Ikhtisar
- •Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, dilaporkan semakin mengkhawatirkan pada Sabtu (10/10/2026).
- •Dua lidah api besar terlihat membakar vegetasi, sementara relawan dan petugas gabungan menghadapi keterbatasan peralatan serta pasokan air untuk pemadaman.
- •Relawan berharap pemerintah pusat segera mengerahkan bantuan tambahan untuk memperkuat penanganan kebakaran di kawasan konservasi habitat orangutan tersebut.
INFORMASI.COM, Jakarta — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, dilaporkan semakin mengkhawatirkan. Pada Sabtu (10/10/2026), dua lidah api besar terlihat membakar vegetasi di kawasan konservasi yang menjadi habitat orangutan dan berbagai satwa liar.
Asap pekat tampak membubung dari kawasan yang terbakar. Di tengah kondisi tersebut, relawan dan petugas gabungan masih berupaya memadamkan api. Namun, penanganan di lapangan menghadapi kendala berupa keterbatasan peralatan dan pasokan air.
Situasi itu membuat upaya pemadaman semakin menantang. Para relawan dilaporkan mulai kewalahan menghadapi kebakaran yang terus menjadi ancaman, sehingga berharap pemerintah pusat segera memberikan bantuan tambahan untuk memperkuat operasi di lapangan.
Relawan Kewalahan Tangani Kebakaran Tanjung Puting
Keterbatasan sarana pemadaman menjadi salah satu kendala yang dihadapi relawan dan petugas gabungan. Sementara upaya di darat masih berlangsung, kobaran api dan asap pekat menambah kekhawatiran terhadap kondisi kawasan hutan yang terdampak.
Sebelumnya, relawan gabungan dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kotawaringin Barat juga menyampaikan permintaan bantuan melalui surat terbuka yang beredar di media sosial.
Dalam seruan tersebut, para relawan meminta pemerintah segera meningkatkan penanganan karhutla, termasuk mempertimbangkan pengerahan helikopter water bombing serta penambahan dukungan anggaran dan logistik.
Mereka menilai upaya pemadaman yang dilakukan di darat belum cukup efektif untuk mengatasi besarnya kebakaran. Setelah berhari-hari berjibaku dengan api, tim relawan bahkan memutuskan menarik sementara personel dari kegiatan pemadaman karena keterbatasan kemampuan di lapangan.
Para relawan berharap dukungan tambahan segera diberikan agar penanganan kebakaran dapat diperkuat dan risiko meluasnya dampak kebakaran bisa ditekan.
Kebakaran Ancam Habitat Orangutan
Kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting menjadi perhatian karena kawasan ini merupakan salah satu habitat penting orangutan di Indonesia. Selain orangutan, kawasan tersebut juga menjadi tempat hidup berbagai satwa liar, termasuk bekantan, owa, dan beruang madu.
Kebakaran hutan dapat merusak vegetasi yang menjadi tempat berlindung dan sumber pakan satwa. Jika api meluas, dampaknya berpotensi mengganggu ruang hidup satwa serta keseimbangan ekosistem di kawasan konservasi tersebut.
Besarnya dampak kebakaran terhadap habitat dan populasi satwa masih memerlukan pendataan lebih lanjut. Namun, kondisi kebakaran yang dilaporkan relawan telah memunculkan kekhawatiran mengenai keselamatan ekosistem Tanjung Puting.
Relawan Berharap Pemerintah Segera Turun Tangan
Di tengah keterbatasan peralatan dan pasokan air, relawan tetap berupaya membantu penanganan kebakaran. Mereka berharap pemerintah segera memperkuat operasi pemadaman dengan dukungan personel, peralatan, logistik, dan bantuan dari udara jika diperlukan.
Desakan tersebut muncul seiring kekhawatiran bahwa kebakaran dapat terus merusak kawasan hutan apabila tidak segera ditangani secara memadai.
Bagi relawan dan pemerhati lingkungan, upaya pemadaman bukan sekadar menyelamatkan pepohonan yang terbakar. Tanjung Puting juga merupakan rumah bagi berbagai satwa liar yang bergantung pada kelestarian hutan.
Karena itu, penanganan karhutla menjadi penting untuk membatasi kerusakan kawasan konservasi sekaligus melindungi habitat satwa yang ada di dalamnya.