- • Dalam simulasi semi-terbuka SMRC, Prabowo memperoleh dukungan 20 persen di kalangan pemilih Gerindra.
- • Dukungan kepada Prabowo di kalangan pemilih partai lain lebih rendah, termasuk 17 persen di Golkar, 8 persen di PAN, dan 4 persen di PKB.
- • Data ini menunjukkan bahwa dukungan partai tidak otomatis sama dengan pilihan calon presiden di kalangan pemilihnya.
INFORMASI.COM, Jakarta - Elektabilitas Presiden Prabowo Subianto merosot menjadi 9,8 persen dalam survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 1–10 Oktober 2026. Angka itu jauh di bawah hasil survei November 2025, ketika dukungan kepada Prabowo masih mencapai 34,9 persen.
Survei nasional ini melibatkan 1.213 responden pada 1–10 Oktober 2026. SMRC memperkirakan margin of error sebesar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, dengan asumsi sampel acak sederhana.
Menurut survei itu, ternyata hanya 20 persen pemilih Partai Gerindra yang sebelumnya mencoblos Prabowo pada Pilpres 2024 yang menyebut Prabowo Subianto sebagai pilihan yang pantas untuk kembali menjadi presiden. Sebaliknya, 74 persen pemilih Gerindra memilih nama calon lain, sedangkan sisanya belum menentukan pilihan atau tidak menjawab.
Temuan tersebut muncul ketika elektabilitas Prabowo dalam simulasi 24 nama berada di angka 9,8 persen. Dalam simulasi yang sama, Dedi Mulyadi meraih dukungan tertinggi sebesar 35,5 persen.
SMRC juga mencatat dukungan kepada Prabowo di kalangan pemilih partai lain relatif rendah. Di antara pemilih Golkar, dukungannya sebesar 17 persen. Angka itu turun menjadi 11 persen di kalangan pemilih Nasdem, 8 persen di PAN, 6 persen di Demokrat, 6 persen di PDIP, 4 persen di PKB, dan 2 persen di PKS.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pilihan calon presiden dalam survei tidak selalu mengikuti afiliasi partai responden. Meski seorang partai mendukung atau memiliki kedekatan politik dengan seorang tokoh, pemilih partai tersebut belum tentu menjadikan tokoh itu sebagai pilihan presiden mereka.
Dukungan Pemilih Partai kepada Prabowo
| Partai yang dipilih responden | Dukungan kepada Prabowo |
| Gerindra | 20% |
| Golkar | 17% |
| Nasdem | 11% |
| PAN | 8% |
| Demokrat | 6% |
| PDIP | 6% |
| PKB | 4% |
| PKS | 2% |
Sumber: SMRC, simulasi semi-terbuka, Oktober 2026.
Dari kelompok pemilih partai yang ditampilkan, dukungan kepada Prabowo paling tinggi berada di Gerindra, disusul Golkar dan Nasdem. Namun, bahkan di kalangan pemilih Gerindra, dukungan kepada Prabowo hanya seperlima responden.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pilihan partai dan pilihan calon presiden merupakan dua hal berbeda. Responden yang memilih partai tertentu dalam pertanyaan survei belum tentu memilih tokoh yang sama sebagai calon presiden.
Tidak Otomatis Mencerminkan Keputusan Partai
Hasil survei ini tidak bisa digunakan untuk menyimpulkan bahwa partai-partai tersebut akan meninggalkan atau menolak Prabowo. Survei mengukur pilihan responden, bukan keputusan resmi partai mengenai pencalonan presiden.
Demikian pula, 74 persen pemilih Gerindra yang memilih calon lain tidak berarti seluruhnya menolak Prabowo. Mereka memilih nama lain dalam simulasi yang disediakan, sedangkan sebagian responden lainnya belum menentukan pilihan.
Dalam simulasi semi-terbuka 24 nama, Dedi Mulyadi berada di posisi teratas dengan 35,5 persen, disusul Anies Baswedan sebesar 10,3 persen, Prabowo 9,8 persen, dan Gibran Rakabuming Raka 8,4 persen.
Data tersebut memberikan gambaran mengenai pilihan responden pada saat survei dilakukan. Hasilnya belum tentu sama dengan pilihan mereka jika daftar kandidat berubah atau jika pencalonan presiden sudah ditetapkan.