- • Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan menyebar ke Singapura dan Malaysia, menyebabkan kualitas udara memburuk.
- • Sejumlah sekolah di Malaysia sempat ditutup dan menerapkan pembelajaran dari rumah akibat indeks polusi udara yang mencapai kategori sangat tidak sehat.
- • Titik panas masih terdeteksi di Sumatra dan Kalimantan, sementara arah angin berpotensi membawa partikel polutan ke negara-negara tetangga.
INFORMASI.COM, Jakarta – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan meluas hingga ke Singapura dan Malaysia. Kondisi tersebut menyebabkan kualitas udara memburuk, mengganggu jarak pandang, serta mendorong penutupan sementara sejumlah sekolah di Malaysia.
Asap yang menyelimuti sejumlah wilayah membuat kualitas udara di kedua negara masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Pemerintah setempat pun mengambil langkah untuk mengurangi risiko paparan polusi, terutama bagi anak-anak dan kelompok masyarakat yang rentan.
Kabut Asap Selimuti Singapura dan Malaysia
Dampak kabut asap terlihat di Singapura. Sejumlah ikon kota, termasuk kawasan Marina Bay Sands, dilaporkan tertutup kabut sehingga jarak pandang menurun.
Pada Rabu (7/10/2026), Singapura sempat menempati posisi teratas sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia berdasarkan pemantauan IQAir. Pada hari yang sama, Kuala Lumpur juga sempat berada di posisi pertama dalam daftar tersebut.
Sementara itu, Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) mencatat indeks standar polutan atau Pollutant Standards Index (PSI) di seluruh wilayah negara itu berada pada kategori tidak sehat.
Pada Kamis (8/10/2026) pukul 07.00 waktu setempat, rata-rata PSI 24 jam tercatat sebesar 109 di wilayah tengah dan 111 di wilayah timur Singapura.
NEA memperkirakan kabut asap dapat terus bergerak menuju Singapura karena angin bertiup dari arah tenggara atau selatan. Warga juga diimbau memantau informasi kualitas udara, termasuk konsentrasi PM2.5, sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
Di Malaysia, kabut asap turut mengaburkan pemandangan sejumlah ikon negara, seperti Menara Kembar Petronas dan Merdeka 118. Sejumlah wilayah juga mencatatkan indeks polusi udara di atas 100, yang menunjukkan kondisi udara tidak sehat, terutama bagi kelompok sensitif.
Sejumlah Sekolah di Malaysia Ditutup
Buruknya kualitas udara berdampak pada kegiatan pendidikan di Malaysia. Sekolah, taman kanak-kanak, dan pusat penitipan anak di Batu Pahat, Johor, sempat diperintahkan tutup setelah indeks polusi udara di wilayah tersebut mencapai 203 pada Selasa (6/10/2026). Angka itu masuk kategori sangat tidak sehat.
Kebijakan tersebut berdampak pada hampir 200 sekolah dan tempat penitipan anak. Pembukaan kembali lembaga pendidikan bergantung pada perkembangan kualitas udara di wilayah terdampak.
Penutupan sekolah juga diberlakukan di sejumlah wilayah lain, termasuk Negeri Sembilan, Selangor, Malaka, Johor, Pahang, dan Kuala Lumpur. Kegiatan belajar dialihkan ke pembelajaran dan pengajaran di rumah atau Pengajaran dan Pembelajaran di Rumah (PdPR).
Kementerian Pendidikan Malaysia menyatakan kebijakan tersebut bertujuan melindungi kesehatan siswa sekaligus menjaga keberlangsungan kegiatan belajar.
Pada Selasa (13/10/2026), sekolah di sejumlah wilayah mulai dibuka kembali. Namun, beberapa daerah di Johor, Kuala Lumpur, dan Selangor masih menerapkan penutupan berdasarkan kondisi kualitas udara setempat.
Berdasarkan data kualitas udara Malaysia pada Senin (12/10/2026) pukul 11.03, sejumlah wilayah masih mencatatkan indeks AQI versi Amerika Serikat pada level tidak sehat bagi kelompok sensitif. Klang mencatat angka 123, Kuala Selangor 117, dan Kuala Lumpur 113.
Titik Panas Masih Terdeteksi di Sumatra dan Kalimantan
Kabut asap lintas negara tersebut berkaitan dengan kebakaran yang terjadi di Indonesia. Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar, ditambah kondisi cuaca kering yang dipengaruhi fenomena El Niño, meningkatkan risiko kebakaran dan penyebaran asap.
Data platform pemantauan kebakaran SiPongi yang dikelola Kementerian Kehutanan menunjukkan jumlah titik panas pada September 2026 menjadi yang tertinggi sejak 2015.
Pada tahun 2015, kabut asap akibat karhutla di Indonesia juga meluas ke sejumlah negara Asia Tenggara dan memicu gangguan aktivitas serta ketegangan diplomatik dengan negara tetangga.
Sementara itu, laporan ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) per Minggu (11/10/2026) masih menunjukkan keberadaan titik panas di Sumatra dan Kalimantan. Pergerakan asap juga terpantau mengarah ke Malaysia dan Singapura.
Arah Angin Memengaruhi Penyebaran Asap
Peneliti Ahli Muda PRIMA, Ardhi Adhary Arbain, menjelaskan arah dan kecepatan angin menjadi faktor penting dalam menentukan wilayah yang terdampak asap karhutla.
Berdasarkan simulasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Agustus 2026, angin dominan bergerak dari tenggara dan berbelok ke timur laut setelah melewati ekuator. Pola tersebut memungkinkan partikel PM2.5 dari kebakaran di Indonesia terbawa menuju negara lain.
Menurut Ardhi, pergerakan angin berpotensi membawa polutan ke Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, hingga Thailand.
Kondisi ini membuat pemantauan titik panas, arah angin, dan kualitas udara menjadi penting untuk memperkirakan penyebaran kabut asap lintas negara.
Risiko Kabut Asap Masih Perlu Diwaspadai
ASMC masih mendeteksi titik panas di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan pada pertengahan Oktober 2026. Kondisi cuaca kering di sebagian kawasan Asia Tenggara juga berpotensi mempertahankan risiko kebakaran.
Paparan partikel halus PM2.5 dalam asap karhutla dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan atau penyakit jantung.
Masyarakat di wilayah terdampak disarankan memantau informasi kualitas udara dan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika tingkat polusi memburuk. Penggunaan masker yang sesuai serta upaya mengurangi masuknya asap ke dalam ruangan juga dapat membantu menekan paparan polutan.
Penanganan karhutla di wilayah sumber menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kabut asap yang meluas ke negara-negara tetangga.