukasi tersebut telah dibahas bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti agar dapat diterapkan di sekolah-sekolah.

Menurut dia, makanan MBG tidak menggunakan bahan pengawet sehingga lebih mudah basi apabila tidak ditangani sesuai prosedur, terutama di wilayah dengan suhu udara tinggi.

"Makanan ini tidak ada pengawetnya, pasti cepat basi kalau tidak sesuai," kata Sudaryono.

Karena itu, BGN akan memperkuat pemahaman sekolah dan penerima manfaat mengenai cara penyimpanan serta waktu konsumsi makanan MBG. Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah kembali terjadinya kasus keracunan dalam program makanan gratis pemerintah.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.