- • Festival musik mulai memperluas format dengan menghadirkan kuliner, komunitas, komedi, podcast, hingga berbagai aktivitas kreatif.
- • Pestapora 2026 menghadirkan 330 penampil di 19 area pertunjukan selama tiga hari di Gambir Expo dan Hall D2 JIEXPO, Jakarta.
- • Perubahan format tersebut membuat penyelenggara tidak hanya mengandalkan daftar musisi, tetapi juga membangun berbagai program yang menyasar minat pengunjung.
INFORMASI.COM, Jakarta — Festival musik kini berkembang menjadi lebih dari sekadar rangkaian pertunjukan di atas panggung. Di tengah banyaknya acara musik yang menyasar generasi muda, penyelenggara mulai memasukkan berbagai kegiatan pendamping untuk memperluas pilihan bagi pengunjung.
Pestapora 2026 menjadi salah satu contoh perkembangan tersebut. Festival yang berlangsung pada 25–27 September 2026 di Gambir Expo dan Hall D2 JIEXPO, Jakarta, menghadirkan 330 penampil yang tersebar di 19 area pertunjukan.
Jumlah tersebut membuat kawasan festival dipenuhi berbagai panggung dan program selama tiga hari. Pengunjung dapat memilih penampilan berdasarkan musisi yang ingin mereka saksikan sekaligus menjelajahi sejumlah kegiatan lain yang berada di sekitar area pertunjukan.
Ratusan Musisi Tetap Menjadi Magnet Utama
Meski format acara semakin beragam, musik tetap menjadi alasan utama sebuah festival digelar.
Pestapora 2026 menghadirkan ratusan penampil dari berbagai genre dan generasi. Komposisi tersebut memberikan pilihan kepada pengunjung dengan selera musik yang berbeda dalam satu penyelenggaraan.
Festival Director Pestapora Kiki Aulia Ucup mengatakan Pestapora dirancang sebagai ruang yang mempertemukan musik, komunitas, kreativitas, dan berbagai cerita dalam satu perayaan.
Konsep tersebut kemudian diterjemahkan melalui sejumlah area dengan karakter berbeda. Pengunjung tidak harus berada di satu panggung sepanjang acara karena penampilan dan program berlangsung di berbagai titik.
Baca Juga
CFD Jakarta Disebut Ditiru 10 Negara
Nasional
Panggung Komedi hingga Podcast
Perluasan format terlihat dari masuknya jenis hiburan lain ke dalam kawasan festival.
Pestapora 2026 menghadirkan panggung komedi serta area podcast. Program tersebut memberikan alternatif bagi pengunjung yang ingin menikmati konten berbasis percakapan atau humor di sela-sela pertunjukan musik.
Kehadiran podcast juga memperlihatkan bagaimana format konten digital mulai masuk ke ruang festival fisik. Konten yang biasanya dikonsumsi melalui layar ponsel atau platform streaming dapat dihadirkan secara langsung di hadapan penonton.
Sementara itu, panggung komedi memberikan bentuk hiburan lain yang dapat dinikmati tanpa
bergantung pada jadwal penampilan penyanyi atau band.
Puluhan UMKM Kuliner Ikut Masuk
Makanan dan minuman menjadi bagian lain yang mendapat ruang dalam festival.
Pestapora 2026 menghadirkan sekitar 60 tenant UMKM makanan dan minuman di Hall D2. Para pelaku usaha tersebut berhadapan langsung dengan pengunjung yang datang ke kawasan festival selama tiga hari.
Bagi pengunjung, keberadaan tenant kuliner memberikan pilihan untuk makan dan minum tanpa harus meninggalkan lokasi acara. Bagi pelaku UMKM, festival menjadi ruang untuk memperkenalkan produk sekaligus menjangkau konsumen dalam jumlah besar.
Kehadiran sektor kuliner juga membuat aktivitas ekonomi menjadi bagian dari penyelenggaraan festival musik.
Kenapa Festival Membutuhkan Banyak Area?
Jumlah panggung dan program yang semakin banyak membuat pengelolaan ruang menjadi bagian penting dalam festival berskala besar.
Pestapora menggambarkan kawasan acaranya seperti sebuah kota kecil. Di dalamnya terdapat jalan penghubung, panggung, area komunitas, zona kuliner, serta berbagai titik aktivitas.
Pembagian tersebut membuat pengunjung dapat berpindah dari satu kawasan ke kawasan lainnya. Pola ini berbeda dengan konser tunggal yang biasanya memiliki satu panggung utama dan satu rangkaian pertunjukan.
Dengan banyaknya zona, pengunjung juga dapat memilih aktivitas berdasarkan kebutuhan masing-masing tanpa harus mengikuti satu alur acara.
Komunitas Mendapat Ruang
Kehadiran komunitas menjadi bagian lain dari perkembangan festival musik.
Komunitas dapat menjadi penghubung antara pengunjung dengan berbagai minat di luar musik. Mereka membawa aktivitas, gagasan, atau karya yang kemudian ditempatkan dalam kawasan festival.
Model tersebut juga terlihat dalam sejumlah festival kreatif di Indonesia yang menggabungkan musik dengan seni, film, kuliner, dan subkultur anak muda.
Bagi penyelenggara, keterlibatan komunitas membuat festival memiliki lebih banyak kelompok yang terlibat. Sementara bagi komunitas, festival menjadi ruang untuk memperkenalkan kegiatan mereka kepada audiens yang lebih luas.
Anak Muda Datang dengan Minat yang Beragam
Tidak semua anak muda datang ke festival dengan tujuan yang sama. Sebagian membeli tiket karena ingin melihat musisi tertentu, sedangkan lainnya dapat tertarik pada suasana acara, teman, komunitas, kuliner, atau program lain.
Karena itu, penyelenggara mulai menghadirkan lebih banyak pilihan dalam satu lokasi. Strategi tersebut memungkinkan pengunjung menentukan sendiri kegiatan yang ingin mereka ikuti.
Perubahan tersebut juga terlihat dari cara festival dikemas. Daftar artis tetap menjadi materi promosi utama, tetapi program pendamping mulai mendapat ruang dalam komunikasi kepada calon pengunjung.
Festival Menjadi Ruang Berkumpul
Bagi generasi muda, festival juga dapat menjadi tempat bertemu dengan teman atau komunitas. Aktivitas tersebut berlangsung bersamaan dengan pertunjukan musik yang menjadi inti acara.
Pola ini membuat sebuah festival memiliki fungsi sosial yang lebih luas. Pengunjung tidak selalu datang untuk menyaksikan seluruh penampilan, melainkan dapat memilih beberapa acara yang dianggap menarik dan menghabiskan waktu di area lainnya.
Namun, pola tersebut tidak berarti semua pengunjung memiliki perilaku yang sama. Pilihan aktivitas tetap bergantung pada tujuan, minat, dan kelompok pertemanan masing-masing.
Dari Panggung ke Ekosistem Kreatif
Perkembangan Pestapora dan festival sejenis menunjukkan adanya perluasan cara penyelenggara mengemas acara musik.
Musik tetap berada di pusat acara melalui ratusan penampil dan berbagai panggung. Di sekelilingnya, terdapat kuliner, komunitas, komedi, podcast, UMKM, serta aktivitas kreatif yang mengisi ruang lain.
Format tersebut menjadikan festival sebagai tempat bertemunya sejumlah sektor kreatif dalam satu kawasan. Musisi berbagi ruang dengan pelaku kuliner, komunitas, kreator, dan pelaku usaha.
Bagi industri festival, perubahan ini juga membuka lebih banyak kemungkinan kolaborasi. Acara musik tidak hanya menjadi tempat pertunjukan, tetapi dapat menjadi wadah bagi berbagai aktivitas ekonomi dan kreatif.
Apa yang Akan Dicari Pengunjung Berikutnya?
Perubahan format festival membuat pertanyaan mengenai selera pengunjung menjadi semakin luas. Musisi tetap menjadi daya tarik utama, tetapi keberadaan program lain memberi pilihan tambahan bagi mereka yang datang ke lokasi.
Pestapora 2026 dengan 330 penampil dan 19 area menjadi salah satu contoh bagaimana penyelenggara menggabungkan berbagai bentuk hiburan dalam satu acara.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa festival musik di Indonesia mulai bergerak menuju format yang lebih beragam. Bukan berarti pertunjukan musik kehilangan perannya, melainkan panggung kini menjadi salah satu bagian dari kawasan yang diisi berbagai aktivitas lain.
Baca Juga
BMKG Ungkap Ada 14 Segmen Megathrust di Indonesia, Potensi Gempa Capai 9,2 M di Aceh dan Jawa
Nasional