- • Pemkab Karanganyar menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Karhutla Gunung Lawu melalui SK Bupati Nomor 300.2/768 Tahun 2026.
- • Luas kawasan hutan yang terbakar diperkirakan mencapai sedikitnya 100 hektare hingga Sabtu (17/10/2026) siang.
- • Pemerintah menyiapkan opsi pemadaman melalui helikopter water bombing dan mengkaji kemungkinan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
INFORMASI.COM, Jakarta – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar resmi menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Gunung Lawu di wilayah Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Penetapan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Bupati Karanganyar Nomor 300.2/768 Tahun 2026 yang ditandatangani Bupati Karanganyar Rober Christanto.
Wakil Bupati Karanganyar Adhe Eliana mengatakan penetapan status tanggap darurat dilakukan untuk mempercepat mobilisasi personel dan armada pemadam kebakaran, terutama di kawasan Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, yang terdampak kebakaran.
"Keputusan ini telah diproses dan dikaji oleh Bapak Bupati bersama BPBD. Harapannya, penanganan kebakaran Gunung Lawu bisa segera dilakukan secara maksimal dan terkoordinasi," ujar Adhe, Minggu (18/10/2026).
Api Masih Berkobar di Sisi Barat Gunung Lawu
Kebakaran di kawasan Gunung Lawu masih terlihat berlangsung hingga Sabtu (17/10/2026) petang. Visual yang diunggah akun @LawuMountain pada pukul 18.10 WIB dari area Segoro Gunung, sisi barat Gunung Lawu, menunjukkan kobaran api yang masih terlihat di kawasan tersebut.
Visual tersebut memperlihatkan api yang masih berkobar di tengah upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini menjadi gambaran bahwa kebakaran di kawasan Gunung Lawu masih membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Kebakaran Gunung Lawu Meluas hingga 100 Hektare
Kebakaran hutan di lereng Gunung Lawu dilaporkan mulai terjadi pada Kamis (16/10/2026). Kobaran api kemudian menjalar ke area lain, diduga dipengaruhi tiupan angin kencang dan kondisi vegetasi yang kering.
Hingga Sabtu (17/10/2026) siang, luas kawasan hutan yang hangus terbakar diperkirakan mencapai sedikitnya 100 hektare.
Untuk menangani kebakaran, Pemkab Karanganyar mengerahkan tim gabungan yang melibatkan TNI, Polri, Basarnas, BPBD, Perhutani, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), serta relawan potensi SAR dari berbagai wilayah di Kabupaten Karanganyar.
Tim gabungan berupaya mengisolasi titik api agar tidak terus meluas. Namun, kondisi medan yang terjal menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman melalui jalur darat.
Medan Terjal Hambat Pemadaman
Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Roy Hardi Siahaan mengatakan kondisi medan di kawasan kebakaran menyulitkan petugas untuk menjangkau titik api menggunakan peralatan berat.
"Kondisi medan untuk naik ke atas sangat tidak memungkinkan menggunakan alat berat. Saat ini tim di lapangan memanfaatkan alat seadanya untuk melokalisir api agar tidak terus meluas," ungkap Roy.
Keterbatasan akses tersebut membuat penanganan perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi medan dan keselamatan personel. Petugas di lapangan terus berupaya membatasi pergerakan api agar tidak menjalar ke kawasan hutan yang lebih luas.
Helikopter Water Bombing Disiapkan
Untuk memperkuat upaya pemadaman, Polda Jawa Tengah berkoordinasi dengan Mabes Polri dan TNI terkait rencana pengerahan helikopter water bombing dari Semarang.
Operasi tersebut direncanakan untuk membantu menyiram titik-titik api dari udara, terutama di kawasan yang sulit dijangkau petugas darat.
Selain pemadaman melalui udara, Pemkab Karanganyar bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengkaji kemungkinan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan.
Langkah tersebut masih dalam tahap pengkajian sebagai salah satu opsi untuk mendukung penanganan kebakaran.