- • Kemarau panjang menyebabkan muka air dan debit Sungai Barito di Kalimantan Tengah mengalami penurunan.
- • Sejumlah titik sungai mengalami pendangkalan dan muncul hamparan pasir.
- • Video yang memperlihatkan bagian tengah Sungai Barito menyerupai gurun pasir di kawasan Jembatan Kalahien, Kabupaten Barito Selatan, viral di media sosial.
INFORMASI.COM, Jakarta - Pemandangan tak biasa terlihat di Sungai Barito, Kalimantan Tengah. Hamparan pasir yang muncul di tengah aliran sungai membuat sebagian kawasan perairan tampak seperti daratan luas, bahkan menyerupai gurun pasir atau pantai.
Fenomena tersebut terlihat di bawah Jembatan Kalahien, Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan. Kemunculan gosong pasir itu terjadi setelah debit air Sungai Barito menyusut akibat musim kemarau panjang yang melanda wilayah tersebut.
Warga sekitar menyebut kondisi surutnya Sungai Barito mulai terlihat cukup parah sejak awal Agustus. Penurunan muka air membuat beberapa bagian sungai mengalami pendangkalan hingga memunculkan daratan baru di tengah aliran.
Kondisi tersebut turut berdampak terhadap aktivitas transportasi sungai. Kapal yang biasanya menggunakan Sungai Barito sebagai jalur pergerakan harus mengurangi kecepatan, mencari jalur yang masih memiliki kedalaman cukup, bahkan tertahan ketika permukaan air terlalu dangkal.
19 Juli 2026 pic.twitter.com/jjOMO0FpjR
— sandi widjaja (@sandiwidjaja) August 7, 2026
Namun, Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III memastikan kemunculan hamparan pasir tersebut tidak berarti Sungai Barito mengalami kekeringan secara keseluruhan.
Berdasarkan pemantauan langsung yang dilakukan BWS Kalimantan III pada Jumat, kondisi Sungai Barito memang mengalami penurunan muka air dan debit akibat musim kemarau. Pemantauan itu dilakukan setelah beredarnya video di media sosial yang memperlihatkan bagian tengah sungai dipenuhi hamparan pasir.
Hasil pemeriksaan di lapangan menunjukkan sejumlah bagian sungai mengalami penyusutan aliran sehingga muncul gosong pasir dengan area yang cukup luas. Namun, alur utama Sungai Barito masih memiliki aliran air.
Di kawasan pemantauan sekitar Kalahien, lebar alur utama sungai diperkirakan masih mencapai sekitar 100 meter dan tetap dapat dilalui oleh kapal maupun perahu yang beraktivitas di jalur tersebut.
Kepala BWS Kalimantan III Sandi Eriyanto menjelaskan, fenomena yang terlihat dalam video merupakan bagian sungai yang tidak lagi tertutup air akibat turunnya permukaan Sungai Barito.
“Memang ada penyusutan debit air Sungai Barito akibat musim kemarau. Namun hamparan pasir yang terlihat merupakan bagian sungai yang tidak teraliri air karena muka air turun,” kata Sandi.
Menurut dia, sudut pengambilan gambar menjadi salah satu faktor yang membuat kondisi Sungai Barito terlihat seperti mengalami kekeringan luas. Dokumentasi tersebut diambil dari atas Jembatan Kalahien sehingga hamparan gosong pasir terlihat lebih dominan.
Meski demikian, Kementerian Pekerjaan Umum melalui BWS Kalimantan III menegaskan alur utama Sungai Barito di sekitar Kecamatan Dusun Selatan masih berair dan tetap bisa digunakan untuk aktivitas transportasi sungai.
BWS Kalimantan III terus melakukan pemantauan terhadap kondisi muka air dan alur Sungai Barito, terutama selama periode musim kemarau. Pemantauan dilakukan untuk melihat perkembangan kondisi sungai sekaligus mengantisipasi dampaknya terhadap aktivitas masyarakat.
Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar tidak menarik kesimpulan hanya berdasarkan satu dokumentasi visual dari sudut tertentu. Kondisi sungai perlu dilihat secara menyeluruh berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan.
Penurunan muka air dan munculnya gosong pasir merupakan fenomena yang dapat terjadi pada sejumlah bagian sungai ketika musim kemarau berlangsung. Untuk Sungai Barito di wilayah Kalahien, aliran utama masih tersedia dan tetap mendukung aktivitas transportasi sungai.