- • BEM Universitas Indonesia (BEM UI) bersama aliansi mahasiswa dan masyarakat sipil merencanakan aksi lanjutan pada Rabu, 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.
- • Berbeda dari demonstrasi 20 Oktober, aksi berikutnya diarahkan untuk menghimpun dukungan lebih luas, sementara lokasi yang diberitakan mengarah ke Bundaran Hotel Indonesia dan rincian tuntutan masih perlu dikonfirmasi.
- • Pada demonstrasi sebelumnya, mahasiswa membawa lima tuntutan terkait kebakaran hutan dan lahan, kebijakan ekonomi, ruang sipil, pemberantasan korupsi, serta biaya pendidikan.
INFORMASI.COM, Jakarta — Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) merencanakan aksi demonstrasi lanjutan bersama aliansi mahasiswa dan masyarakat sipil pada Rabu (28/10/2026). Aksi tersebut dijadwalkan bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, tiga hari setelah BEM UI menyampaikan seruan untuk menggalang partisipasi dalam demonstrasi berikutnya.
Rencana ini melanjutkan aksi evaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang berlangsung pada Selasa (20/10/2026). Dalam demonstrasi sebelumnya, mahasiswa menyuarakan lima tuntutan yang mencakup persoalan lingkungan, ekonomi, kebebasan sipil, korupsi, dan pendidikan.
Aksi 28 Oktober diproyeksikan menjadi momentum untuk memperluas keterlibatan generasi muda dalam menyampaikan aspirasi. Namun, sejumlah detail pelaksanaan, termasuk susunan akhir tuntutan dan waktu dimulainya aksi, masih perlu dipastikan melalui keterangan resmi penyelenggara.
Kapan dan di Mana Aksi BEM UI Berikutnya?
BEM UI bersama aliansi mahasiswa yang tergabung dalam Komite Selamatkan Daulat Rakyat atau Komite Sadar merencanakan demonstrasi pada 28 Oktober 2026. Tanggal tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda yang setiap tahun menjadi momentum untuk mengangkat peran generasi muda dalam kehidupan berbangsa.
Sejumlah pemberitaan pada 26 Oktober 2026 menyebut Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, sebagai lokasi aksi yang direncanakan. Meski demikian, masyarakat tetap perlu memantau pengumuman penyelenggara untuk memastikan titik pelaksanaan dan waktu berkumpul.
Wakil Ketua BEM UI 2026, Fathimah Azzahra, sebelumnya menyampaikan bahwa aliansi mahasiswa ingin menggalang dukungan yang lebih besar untuk aksi berikutnya. Sementara itu, Koordinator Sosial dan Politik BEM UI, Hafidz Hernanda, menjelaskan bahwa peringatan Sumpah Pemuda menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk menyuarakan aspirasi mereka.
Rincian jumlah peserta yang akan hadir pada 28 Oktober belum dapat dipastikan. Begitu pula dengan daftar organisasi yang akan bergabung, karena konsolidasi antarkampus masih menjadi bagian dari persiapan aksi.
Apa yang Berbeda dari Demonstrasi 20 Oktober?
Perbedaan utama terletak pada momentum, skala gerakan yang ingin dihimpun, dan proses penyusunan agenda tuntutan.
Demonstrasi pada 20 Oktober 2026 berlangsung bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Aksi digelar di dua titik di Jakarta Pusat, yakni kawasan Tugu Proklamasi pada pagi hari dan Tugu Tani pada sore hari.
BEM UI bersama mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi dan elemen masyarakat sipil menggunakan aksi tersebut untuk menyampaikan evaluasi terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Dalam demonstrasi di Tugu Tani, peserta juga mencoba pendekatan berbeda dengan tidak mengenakan jas almamater dan mengurangi dominasi orasi panjang.
Wakil Ketua BEM UI, Fathimah Azzahra, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut merupakan upaya untuk menciptakan aksi yang lebih terbuka dan membaur dengan masyarakat. Mahasiswa juga menyiapkan mekanisme untuk mengantisipasi provokasi selama demonstrasi.
Sementara itu, aksi 28 Oktober 2026 direncanakan sebagai kelanjutan gerakan yang melibatkan mahasiswa lintas kampus dan masyarakat sipil. Momentum Sumpah Pemuda memberikan konteks berbeda karena penyelenggara ingin mengangkat suara generasi muda mengenai persoalan yang dinilai memengaruhi masa depan mereka.
Meski demikian, belum ada kepastian bahwa demonstrasi mendatang akan menggunakan format yang sama dengan aksi 20 Oktober 2026. Bentuk kegiatan, susunan acara, dan mekanisme pelaksanaan masih perlu menunggu informasi lanjutan dari penyelenggara.
Lima Tuntutan yang Dibawa dalam Aksi 20 Oktober
Dalam demonstrasi pada 20 Oktober, BEM UI bersama elemen yang tergabung dalam Komite Sadar menyampaikan lima tuntutan kepada pemerintah.
Pertama, penanganan kebakaran hutan dan lahan. Mahasiswa mendesak pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional, mengusut pihak yang diduga bertanggung jawab, serta memulihkan ekosistem yang terdampak.
Kedua, pembenahan kebijakan ekonomi. Mahasiswa meminta pemerintah memperbaiki tata kelola ekonomi nasional untuk mengatasi ketimpangan sosial dan persoalan yang dirasakan masyarakat.
Ketiga, perlindungan ruang sipil. Massa mendesak penghentian penyempitan ruang sipil dan militerisasi yang mereka nilai mengancam supremasi sipil.
Keempat, pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Tuntutan ini menekankan pentingnya penegakan hukum dan pemberantasan praktik KKN dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Kelima, penurunan biaya pendidikan. Mahasiswa meminta pemerintah mewujudkan sistem pendidikan yang lebih terjangkau dan berpihak kepada masyarakat.
Fathimah menjelaskan bahwa sebagian tuntutan tersebut telah berulang kali disampaikan mahasiswa. Namun, menurut dia, mahasiswa merasa persoalan-persoalan itu masih membutuhkan perhatian dan perubahan yang lebih nyata.
Kelima tuntutan tersebut menjadi dasar aspirasi dalam demonstrasi 20 Oktober. Adapun apakah seluruh tuntutan akan kembali dibawa pada 28 Oktober atau mengalami perubahan, hal itu masih menunggu hasil konsolidasi terbaru.
Mengapa Aksi 28 Oktober Berpotensi Lebih Besar?
BEM UI dan aliansi mahasiswa menyampaikan keinginan untuk menghimpun dukungan publik yang lebih luas dalam aksi berikutnya. Harapan tersebut muncul setelah demonstrasi 20 Oktober melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi bersama unsur masyarakat sipil.
Pada aksi 20 Oktober, BEM UI memperkirakan sekitar 500–700 mahasiswa dan unsur masyarakat sipil akan mengikuti demonstrasi di Tugu Tani. Peserta yang dikabarkan bergabung berasal dari sembilan kampus, termasuk Universitas Indonesia, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Brawijaya, Universitas Gadjah Mada, Politeknik Negeri Jakarta, Universitas Diponegoro, UPN Veteran Yogyakarta, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Airlangga.
Jumlah tersebut merupakan perkiraan untuk aksi 20 Oktober, bukan proyeksi jumlah peserta pada 28 Oktober. Belum ada angka resmi yang dapat memastikan berapa banyak orang yang akan mengikuti demonstrasi lanjutan.
Perluasan partisipasi juga bergantung pada hasil konsolidasi lintas kampus, dukungan masyarakat sipil, serta kesepakatan mengenai agenda yang akan dibawa. Karena itu, rencana menggelar aksi lebih besar belum dapat disamakan dengan kepastian jumlah massa yang akan hadir.
Selain jumlah peserta, efektivitas demonstrasi juga bergantung pada kejelasan tuntutan dan respons pemerintah terhadap aspirasi yang disampaikan. Perluasan gerakan tidak otomatis menjamin tuntutan akan dipenuhi, tetapi dapat memperbesar ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan evaluasi terhadap kebijakan publik.
Tuntutan Baru Masih Menunggu Hasil Konsolidasi
Menjelang aksi 28 Oktober, BEM UI dan aliansi mahasiswa masih mematangkan agenda yang akan disampaikan. Pihak penyelenggara sebelumnya menyebut bahwa rincian tuntutan untuk demonstrasi berikutnya masih dibicarakan bersama elemen yang terlibat.
Isu yang menjadi perhatian mahasiswa mencakup penegakan hukum, pemberantasan korupsi, perlindungan lingkungan hidup, dan jaminan masa depan generasi muda. Namun, daftar tersebut belum dapat diperlakukan sebagai susunan resmi tuntutan aksi 28 Oktober sebelum penyelenggara mengumumkannya secara lengkap.
Kepastian agenda menjadi penting karena demonstrasi berikutnya tidak hanya berlangsung dalam momentum peringatan Sumpah Pemuda, tetapi juga merupakan kelanjutan dari evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Publik juga perlu membedakan antara tuntutan yang telah disampaikan pada 20 Oktober dan agenda yang masih dirumuskan untuk 28 Oktober. Pembedaan tersebut membantu memastikan informasi mengenai aksi tidak mencampuradukkan keputusan yang sudah diumumkan dengan rencana yang masih berkembang.
Aksi Lanjutan Menjadi Ujian Konsolidasi Mahasiswa
Rencana demonstrasi pada 28 Oktober menunjukkan bahwa aksi 20 Oktober bukan satu-satunya agenda penyampaian aspirasi yang disiapkan BEM UI dan aliansinya. Mahasiswa berupaya melanjutkan kritik terhadap berbagai persoalan publik melalui konsolidasi lintas kampus dan keterlibatan masyarakat sipil.
Ada tiga hal yang patut diperhatikan menjelang aksi berikutnya: kepastian lokasi dan waktu, jumlah elemen yang akan bergabung, serta rumusan akhir tuntutan yang disampaikan kepada pemerintah.
Berbeda dari demonstrasi 20 Oktober yang secara khusus bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, aksi 28 Oktober membawa momentum Hari Sumpah Pemuda dan harapan untuk menghimpun suara generasi muda secara lebih luas.
Namun, besarnya partisipasi dan perubahan agenda belum dapat dipastikan sebelum penyelenggara menyampaikan informasi resmi. Perkembangan konsolidasi serta respons pemerintah terhadap tuntutan sebelumnya akan menjadi bagian penting untuk memahami arah gerakan mahasiswa berikutnya.