- • Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI dirilis pada 1984 dengan Arifin C. Noer sebagai sutradara sekaligus penulis skenario.
- • Sejumlah aktor besar seperti Amoroso Katamsi, Umar Kayam, Syu'bah Asa, Bram Adrianto, Ade Irawan, dan Wawan Wanisar memerankan tokoh-tokoh penting dalam cerita.
- • Di balik layar, film ini melibatkan Nugroho Notosusanto, G. Dwipayana, Embie C. Noer, Hasan Basri, serta Perum Produksi Film Negara dalam proses produksinya.
INFORMASI.COM, Jakarta — Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI bukan sekadar film sejarah yang kembali muncul setiap akhir September. Sejak dirilis pada 1984, film tersebut menjadi salah satu karya sinema Indonesia yang paling banyak dibicarakan ketika masyarakat membahas peristiwa G30S 1965.
Namun, di balik durasi film yang mencapai sekitar tiga jam 40 menit, terdapat banyak nama yang ikut membentuk karya tersebut.
Mulai dari sutradara, penulis cerita, produser, pemain, hingga kru teknis memiliki peran masing-masing dalam menghadirkan kembali peristiwa 1965 ke layar lebar.
Arifin C. Noer di Kursi Sutradara
Nama paling penting dalam proses kreatif film ini adalah Arifin C. Noer.
Arifin tidak hanya bertindak sebagai sutradara, tetapi juga terlibat dalam penulisan skenario. Cerita film ini dikaitkan dengan karya sejarah yang ditulis Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh mengenai Gerakan 30 September.
Arifin sendiri bukan nama baru dalam dunia perfilman Indonesia. Ia dikenal sebagai seniman teater dan sutradara yang telah menghasilkan sejumlah karya sebelum menggarap film G30S.
Di tangannya, peristiwa sejarah tersebut kemudian diterjemahkan menjadi adegan dramatik dengan dialog, karakter, tata kamera, musik, dan rekonstruksi suasana politik.
Nugroho Notosusanto dan Cerita Film
Nama lain yang berada di balik narasi film adalah Nugroho Notosusanto. Dalam kredit film, Nugroho tercatat sebagai penulis cerita, sementara Arifin C. Noer menangani skenario.
Nugroho merupakan sejarawan, akademisi, dan pejabat pemerintahan yang pada periode berikutnya menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Keterlibatannya menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana film tersebut dibangun sebagai sebuah rekonstruksi sejarah.
Film bukan hanya menyajikan akting para pemain, tetapi juga membawa kerangka narasi tertentu dalam menggambarkan peristiwa 1965.
G. Dwipayana sebagai Produser
Di sisi produksi terdapat G. Dwipayana, yang tercatat sebagai produser atau pengelola produksi film. Film tersebut diproduksi oleh Perum Produksi Film Nasional (PPFN), lembaga perfilman milik negara pada masa itu. Keterlibatan lembaga negara menjadi salah satu konteks penting dalam membaca film ini.
Film tersebut lahir pada masa Orde Baru dan kemudian menjadi bagian dari budaya populer yang membentuk cara masyarakat mengenal G30S selama bertahun-tahun. Karena itu, film ini kemudian tidak hanya dibicarakan sebagai karya sinema, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah politik dan budaya Indonesia.
Amoroso Katamsi sebagai Soeharto
Salah satu pemeran yang paling dikenal dari film ini adalah Amoroso Katamsi. Ia memerankan tokoh Mayor Jenderal Soeharto. Penampilannya menjadi salah satu elemen yang paling melekat dalam ingatan penonton terhadap film tersebut.
Karakter Soeharto menjadi salah satu pusat cerita, terutama ketika film menggambarkan situasi setelah penculikan sejumlah perwira Angkatan Darat. Peran tersebut kemudian membawa Amoroso Katamsi meraih Piala Citra sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik pada Festival Film Indonesia 1984.
Umar Kayam Memerankan Soekarno
Tokoh Presiden Soekarno diperankan oleh Umar Kayam. Nama Umar Kayam sebenarnya lebih dikenal sebagai sastrawan, budayawan, dan akademisi. Keterlibatannya sebagai pemeran Presiden Soekarno menjadi salah satu hal menarik dari film tersebut.
Ia harus menghadirkan sosok kepala negara dalam situasi politik yang penuh tekanan. Pemilihan Umar Kayam juga memperlihatkan bahwa produksi film ini tidak hanya melibatkan aktor film konvensional, tetapi juga figur dari dunia sastra dan akademik.
Syu'bah Asa sebagai DN Aidit
Syu'bah Asa memerankan D.N. Aidit, tokoh penting Partai Komunis Indonesia dalam narasi film. Syu'bah sendiri dikenal sebagai budayawan, sastrawan, dan wartawan. Dalam film ini, ia mendapat salah satu peran politik yang paling penting. Karakter Aidit menjadi bagian dari penggambaran hubungan antara G30S dan PKI yang menjadi kerangka utama cerita film.
Bram Adrianto hingga Wawan Wanisar
Aktor lain juga mengisi tokoh-tokoh yang berhubungan langsung dengan rangkaian peristiwa 1965. Bram Adrianto memerankan Letkol Untung. Rudy Sukma memainkan tokoh A.H. Nasution, sementara Didi Sadikin berperan sebagai Sarwo Edhie Wibowo. Ada pula Ade Irawan yang memerankan Johanna Sunarti Nasution, istri A.H. Nasution.
Sementara itu, Wawan Wanisar memerankan Kapten Pierre Tendean. Perannya menjadi salah satu bagian yang cukup dikenal karena film menggambarkan penculikan dan pembunuhan para perwira Angkatan Darat secara dramatis.
Embie C. Noer Menggarap Musik
Tidak semua nama penting berada di depan kamera. Musik film ditangani oleh Embie C. Noer, adik Arifin C. Noer. Sinematografi dikerjakan Hasan Basri, sedangkan penyuntingan ditangani Supandi.
Musik, kamera, dan penyuntingan memiliki peran besar dalam membangun suasana film. Adegan dramatis tidak hanya bergantung pada dialog dan akting. Musik dapat memperkuat ketegangan, kamera mengarahkan perhatian penonton, sementara penyuntingan menentukan bagaimana rangkaian peristiwa disusun.
Film yang Lebih dari Sekadar Daftar Pemain
Jika dilihat dari sisi produksi, Pengkhianatan G30S/PKI merupakan hasil kerja banyak orang.
Arifin C. Noer membangun bentuk sinematiknya. Nugroho Notosusanto terlibat dalam cerita. G. Dwipayana berada di sisi produksi. Para aktor menerjemahkan tokoh-tokoh sejarah ke dalam karakter film, sementara kru teknis membangun visual dan atmosfer cerita.
Film ini kemudian memperoleh sejumlah penghargaan dalam Festival Film Indonesia 1984, termasuk untuk film cerita terbaik, penyutradaraan, skenario, pemeran utama pria, tata kamera, tata musik, dan tata artistik.
Mengapa Film Ini Masih Dibicarakan?
Ada alasan mengapa film tersebut tetap muncul dalam percakapan setiap akhir September. Selama masa Orde Baru, film ini ditayangkan secara rutin di televisi nasional setiap 30 September. Penayangan rutinnya kemudian dihentikan setelah perubahan politik pada 1998.
Bagi generasi yang tumbuh sebelum Reformasi, film tersebut menjadi salah satu pengalaman visual utama dalam mengenal G30S. Sementara bagi Generasi Z, film ini lebih sering hadir sebagai arsip budaya yang dapat ditonton kembali melalui internet.
Perbedaan pengalaman tersebut membuat film G30S/PKI memiliki posisi yang berbeda bagi setiap generasi.
Membaca Film sebagai Produk Zamannya
Film sejarah tidak hanya berbicara tentang peristiwa yang digambarkannya. Film juga memperlihatkan bagaimana sebuah zaman memilih untuk menceritakan masa lalu.
Pengkhianatan G30S/PKI dibuat pada 1980-an, ketika Orde Baru masih berkuasa. Karena itu, film tersebut kemudian menjadi objek pembahasan sejarah, politik, dan sinema sekaligus.
Sejumlah kajian dan pembahasan setelah Reformasi mempertanyakan hubungan antara representasi film dengan narasi sejarah yang dominan pada masa Orde Baru. Pada saat yang sama, film tersebut tetap memiliki nilai penting sebagai dokumen budaya yang menunjukkan bagaimana sebuah peristiwa sejarah direpresentasikan melalui medium film.
Bagi penonton masa kini, melihat siapa saja yang terlibat di balik film ini memberikan konteks yang lebih lengkap.
Bukan hanya siapa yang memainkan tokoh tertentu, tetapi juga siapa yang menulis ceritanya, siapa yang mengarahkan kamera, siapa yang menggarap musik, siapa yang mengelola produksinya, dan dalam konteks zaman seperti apa film tersebut dibuat.
Dari situlah film G30S/PKI dapat dipahami bukan hanya sebagai tontonan tentang sejarah 1965, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah perfilman dan ingatan publik Indonesia.