- • Cristiano Ronaldo melakukan aksi mogok bermain dengan absen dalam laga Al-Nassr atas Al-Riyadh meski menang 1-0.
- • Mogok main terjadi disinyalir karena kekecewaan Ronaldo pada kebijakan Public Investment Fund (PIF) yang dinilai pilih kasih terhadap Al-Hilal.
- • Konflik ini membuka opsi kepindahan Ronaldo yang masih diminati klub Eropa dan Liga Amerika Serikat (MLS) yang bisa mengancam proyek Liga Saudi.
INFORMASI.COM, Jakarta - Dunia sepak bola dikejutkan oleh aksi radikal Cristiano Ronaldo yang mogok bermain untuk Al-Nassr dalam laga melawan Al-Riyadh, akhir pekan kemarin.
Aksi ini diduga sebagai puncak gunung es dari kekecewaan mendalam sang megabintang terhadap kesenjangan pendanaan dan kebijakan transfer klub yang dianggap tidak ambisius.
Krisis yang melibatkan pemilik klub, ambisi pribadi, dan politik sepak bola Arab Saudi ini disinyalir bisa mempercepat kepergian ikon Portugal tersebut dari Pro League.
Kemenangan yang Hambar
Pada pertandingan lanjutan Saudi Pro League, Senin (2/2/2026), Al-Nassr berhasil meraih kemenangan tipis 1-0 atas Al-Riyadh berkat gol tunggal Sadio Mane. Namun, atmosfer kemenangan itu jauh dari sukacita.
Sorotan utama justru tertuju pada sosok yang tidak bermain malam tadi, Cristiano Ronaldo. Sang kapten, pencetak 18 gol dalam 22 pertandingan musim ini, sama sekali tidak berada di skuad maupun bangku cadangan.
Jurnalis olahraga Italia, Fabrizio Romano, dengan cepat mengonfirmasi bahwa absennya Ronaldo bukanlah persoalan cedera atau manajemen kebugaran.
“ Ketidakhadirannya tidak terkait dengan masalah fisik apa pun, beban kerja, atau manajemen kebugaran. ”
— Tulis Fabrizio Romano dalam akun media sosial miliknya.
Pernyataan ini membuka pintu spekulasi bahwa ketidakhadiran Ronaldo adalah aksi protes yang disengaja, sebuah "mogok" yang langka dalam kariernya.
African champion. Tonight’s standout. Mané 🌍⭐ pic.twitter.com/jUMOyiJvMK
— AlNassr FC (@AlNassrFC_EN) February 2, 2026
Kesenjangan Transfer yang Mencolok dan Politik PIF
Laporan dari media Portugal A Bola mengungkapkan akar kemarahan Ronaldo. Sebuah sumber di dalam klub menyatakan bahwa sang legenda tidak bahagia dengan cara Public Investment Fund (PIF), lembaga pengelola dana kekayaan Arab Saudi, menangani keuangan Al-Nassr. PIF memegang 75% saham di empat klub unggulan liga: Al-Nassr, Al-Hilal, Al-Ittihad, dan Al-Ahli.
Ronaldo merasa ada ketidakadilan sistematis. Ia melihat rival-rivalnya, khususnya Al-Hilal, mendapatkan dukungan transfer yang jauh lebih agresif dan fleksibel dari pemilik yang sama. Kesenjangan ini terasa sangat nyata dalam jendela transfer Januari 2026 yang baru saja berakhir.
Al-Nassr hanya melakukan satu perekrutan yakni gelandang muda Irak Haydeer Abdulkareem (21 tahun). Sementara Al-Hilal mendatangkan bek tengah Spanyol Pablo Mari dengan harga sekitar US$2,1 juta, penyerang Rennes Kader Meite seharga sekitar US$32,5 juta, dan dikabarkan sedang menyelesaikan transfer Neom Saimon Bouabre senilai sekitar US$32,5 juta lagi.
Namun, pukulan psikologis terberat bagi Ronaldo adalah kepindahan Karim Benzema, rekan lamanya di Real Madrid, ke Al-Hilal. OneFootball melaporkan bahwa kepindahan ini membuat Ronaldo merasa diperlakukan secara tidak adil.
Ia memandang perpindahan Benzema sebagai bukti terang benderang ketidakseimbangan dalam liga, di mana klub-klub yang seharusnya setara di bawah PIF justru mendapatkan perlakuan dan tingkat dukungan yang berbeda.
🚨💣 BREAKING: Karim Benzema signs in as new Al Hilal player from Al Ittihad, HERE WE GO! 🔵🇸🇦
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) February 2, 2026
Former Ballon d’Or leaves Al Ittihad to join Inzaghi’s project at Al Hilal with immediate effect.
Benzema agreed on all terms tonight. 🇫🇷 pic.twitter.com/eJdcEteWHk
Sinyal Kepergian CR7 dan Konflik yang Melebar
Kekecewaan Ronaldo sebenarnya sudah terendus beberapa waktu sebelumnya. Dalam sebuah acara penghargaan di Dubai pada Desember 2025, Ronaldo disebut telah memberikan sinyal tentang masa depan karirnya.
Ia juga menegaskan bahwa ambisi pribadinya untuk mencapai 1.000 gol dalam karier tetap berlaku di mana pun ia bermain. Saat ini Ronaldo mengoleksi 961 gol sepanjang karirnya. Bukan perkara mudah, mencetak 39 gol sisanya merupakan sebuah target yang harus membutuhkan tim kompetitif untuk membantunya merobek gawang lawan.
“ Semangat saya tinggi dan saya ingin terus bermain. Tidak masalah di mana saya bermain, baik di Timur Tengah maupun Eropa. ”
— Demikian Ronaldo berbicara seperti dikutip Daily Mail.
Situasi di Al Nassr dan Liga Saudi makin panas setelah pelatih Al-Nassr, Jorge Jesus, ternyata memiliki keluhan serupa.
Sebulan sebelum Ronaldo mogok bermain, Jesus secara terbuka mengungkapkan pernyataan kontoversial.
“ Al Nassr tidak memiliki kekuatan politik seperti Al-Hilal. ”
— Jorge Jesus berkata sebulan lalu.
Perlu diingat, Jorge Jesus bercakap tidak sembarangan. Sebab, Jesus merupakan eks pelatih Al-Hilal.
Tentu, komentar blak-blakan Jesus itu membuat Al-Hilal meradang. Mereka pun meminta operator liga untuk memberikan sanksi suspensi enam bulan hingga satu tahun kepada Jesus. Namun, hingga kini belum ada keterangan lebih lanjut apakah Jesus mendapatkan sanksi dari operator liga.
Perseteruan antara klub yang dimiliki oleh entitas yang sama ini semakin memperjelas kompleksitas dan ketegangan di balik layar Saudi Pro League.
GOAL NO 961 FOR RONALDO 🐐
— 𝐇𝐚𝐫𝐫𝐲 ★ (@HarryRMFC_) January 30, 2026
pic.twitter.com/lTOCnwjPkv
Kontradiksi dan Kritik: Apakah Protes Ronaldo Beralasan?
Di tengah gelombang simpati kepada Ronaldo, muncul pula sudut pandang kritis yang mempertanyakan dasar protesnya. The Guardian, dalam kolom Football Daily-nya, mengungkapkan dua kontradiksi besar dalam argumen Ronaldo.
Pertama, dari perspektif pengeluaran transfer, Al-Nassr sebenarnya bukan klub yang pelit. Pada musim panas sebelumnya, klub telah mengeluarkan dana hampir US$125 juta untuk mendatangkan pemain-pemain berkualitas Eropa seperti Mohamed Simakan dari RB Leipzig (sekitar $37,5 juta), João Félix dari Chelsea (sekitar $32,5 juta), dan Kingsley Coman dari Bayern Munich (sekitar $27 juta). Pengeluaran ini hanya kalah dari Al-Hilal di antara semua klub yang didanai PIF.
Kedua, dan yang paling sering disorot, adalah beban gaji Ronaldo sendiri. The Guardian menghitung gaji mingguannya yang bebas pajak mencapai sekitar $4,7 juta. Angka ini empat kali lipat lebih besar dari gaji pemain dengan bayaran tertinggi berikutnya di liga, yaitu Riyad Mahrez di Al-Ahli yang menerima sekitar $1,1 juta per minggu.
The Guardian menyatakan bahwa kontrak raksasa Ronaldo sendiri mungkin menjadi salah satu alasan yang membatasi ruang gerak finansial Al-Nassr di pasar transfer sehingga menimbulkan dilema antara membayar satu bintang super atau merekrut beberapa pemain penguat yang dibutuhkan.
Masa Depan Ronaldo
Manajemen Al-Nassr kini berada di posisi sulit. Di satu sisi, mereka tidak bisa membiarkan aksi mogok seorang pemain, sekalipun ia adalah Cristiano Ronaldo, tanpa konsekuensi.
OneFootball melaporkan bahwa pihak klub sedang mempersiapkan sanksi untuk Ronaldo atas ketidakhadirannya yang tidak diizinkan. Namun, memberikan hukuman kepada ikon global tersebut berisiko memperbesar retakan dan mendorongnya lebih cepat ke pintu keluar.
Pintu exit itu memang terbuka. Kontrak Ronaldo diketahui memiliki klausul yang memungkinkannya meninggalkan Al-Nassr pada Juni 2026.
Ketegangan yang memuncak ini membuat kemungkinan kepindahan tersebut menjadi sangat realistis, bahkan lebih cepat dari jadwal.
Minat dari klub-klub Eropa dan Liga Major League Soccer (MLS) Amerika Serikat dilaporkan semakin menguat. Mereka melihat peluang langka untuk mendatangkan salah satu nama terbesar dalam sejarah sepak bola, yang masih memiliki ambisi kompetitif dan daya tarik komersial yang tak tertandingi.
Dengan posisi Al-Nassr yang masih berpeluang mengejar gelar juara, resolusi konflik ini harus ditemukan dengan cepat. Tentu, hengkangnya Ronaldo juga bisa jadi kerugian bagi Al Nassr maupun Liga Saudi.
Lantas, apakah akan ada perubahan kebijakan dari PIF, ataukah ini benar-benar menjadi akhir dari petualangan Ronaldo di Timur Tengah?