- • Layanan Healing119 milik Kementerian Kesehatan kini menerima sekitar 500–600 kontak per hari, naik dari sekitar 350–400 kontak ketika layanan kembali diaktifkan pada Juli 2025.
- • Selama lebih dari setahun beroperasi, jumlah kontak yang masuk melalui telepon dan WhatsApp telah mencapai lebih dari 220 ribu.
- • Pengguna layanan banyak berasal dari kelompok usia muda. Bahkan, Healing119 telah diakses anak berusia 8–10 tahun, dengan kesepian menjadi salah satu persoalan yang ditemukan pada pengguna usia remaja.
INFORMASI.COM, Jakarta — Layanan kesehatan jiwa Healing119 milik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengalami lonjakan akses dalam beberapa bulan terakhir. Kanal dukungan psikologis yang dapat digunakan masyarakat melalui telepon maupun WhatsApp itu kini menerima sekitar 500 hingga 600 kontak setiap hari.
Angka tersebut meningkat dibandingkan ketika Healing119 kembali diaktifkan pada Juli 2025. Pada masa awal pengoperasian kembali, jumlah kontak yang masuk berada di kisaran 350-400 per hari. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan jumlah pengguna terus meningkat sejak Februari 2026.
Dalam lebih dari satu tahun beroperasi, Healing119 telah menerima lebih dari 220 ribu kontak melalui berbagai kanal yang tersedia. Bagi Kemenkes, peningkatan tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat yang mengetahui dan menggunakan layanan ketika membutuhkan bantuan terkait kondisi psikologis. Namun, pada saat yang sama, kenaikan jumlah kontak juga menggambarkan besarnya kebutuhan terhadap dukungan kesehatan jiwa yang mudah diakses.
Healing119 sendiri bukan layanan terapi jangka panjang. Kemenkes mengembangkan kanal tersebut sebagai dukungan psikologis awal bagi masyarakat yang mengalami tekanan emosional, keputusasaan, pikiran untuk mengakhiri hidup, atau kondisi krisis psikologis. Pengguna dapat memperoleh dukungan awal sekaligus diarahkan menuju layanan kesehatan yang lebih lanjut apabila diperlukan.
Banyak Pengguna Berusia Muda
Lonjakan akses tersebut juga terlihat dari kelompok usia yang menggunakan Healing119. Layanan ini tidak hanya dimanfaatkan orang dewasa, tetapi telah menjangkau remaja hingga anak-anak.
Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPKI) menyebut pengguna termuda yang tercatat menghubungi Healing119 berada pada rentang 8–10 tahun. Pada kelompok remaja awal, salah satu persoalan yang banyak ditemukan adalah kesepian, terutama pada usia 12–14 tahun.
Temuan tersebut membuat persoalan kesehatan jiwa tidak lagi dapat dilihat hanya sebagai isu yang muncul ketika seseorang sudah berada dalam kondisi berat. Akses anak dan remaja ke layanan dukungan psikologis menunjukkan bahwa persoalan emosional juga muncul pada usia yang lebih muda dan membutuhkan perhatian dari lingkungan terdekat.
Data operasional Healing119 periode 31 Juli 2025 hingga 31 Juli 2026 juga menunjukkan kelompok usia muda cukup dominan dalam data pengguna yang menyampaikan keinginan untuk mengakhiri hidup. Dari 3.036 orang yang tercatat dalam kategori tersebut, sebanyak 54,08 persen berada pada usia 21–30 tahun dan 33,04 persen berada pada usia 11–20 tahun.
Data tersebut merupakan catatan pengguna layanan Healing119 yang menyampaikan keinginan mengakhiri hidup, sehingga tidak dapat disamakan dengan angka kematian akibat bunuh diri. Angka itu menunjukkan profil orang yang mencari bantuan melalui layanan tersebut, bukan jumlah keseluruhan kasus bunuh diri di Indonesia.
Apa Saja Masalah yang Dibawa ke Healing119?
Krisis yang dibawa pengguna ke layanan ini tidak selalu muncul dalam bentuk persoalan yang sama. Kemenkes menyebut masalah keluarga menjadi salah satu faktor yang banyak ditemukan, disusul persoalan seperti perundungan dan masalah ekonomi.
Pada kelompok usia muda, kesepian menjadi salah satu persoalan yang cukup menonjol. Konsultasi yang masuk menunjukkan bahwa seseorang dapat berada dalam kondisi emosional yang berat meskipun secara kasatmata tidak selalu terlihat sedang mengalami masalah.
Karena jumlah pengakses meningkat, tenaga psikolog yang menangani layanan juga harus melakukan triase untuk menentukan tingkat urgensi masing-masing pengguna. Dengan cara tersebut, pengguna yang berada dalam situasi paling membutuhkan pertolongan dapat diprioritaskan untuk mendapatkan penanganan sesuai kondisinya.
Kemenkes juga menekankan bahwa meningkatnya penggunaan Healing119 seharusnya diikuti dengan semakin kuatnya kepedulian masyarakat terhadap kondisi orang di sekitarnya. Imran mengatakan masyarakat tidak harus menjadi tenaga kesehatan untuk mulai memberikan dukungan kepada seseorang yang sedang mengalami tekanan. Mendengarkan, mendampingi, dan membantu menghubungkan seseorang dengan layanan yang tepat menjadi bagian dari pertolongan awal.
Cara Mengakses Healing119
Healing119 dapat diakses secara gratis melalui 119 ekstensi 8. Masyarakat juga dapat menggunakan kanal daring melalui situs healing119.id, termasuk untuk mengakses layanan berbasis WhatsApp. Kemenkes menyediakan layanan ini agar masyarakat dapat memperoleh dukungan awal tanpa harus langsung datang ke fasilitas kesehatan.
Bagi masyarakat yang sedang menghadapi tekanan psikologis, layanan tersebut menjadi salah satu akses awal untuk mendapatkan bantuan. Peningkatan jumlah kontak dari ratusan menjadi 500–600 per hari menunjukkan bahwa kanal kesehatan jiwa berbasis jarak jauh ini semakin banyak digunakan masyarakat untuk mencari pertolongan ketika menghadapi persoalan psikologis.