MRT Cikarang-Balaraja Mulai Dibangun Akhir 2026, Jalur 84 Km Disiapkan

MRT Cikarang-Balaraja Mulai Dibangun Akhir 2026, Jalur 84 Km Disiapkan
Foto MRT Jakarta saat di stasiun. Sumber: Istimewa.
Ikhtisar
  • • Pembangunan fisik MRT Koridor Timur-Barat yang nantinya menghubungkan Cikarang hingga Balaraja ditargetkan mulai dilakukan pada akhir 2026.
  • • Tahap pembangunan yang dimulai tahun ini mencakup sekitar 1,8 kilometer, sementara Fase 1 Tahap 1 mencakup lintasan Tomang–Medan Satria sepanjang 24,5 kilometer.
  • • Jika seluruh jaringan tersambung, MRT Timur-Barat direncanakan membentang sekitar 84,1 kilometer dari Balaraja, Tangerang, hingga Cikarang, Bekasi.

INFORMASI.COM, Jakarta — Proyek MRT Koridor Timur-Barat mulai memasuki tahap yang lebih konkret. Pembangunan fisik proyek yang nantinya menghubungkan Balaraja, Tangerang, hingga Cikarang, Bekasi, ditargetkan mulai dilakukan pada akhir 2026.

Namun, pembangunan yang dimulai tahun ini bukan berarti seluruh jalur sepanjang 84 kilometer langsung dikerjakan. PT MRT Jakarta menyebut pekerjaan fisik yang ditargetkan mulai pada 2026 baru sekitar 1,8 kilometer sebagai bagian dari Fase 1 Tahap 1. Sementara keseluruhan jaringan MRT Timur-Barat dirancang memiliki panjang sekitar 84,1 kilometer.

Tahapan awal tersebut kini disiapkan bersamaan dengan proses pengadaan dan persiapan teknis. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mulai masuk ke tahapan pengadaan tanah untuk salah satu segmen proyek di pusat Jakarta.

Dari Tomang ke Medan Satria

Fase pertama MRT Timur-Barat akan membangun jalur Tomang hingga Medan Satria dengan panjang sekitar 24,5 kilometer. Jalur tersebut menjadi bagian penting dari jaringan yang nantinya diperpanjang ke arah Balaraja di barat dan Cikarang di timur.

Selain jalur utama, proyek Fase 1 Tahap 1 juga mencakup jalur akses menuju depo di Rorotan sepanjang sekitar 5,9 kilometer.

Rute tersebut tidak seluruhnya berada di bawah tanah. Jalur MRT akan menggunakan kombinasi konstruksi bawah tanah dan layang. Bagian bawah tanah direncanakan membentang dari kawasan Roxy hingga Galur, sedangkan jalur layang berada di sejumlah bagian seperti Tomang–Grogol dan Cempaka Baru–Ujung Menteng.

Fase 1 Tahap 1 sendiri direncanakan memiliki 21 stasiun. Dengan pola tersebut, pembangunan MRT Timur-Barat tidak hanya menambah satu jalur baru di Jakarta, tetapi juga membentuk koneksi transportasi yang akan menjangkau kawasan Jakarta dan wilayah penyangga.

Pengadaan Tanah Mulai Disiapkan

Persiapan proyek juga mulai terlihat di wilayah Jakarta Pusat. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerbitkan pemberitahuan rencana pembangunan MRT Timur-Barat untuk segmen Thamrin–Kwitang.

Segmen tersebut berada di empat kelurahan, yakni Gambir, Kebon Sirih, Senen, dan Kwitang. Luas kebutuhan tanah yang tercantum dalam pemberitahuan pemerintah mencapai sekitar 88.287,50 meter persegi.

Pemprov DKI juga menjadwalkan konsultasi publik bagi pihak yang berhak, pengelola barang, pengguna barang, serta masyarakat yang berpotensi terdampak pembangunan. Konsultasi tersebut dijadwalkan pada 24 September 2026 di Kantor Wali Kota Jakarta Pusat.

Tahapan tersebut menjadi bagian dari proses sebelum pembangunan fisik berlangsung. Pemerintah memperkirakan pelaksanaan pengadaan tanah membutuhkan waktu sekitar 539 hari kerja, dengan catatan proses berjalan tanpa penolakan yang memerlukan penanganan tambahan. Setelah pengadaan tanah selesai dan hasilnya diserahkan, pembangunan diperkirakan berlangsung sekitar 72 bulan untuk segmen tersebut.

Pramono Ingin Groundbreaking Tahun Ini

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya mengatakan pemerintah menargetkan groundbreaking MRT Timur-Barat dilakukan pada 2026. Pernyataan tersebut disampaikan setelah peresmian LRT Jakarta rute Kelapa Gading–Manggarai pada 16 September 2026.

Menurut Pramono, Pemprov DKI telah membahas proyek tersebut bersama pemerintah pusat, termasuk pembagian tanggung jawab pembiayaan. Ia menyebut pembangunan MRT dari arah barat ke timur menjadi salah satu proyek transportasi yang ingin terus didorong untuk memperkuat jaringan transportasi publik Jakarta dan kawasan sekitarnya.

Lintas Timur-Barat nantinya terhubung dengan jaringan MRT yang sudah beroperasi dan dikembangkan di Jakarta. Titik-titik pertukaran antarlayanan menjadi bagian penting agar perjalanan dari wilayah penyangga tidak berhenti di satu moda transportasi saja.

Jalurnya Bisa Tembus 84,1 Kilometer

Rencana besar MRT Timur-Barat jauh lebih panjang dibandingkan proyek yang mulai dikerjakan pada 2026.

Menurut Japan International Cooperation Agency (JICA), keseluruhan proyek MRT Timur-Barat dirancang sepanjang sekitar 84,1 kilometer dan menghubungkan wilayah Banten hingga Jawa Barat. Pembangunannya dibagi ke dalam beberapa tahap, dengan Fase 1 Tahap 1 Tomang–Medan Satria sebagai bagian yang lebih dulu mendapatkan dukungan pembiayaan.

Dalam rencana jaringan tersebut, ujung barat MRT berada di Balaraja, sedangkan ujung timurnya 

berada di Cikarang. Pemerintah menyebut keseluruhan lintasan akan memiliki sekitar 48 stasiun dan tiga depo.

Artinya, proyek ini tidak hanya dirancang untuk melayani perjalanan di dalam Jakarta. Jalur tersebut diproyeksikan menjadi jaringan transportasi lintas wilayah yang mempertemukan kawasan ibu kota dengan daerah penyangga di Tangerang dan Bekasi.

Target Beroperasi 2031

Untuk tahap yang tengah disiapkan, MRT Timur-Barat ditargetkan mulai beroperasi pada 2031. Pada saat beroperasi, lintas ini diproyeksikan mampu melayani sekitar 284 ribu penumpang per hari.

Target tersebut membuat pembangunan MRT Timur-Barat menjadi salah satu proyek transportasi jangka panjang yang disiapkan untuk menghadapi kebutuhan mobilitas Jabodetabek.

Pemerintah juga mengandalkan dukungan pendanaan dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Pada 2024, JICA menandatangani perjanjian pinjaman ODA hingga 140,699 juta yen untuk proyek MRT Timur-Barat Fase 1. Dana tersebut terutama digunakan untuk pengembangan Tomang–Medan Satria serta persiapan desain dan studi pengembangan tahap berikutnya.

Di sisi lain, alokasi hibah MRT yang direncanakan pada 2027 mencapai Rp2,86 triliun, naik sekitar 9,8 persen dari alokasi 2026 sebesar Rp2,6 triliun. Kenaikan tersebut dikaitkan dengan rencana kelanjutan pembangunan MRT Timur-Barat Fase 1 Tahap 1.

Dengan dimulainya pembangunan fisik pada akhir 2026, proyek MRT Timur-Barat perlahan bergerak dari tahap perencanaan menuju konstruksi. Jalur yang saat ini baru dimulai dari bagian tertentu di Jakarta nantinya dirancang memanjang hingga Balaraja di Tangerang dan Cikarang di Bekasi, membentuk salah satu jaringan MRT terpanjang yang direncanakan untuk kawasan metropolitan Jakarta.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.