- • BNPB mencatat 142 orang meninggal akibat gempa M7,7 di Nusa Tenggara Timur pada 15 September 2026.
- • Dari jumlah tersebut, 94 orang meninggal saat berada di pengungsian akibat dampak tidak langsung bencana.
- • Hingga 15 September 2026, sebanyak 46.461 warga masih mengungsi dan 103.427 rumah dilaporkan mengalami kerusakan.
INFORMASI.COM, Jakarta – Sebulan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), dampak bencana masih dirasakan puluhan ribu warga. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 142 orang meninggal dunia hingga 15 September 2026.
Dari jumlah tersebut, 48 orang meninggal secara langsung akibat gempa, sedangkan 94 lainnya meninggal saat berada di lokasi pengungsian akibat dampak tidak langsung bencana. Data tersebut juga mencatat 1.603 orang mengalami luka-luka dan 46.461 warga masih bertahan di pengungsian.
Salah satu korban yang meninggal setelah berada di pengungsian adalah Mario Calviano Guru, balita berusia dua tahun asal Kabupaten Nagekeo.
Mario mengungsi bersama kedua orang tuanya di Bukit Puta sejak hari pertama gempa. Saat berada di pengungsian, kondisi kesehatan Mario memburuk. Ia mengalami demam tinggi hingga kejang-kejang dan kemudian dibawa untuk mendapatkan perawatan medis.
Mario sempat menjalani perawatan di RSUD Aeramo, Nagekeo. Karena kondisinya terus memburuk, ia kemudian dirujuk ke RSUD Bajawa, Kabupaten Ngada.
Setelah menjalani perawatan, Mario meninggal dunia pada 20 Agustus 2026.
Informasi yang disampaikan dalam materi kasus tersebut menyebut Mario mengalami sakit selama berada di pengungsian. Namun, belum terdapat keterangan medis yang secara eksplisit memastikan penyebab kematiannya sebagai hipotermia.
Puluhan Ribu Warga Masih Mengungsi
Gempa M7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026 menimbulkan dampak besar di sejumlah wilayah NTT. Pada fase awal penanganan, BNPB melaporkan ribuan warga harus mengungsi. Data terus berubah seiring proses pendataan dan pemutakhiran kondisi di lapangan.
Sebulan setelah gempa, masih ada 46.461 warga yang mengungsi. Selain korban meninggal dan luka-luka, kerusakan juga terjadi pada rumah serta berbagai fasilitas publik.
BNPB mencatat sebanyak 103.427 rumah mengalami kerusakan. Sejumlah fasilitas pendidikan, rumah ibadah, fasilitas kesehatan, perkantoran, jalan, hingga fasilitas irigasi juga terdampak.
Besarnya jumlah korban yang meninggal saat berada di pengungsian turut menjadi perhatian dalam evaluasi penanganan bencana. Data tersebut menunjukkan bahwa dampak gempa tidak berhenti ketika guncangan berakhir, tetapi juga berlanjut selama warga berada dalam kondisi pengungsian.