Rekam Jejak Andrea Bocelli dan Israel Disorot, dari Penggalangan Dana hingga Konser di Tel Aviv

Rekam Jejak Andrea Bocelli dan Israel Disorot, dari Penggalangan Dana hingga Konser di Tel Aviv
Andrea Bocelli. Foto: Instagram/@andreabocelliofficial
Ikhtisar
  • • Andrea Bocelli menjadi sorotan setelah MUI mendesak pembatalan rencana konsernya di Indonesia karena rekam jejak yang dikaitkan dengan Israel.
  • • Pada 2010, Bocelli tampil dalam acara penggalangan dana Friends of the Israel Defense Forces (FIDF) di Los Angeles yang menghimpun sekitar US$8,75 juta.
  • • Bocelli juga pernah tampil di Tel Aviv pada 2022. Kontroversi tersebut kembali mencuat menjelang konsernya di Indonesia pada 31 Oktober dan 3 November 2026.

INFORMASI.COM, Jakarta — Rekam jejak penyanyi tenor asal Italia, Andrea Bocelli, terkait Israel menjadi sorotan menjelang rencana konsernya di Indonesia. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak pemerintah membatalkan pertunjukan tersebut setelah menyoroti keterlibatan Bocelli dalam acara penggalangan dana yang berkaitan dengan militer Israel serta penampilannya di Tel Aviv.

Desakan itu disampaikan Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, Sudarnoto Abdul Hakim, pada 10 Oktober 2026. Menurutnya, pemerintah perlu konsisten menunjukkan keberpihakan terhadap kemanusiaan dan perjuangan rakyat Palestina.

Bocelli dijadwalkan tampil di Candi Borobudur, Magelang, pada 31 Oktober 2026, kemudian melanjutkan konser di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, pada 3 November 2026. Kedua pertunjukan tersebut merupakan bagian dari Romanza 30th Anniversary World Tour untuk memperingati 30 tahun album Romanza.

Kontroversi ini bukan kali pertama muncul. Sejumlah catatan pemberitaan mengenai aktivitas Bocelli di Israel dan keterlibatannya dalam acara penggalangan dana pada masa lalu kembali menjadi perhatian publik di tengah konflik Israel-Palestina.

2010: Tampil dalam Penggalangan Dana untuk Militer Israel

Salah satu peristiwa yang menjadi sorotan terjadi pada Desember 2010. Saat itu, Bocelli tampil dalam gala penggalangan dana Friends of the Israel Defense Forces (FIDF) di Century City, Los Angeles, Amerika Serikat.

FIDF merupakan organisasi yang menghimpun dukungan bagi anggota militer Israel melalui berbagai program. Berdasarkan laporan Jewish Journal pada 10 Desember 2010, acara tersebut berhasil mengumpulkan dana sekitar US$8,75 juta.

Bocelli menjadi salah satu pengisi acara dalam gala yang diselenggarakan oleh Haim dan Cheryl Saban tersebut. Kehadirannya dalam kegiatan itu kemudian menjadi salah satu dasar kritik terhadap rekam jejaknya terkait Israel.

Namun, ada perbedaan penting yang perlu diperhatikan. Catatan bahwa Bocelli tampil dalam acara penggalangan dana FIDF tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa ia menyumbangkan uang secara pribadi atau mendukung setiap kebijakan dan operasi militer Israel.

Meski demikian, keterlibatannya sebagai penampil dalam acara yang bertujuan menggalang dana bagi organisasi pendukung militer Israel menjadi persoalan bagi kelompok yang mendorong boikot terhadap Israel.

2022: Menggelar Konser di Tel Aviv

Catatan lain terjadi pada 8 Juni 2022, ketika Bocelli menggelar konser di Bloomfield Stadium, Tel Aviv, Israel.

Menurut pemberitaan The Jerusalem Post, lebih dari 20.000 penonton menghadiri pertunjukan tersebut. Bocelli tampil bersama Israel Philharmonic Orchestra dan sejumlah musisi tamu.

Konser itu juga dihadiri sejumlah tokoh, termasuk Benjamin Netanyahu, yang saat itu merupakan mantan perdana menteri Israel. Sehari setelah pertunjukan, Bocelli mengunjungi sejumlah tempat keagamaan di Yerusalem.

Kehadiran Bocelli di Tel Aviv menjadi sorotan kelompok pro-Palestina yang mendorong boikot budaya terhadap Israel. Gerakan tersebut meminta seniman internasional tidak menggelar pertunjukan di Israel sebagai bentuk tekanan atas kebijakan negara itu terhadap rakyat Palestina.

Bagi para pendukung boikot, keputusan seorang musisi untuk tetap tampil di Israel ketika seruan boikot berlangsung dapat dipandang sebagai bentuk normalisasi hubungan budaya dengan negara tersebut.

Akan tetapi, penampilan di suatu negara tidak otomatis menjelaskan keseluruhan pandangan politik seorang seniman. Karena itu, rekam jejak pertunjukan Bocelli perlu dibedakan dari pernyataan politik pribadi yang secara langsung dapat diverifikasi.

MUI Desak Konser di Indonesia Dibatalkan

Sorotan terhadap Bocelli kembali menguat setelah MUI meminta pemerintah membatalkan rencana konsernya di Indonesia.

Sudarnoto Abdul Hakim menilai penyelenggaraan konser tersebut perlu dipertimbangkan berdasarkan sikap Indonesia terhadap konflik Palestina. Ia meminta pemerintah tidak memberikan panggung kepada figur yang dinilai memiliki rekam jejak dukungan terhadap Zionisme.

“Kali ini kembali saya ingin menegaskan bahwa rencana konser Andrea Bocelli harus dibatalkan demi menjaga prinsip keberpihakan kita pada kemanusiaan,” ujar Sudarnoto, sebagaimana dikutip dari pernyataan MUI pada 10 Oktober 2026.

MUI menyoroti dua hal utama, yakni keterlibatan Bocelli dalam acara penggalangan dana FIDF pada 2010 dan konsernya di Tel Aviv pada 2022. Bagi organisasi tersebut, catatan itu menjadi pertimbangan dalam menilai kelayakan penyelenggaraan konser di Indonesia.

Hingga informasi yang tersedia pada 12 Oktober 2026, desakan pembatalan tersebut merupakan sikap MUI. Sementara itu, jadwal konser di Borobudur dan Jakarta masih tercantum dalam situs resmi Bocelli.

Seruan Boikot Juga Muncul di Yordania

Kontroversi mengenai hubungan Bocelli dengan Israel turut mencuat di Yordania. Pada awal Oktober 2026, gerakan Boycott, Divestment, Sanctions (BDS) di negara tersebut bersama kelompok pro-Palestina lainnya menyerukan boikot terhadap konser Bocelli yang dijadwalkan berlangsung di Petra pada 27 November 2026.

Mereka menyoroti penampilan Bocelli dalam acara penggalangan dana yang berkaitan dengan militer Israel serta konsernya di Tel Aviv. Kelompok tersebut meminta masyarakat tidak membeli tiket dan mendesak pembatalan pertunjukan.

Penyelenggara lokal, di sisi lain, menilai konser tersebut dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Yordania kepada publik internasional melalui perpaduan musik dan warisan budaya.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa perdebatan mengenai hubungan seniman dengan konflik politik tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah kelompok pro-Palestina di berbagai negara juga mempertanyakan keputusan penyelenggara yang menghadirkan musisi dengan rekam jejak pertunjukan atau kegiatan yang dikaitkan dengan Israel.

Pada akhirnya, rekam jejak Bocelli memperlihatkan sejumlah peristiwa yang dapat diverifikasi: penampilannya dalam gala penggalangan dana FIDF pada 2010 dan konsernya di Tel Aviv pada 2022. Kedua peristiwa itu menjadi dasar kritik dari kelompok pro-Palestina dan MUI.

Namun, untuk menilai sikap politik pribadi Bocelli secara menyeluruh, fakta tersebut perlu dibedakan dari klaim mengenai dukungan terhadap kebijakan tertentu. Perbedaan ini penting agar perdebatan mengenai rencana konsernya tetap bertumpu pada informasi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.