- • Pedagang Alkid mengaku tidak pernah ditarik retribusi rutin selama berjualan di kawasan tersebut.
- • Iuran yang dibayarkan pedagang disebut berupa biaya sampah dan listrik yang dikelola secara kolektif.
- • Polemik Bolosego mencuat setelah pemilik food truck mengaku diminta membayar Rp1 juta per hari untuk parkir.
INFORMASI.COM, Jakarta - Sejumlah pedagang di Alun-alun Kidul (Alkid) Yogyakarta buka suara mengenai polemik dugaan pungutan liar (pungli) yang dialami restoran Bolosego saat membuka food truck di kawasan tersebut.
Pedagang mengaku tidak pernah dikenai retribusi rutin selama berjualan di Alkid. Iuran yang selama ini mereka bayarkan disebut hanya untuk kebutuhan sampah dan listrik.
Salah seorang pedagang di Alkid mengatakan baru mengetahui persoalan yang dialami Bolosego setelah kasus tersebut ramai di media sosial.
"Hari pertama Bolosego itu sepi banget," kata salah satu pedagang yang tak mau menyebutkan namanya, Selasa (22/9/2026).
Bolosego sempat melakukan proses loading untuk berjualan selama beberapa hari. Namun, kata dia, hanya terealisasi selama satu hari.
"Saya tahu dari medsos," ujarnya.
Pedagang Sebut Tak Ada Retribusi
Pedagang itu pun mengatakan dirinya tidak pernah mendapat penarikan retribusi dari pihak tertentu selama berjualan di Alkid.
Menurut dia, pedagang hanya memiliki iuran bersama untuk kebutuhan sampah dan listrik. Pengelolaan iuran itu pun dilakukan secara kolektif oleh para pedagang.
"Ini tanah Keraton, jadi saya enggak perlu bayar. Kalau Ngarsa Dalem mau ambil, ya kita sudah siap. Saya menyadari itu," ucapnya.
Pedagang lain juga mengaku tidak mengetahui secara langsung persoalan yang dialami Bolosego. Ia baru mendengar mengenai kasus tersebut dari pembicaraan yang berkembang.
Ia pun membenarkan tidak ada retribusi rutin yang dibebankan kepada pedagang di lokasi tersebut.
Bolosego Mengaku Diminta Rp1 Juta per Hari
Polemik ini sebelumnya mencuat setelah pemilik Bolosego mengunggah keluhannya melalui akun TikTok @dyahfardisa.
Pemilik food truck tersebut mengaku diminta membayar Rp1 juta per hari untuk biaya parkir. Rencana awalnya, Bolosego berjualan selama lima hari, 16-20 September 2026. Namun, kegiatan tersebut hanya berlangsung satu hari.
"Tak pikir rampung wes di situ aja, ternyata ora e ges, punglinya banyak, opo disebut nek ora pungli. Kita bayar parkir Rp1 juta per hari, total Rp5 juta, itu aja sudah nego tadinya tukang parkir minta sehari Rp2,5 juta, total Rp12,5 juta, ini parkir trucknya ya," ujar pemilik Bolosego dalam video yang diunggah ke media sosial.
Pemilik Bolosego juga mengaku telah mengantongi izin dari Keraton Yogyakarta untuk berjualan di kawasan tersebut.
Namun, pihak juru parkir memberikan keterangan berbeda. Uang Rp1 juta per hari disebut sebagai kesepakatan kompensasi karena area parkir digunakan untuk kegiatan food truck.
Dengan demikian, status uang Rp1 juta per hari tersebut masih menjadi bagian dari polemik yang tengah ditangani aparat. Istilah pungli dalam kasus ini juga masih berupa dugaan berdasarkan laporan pemilik Bolosego, sementara pihak jukir menyebut pembayaran tersebut merupakan kesepakatan penggunaan lahan.
Kasus tersebut kini telah masuk dalam proses pemeriksaan kepolisian.