Demo 28 Oktober di Jakarta: Tuntutan Massa, Artis yang Hadir, hingga Situasi di Lapangan

Demo 28 Oktober di Jakarta: Tuntutan Massa, Artis yang Hadir, hingga Situasi di Lapangan
Demo 28 Oktober 2026 di Bundaran HI. Foto: Instagram/@ade.irwn21

Traktir Redaksi

Suka dengan artikel ini? Dukung jurnalisme Informasi.com dengan scan QRIS di bawah melalui m-banking atau e-wallet.

QRIS Media Informasi Dunia Simpan QRIS
Ikhtisar
  • • Ribuan mahasiswa dan elemen masyarakat sipil menggelar aksi #IndonesiaSadar di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada Rabu, 28 Oktober 2026. Mereka menyampaikan lima tuntutan terkait lingkungan, anggaran negara, pendidikan, penegakan hukum, serta kebebasan sipil.
  • • Aksi sempat diwarnai perdebatan dengan polisi, aksi saling dorong, dan penggunaan gas air mata serta kendaraan penyemprot air menurut laporan media. Sejumlah artis, termasuk Eva Celia, Reza Rahadian, Wanda Hamidah, dan Andovi da Lopez, terlihat hadir di tengah massa.
  • • Hujan deras pada malam hari mendorong sebagian demonstran meninggalkan lokasi. Arus lalu lintas di sekitar Bundaran HI kembali dibuka secara bertahap, sedangkan petugas kebersihan menyelesaikan pembersihan lokasi hingga dini hari.

INFORMASI.COM, Jakarta — Demonstrasi bertajuk #IndonesiaSadar mewarnai peringatan Hari Sumpah Pemuda di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Rabu, 28 Oktober 2026. Aksi yang melibatkan mahasiswa dan elemen masyarakat sipil tersebut membawa lima tuntutan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Sepanjang hari, massa menyampaikan aspirasi melalui orasi, spanduk, dan berbagai poster. Namun, perjalanan demonstrasi tidak sepenuhnya berlangsung lancar. Sejumlah peserta sempat tertahan barikade polisi, ketegangan muncul ketika massa berusaha mencapai Bundaran HI, dan arus lalu lintas di sekitar Jalan MH Thamrin serta Jalan Jenderal Sudirman mengalami gangguan.

Aksi tersebut juga menarik perhatian karena kehadiran sejumlah figur publik yang terlihat bergabung dengan demonstran. Situasi berubah menjelang malam ketika hujan deras mengguyur kawasan pusat Jakarta. Sebagian massa kemudian membubarkan diri, sementara aparat dan petugas terkait mengatur kondisi lokasi hingga lalu lintas kembali dibuka.

Lima Tuntutan Mahasiswa dalam Aksi #IndonesiaSadar

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR) dan elemen masyarakat sipil menggelar aksi dengan seruan, “Prabowo Gibran, Ini Lima Perintah Rakyat! Tepati atau Pergi!”

Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI, Hafidz Hernand, memimpin aksi yang mulai dipadati peserta sekitar pukul 14.30 WIB. Massa membawa tuntutan yang mencakup persoalan lingkungan hingga perlindungan hak asasi manusia.

Lima tuntutan yang disampaikan dalam demonstrasi tersebut meliputi:

  1. 1.
    Penanganan krisis ekologis. Massa mendesak pemerintah menetapkan status bencana nasional, mengadili korporasi yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan, serta menuntaskan persoalan tata kelola lahan.
  2. 2.
    Evaluasi anggaran negara. Mahasiswa meminta APBN lebih berorientasi pada kepentingan masyarakat dan menolak pemborosan anggaran untuk program yang mereka nilai tidak menjadi prioritas, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).
  3. 3.
    Perbaikan akses pendidikan dan pekerjaan. Massa menuntut penurunan biaya pendidikan, pemerataan layanan dasar, serta penyediaan lapangan kerja yang layak dan berkualitas.
  4. 4.
    Pemberantasan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Mahasiswa mendesak penegakan hukum yang adil serta pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
  5. 5.
    Perlindungan kebebasan sipil dan HAM. Massa meminta pemerintah menjamin kebebasan berpendapat, mengadili pelanggaran HAM, serta menghentikan militerisasi di ruang sipil.

Tuntutan tersebut menunjukkan bahwa demonstrasi tidak hanya berfokus pada satu kebijakan. Mahasiswa menghubungkan persoalan lingkungan, penggunaan anggaran, akses pendidikan, dan penegakan hukum dengan evaluasi terhadap arah pemerintahan.

Dalam aksi itu, peserta juga membentangkan spanduk bertuliskan “Hutan Bukan Milik Oligarki, Alam Harus Dilindungi, Perusak Harus Diadili”. Pesan tersebut mempertegas perhatian demonstran terhadap kerusakan lingkungan dan pertanggungjawaban pihak yang dinilai terlibat.

Massa Tertahan Polisi, Ketegangan Muncul di Bundaran HI

Sebelum massa berkumpul di Bundaran HI, aparat kepolisian telah bersiaga di sejumlah titik untuk mengatur pergerakan peserta dan menjaga keamanan. Namun, situasi memanas ketika rombongan mahasiswa berusaha menuju lokasi demonstrasi dan tertahan barikade polisi di sekitar Gedung UOB, kawasan Dukuh Atas.

Polisi meminta peserta menyampaikan aspirasi di lokasi yang telah difasilitasi aparat. Sejumlah mahasiswa menolak pembatasan tersebut karena ingin melanjutkan aksi menuju Bundaran HI.

Perbedaan posisi itu memicu perdebatan antara peserta demonstrasi dan petugas. Dalam situasi yang semakin padat, terjadi aksi saling dorong. Sejumlah mahasiswa juga dilaporkan pingsan ketika massa berdesakan di tengah pengamanan.

Ketegangan tidak hanya terjadi di sekitar Gedung UOB. Aparat juga membatasi pergerakan massa di beberapa titik menuju kawasan demonstrasi. Komite SADAR menyebut jumlah peserta aksi mencapai sekitar 4.000 orang, meskipun angka tersebut merupakan perkiraan yang disampaikan penyelenggara.

Di tengah situasi itu, peserta tetap menyampaikan aspirasi melalui orasi dan membentangkan spanduk. Sejumlah demonstran juga melaksanakan salat Asar di kawasan air mancur Bundaran HI ketika ketegangan dengan aparat masih berlangsung.

Kejadian tersebut memperlihatkan tantangan pengamanan demonstrasi di ruang publik yang juga menjadi pusat mobilitas warga. Di satu sisi, mahasiswa ingin menyampaikan tuntutan di lokasi yang mereka pilih. Di sisi lain, polisi berupaya mengendalikan pergerakan massa dan menjaga ketertiban.

Eva Celia hingga Reza Rahadian Terlihat di Tengah Massa

Selain tuntutan politik dan sosial, kehadiran sejumlah artis menjadi salah satu perhatian dalam demonstrasi 28 Oktober. Beberapa figur publik terlihat bergabung dengan massa, baik untuk menyampaikan aspirasi maupun membantu kebutuhan peserta aksi.

Penyanyi dan aktris Eva Celia serta aktor Reza Rahadian termasuk figur publik yang dilaporkan hadir di kawasan Bundaran HI. Foto Eva menarik perhatian warganet karena ia mengenakan kaus putih bertuliskan “Join Us. We fight for a clean government”, yang berarti ajakan untuk bersama-sama memperjuangkan pemerintahan yang bersih.

Penampilan Eva dengan topi biru dan kacamata juga menjadi bahan perbincangan di media sosial. Sebagian warganet membandingkan gaya berpakaiannya dengan Dono, anggota grup komedi Warkop DKI. Namun, perbandingan tersebut merupakan respons warganet dan belum dikonfirmasi sebagai inspirasi busana Eva.

Selain Eva dan Reza, sejumlah artis lain dilaporkan hadir, antara lain Wanda Hamidah, Shahnaz Soehartono, Andovi da Lopez, Meira Anastasia, Irfan Rizky Hawari, serta Hamidah Rachmayanti bersama suaminya.

Zaskia Adya Mecca juga menjadi sorotan karena dilaporkan membawa ambulans, tenaga medis, dan logistik untuk membantu peserta demonstrasi. Kehadiran dukungan medis menjadi penting di tengah kondisi massa yang berdesakan dan cuaca yang berubah pada sore hingga malam hari.

Meski kehadiran figur publik menambah perhatian terhadap aksi tersebut, alasan pribadi masing-masing artis dan tuntutan yang secara khusus mereka dukung tetap perlu merujuk pada pernyataan langsung dari pihak terkait.

Pemerintah Buka Ruang untuk Menampung Aspirasi

Di tengah berlangsungnya demonstrasi, Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Listyo Sigit Prabowo menyatakan pemerintah menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat di muka umum.

Listyo juga menyampaikan bahwa KSP siap menampung aspirasi dari perwakilan mahasiswa dan peserta aksi lainnya. Namun, pernyataan tersebut belum berarti pemerintah telah menerima atau menyetujui seluruh tuntutan demonstran.

Setiap tuntutan memiliki jalur penyelesaian yang berbeda. Persoalan karhutla membutuhkan koordinasi lembaga lingkungan hidup dan penegak hukum, sedangkan perubahan anggaran negara berkaitan dengan proses perencanaan serta pembahasan fiskal. Tuntutan mengenai pendidikan, pekerjaan, dan kebebasan sipil juga memerlukan pembahasan bersama lembaga yang berwenang.

Karena itu, perkembangan setelah aksi menjadi penting untuk melihat apakah keterbukaan pemerintah akan berlanjut menjadi dialog substantif dan tindak lanjut kebijakan.

Sementara itu, kepolisian mengatur arus kendaraan di sekitar kawasan demonstrasi. Penutupan jalan di sekitar Bundaran HI berdampak pada pergerakan kendaraan di Jalan MH Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman. Layanan Transjakarta di sekitar lokasi juga sempat dialihkan, sedangkan sejumlah halte tidak beroperasi selama situasi belum memungkinkan.

Menjelang Malam, Hujan Deras dan Ketegangan Kembali Terjadi

Memasuki sore hingga malam, sebagian massa masih bertahan di kawasan Bundaran HI dan Halte Tosari untuk melanjutkan orasi. Sejumlah demonstran menyalakan flare, sementara ketegangan dengan aparat kembali terjadi di beberapa titik.

Laporan media menyebut bentrokan sempat terjadi sekitar pukul 18.20 WIB. Aparat dilaporkan menggunakan gas air mata dan kendaraan penyemprot air atau water cannon untuk membubarkan massa yang bertahan.

Penggunaan kedua sarana tersebut menandai meningkatnya ketegangan menjelang malam. Namun, situasi di setiap titik tidak seragam: sebagian peserta tetap bertahan di sekitar Bundaran HI, sementara kelompok lain mulai meninggalkan lokasi.

Hujan deras yang mengguyur kawasan Dukuh Atas sekitar pukul 19.00 WIB kemudian membuat lebih banyak peserta mencari tempat berteduh atau pulang. Sebagian massa bergerak menuju kawasan pusat perbelanjaan Grand Indonesia, sedangkan kelompok lain masih bertahan di sekitar pos polisi dan halte.

Di tengah kondisi tersebut, petugas kepolisian mengimbau peserta yang mulai terpencar agar membubarkan diri secara tertib. Petugas gabungan tetap berjaga untuk memantau situasi dan mengantisipasi perkembangan lanjutan.

Sekitar pukul 19.15 WIB, massa aksi BEM UI bersama sejumlah elemen masyarakat mulai membubarkan diri akibat hujan. Meski begitu, beberapa titik masih dipadati demonstran sehingga proses pengosongan kawasan berlangsung bertahap.

Arus Lalu Lintas Kembali Dibuka, Jakarta Dibersihkan hingga Dini Hari

Setelah massa meninggalkan sebagian besar lokasi, petugas mulai memulihkan arus lalu lintas di sekitar Bundaran HI. Berdasarkan laporan di lapangan, kendaraan kembali dapat melintas di ruas Jalan MH Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman sekitar pukul 20.10 WIB.

Pembukaan jalan dilakukan setelah kepadatan massa berkurang. Aparat masih berjaga dan menyisir kawasan yang sebelumnya digunakan untuk demonstrasi guna memastikan situasi tetap terkendali.

Pada Kamis, 29 Oktober 2026, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan tidak menerima laporan kerusakan fasilitas publik akibat rangkaian aksi tersebut. Ia juga mengapresiasi peran aparat keamanan, petugas kebersihan, dan peserta demonstrasi yang dinilai turut menjaga fasilitas umum.

Pramono menjelaskan bahwa petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU), yang dikenal sebagai pasukan oranye, membersihkan lokasi-lokasi aksi hingga sekitar pukul 01.00 WIB. Pada pukul 02.00 WIB, seluruh fasilitas publik di Jakarta dilaporkan telah bersih.

“Dari laporan yang ada sampai dengan tadi malam, tidak ada kerusakan apa pun terhadap fasilitas publik yang ada di Jakarta,” kata Pramono pada Kamis.

Ia juga mengingatkan bahwa ruang publik merupakan milik bersama sehingga perlu dijaga oleh seluruh masyarakat, termasuk ketika demonstrasi berlangsung.

Pernyataan tersebut memberikan gambaran kondisi Jakarta setelah aksi berakhir. Meskipun demonstrasi sempat diwarnai ketegangan dan mengganggu lalu lintas, pemerintah provinsi menyatakan fasilitas publik tetap terjaga dan pembersihan telah diselesaikan pada dini hari.

Aspirasi Telah Disampaikan, Tindak Lanjut Masih Dinantikan

Demonstrasi #IndonesiaSadar pada 28 Oktober 2026 mempertemukan berbagai isu yang menjadi perhatian mahasiswa dan masyarakat sipil. Lima tuntutan yang disampaikan mencakup penanganan krisis ekologis, evaluasi anggaran negara, perbaikan pendidikan dan lapangan kerja, pemberantasan korupsi, serta perlindungan kebebasan sipil.

Kehadiran sejumlah artis memperluas perhatian publik terhadap aksi tersebut, sementara ketegangan dengan aparat dan gangguan lalu lintas menunjukkan kompleksitas pengelolaan demonstrasi di pusat ibu kota.

Hujan deras akhirnya mendorong sebagian besar massa membubarkan diri. Setelah itu, arus lalu lintas berangsur pulih dan petugas kebersihan menyelesaikan pemulihan kawasan hingga dini hari.

Namun, berakhirnya demonstrasi tidak serta-merta menyelesaikan persoalan yang disuarakan massa. Pemerintah masih perlu menjelaskan bagaimana tuntutan tersebut akan ditangani, lembaga mana yang bertanggung jawab, dan apakah dialog dengan perwakilan mahasiswa akan dilakukan.

Bagi peserta aksi, tantangan berikutnya adalah memastikan tuntutan yang disampaikan di jalan mendapat pembahasan konkret. Bagi pemerintah, keterbukaan menerima aspirasi perlu diikuti tindak lanjut yang jelas agar demonstrasi tidak berhenti sebagai peristiwa sehari, melainkan menjadi bagian dari proses evaluasi kebijakan.

BAGIKAN
Add preferred source on Google
Anda harus login untuk memberikan komentar.