- • Kapolresta Bandung resmi menggagas pembentukan Satgas Bobotoh guna mempererat sinergi antara aparat kepolisian dan kelompok pendukung Persib Bandung.
- • Satuan tugas ini melibatkan empat elemen utama, yakni Viking, Bobotoh, Boboko, dan Bomber, untuk menjaga keamanan serta ketertiban selama pertandingan.
- • Tupoksi utama satgas berfokus pada pengawasan internal komunitas, peneguran suporter provokatif, serta edukasi kultur sepak bola yang lebih beradab.
INFORMASI.COM, Jakarta - Kepolisian Resor Kota (Polresta) Bandung resmi mengambil langkah persuasif dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Bobotoh. Pembentukan wadah ini bertujuan untuk menjadikan kelompok suporter sebagai mitra aktif aparat kepolisian dalam mencegah kericuhan serta pelanggaran tata tertib di dalam maupun di luar stadion.
Proses pembentukan satgas ini melibatkan sinergi langsung antara aparat kepolisian, manajemen Persib, dan pimpinan komunitas suporter. Satuan pengamanan kolaboratif ini merepresentasikan empat elemen besar pendukung setia skuad Maung Bandung, yang meliputi perwakilan dari Viking, Bobotoh, Boboko, serta Bomber. Keterlibatan langsung dari akar rumput ini diharapkan mampu menciptakan suasana pertandingan yang aman, nyaman, dan kondusif.
Terkait tugas pokok dan fungsi (tupoksi), Satgas Bobotoh hadir bukan untuk mengambil alih peran aparat keamanan resmi dari negara. Satuan ini bertugas secara spesifik untuk membantu pengawasan langsung dari dalam komunitas suporter. Anggota satgas memiliki tanggung jawab untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) selama rangkaian pertandingan Persib berlangsung.
Dalam praktiknya di lapangan, personel satgas diinstruksikan untuk proaktif menegur individu atau kelompok yang menunjukkan perilaku provokatif hingga berpotensi merusak suasana pertandingan. Apabila teguran persuasif tersebut tidak diindahkan, satgas berkewajiban melaporkan oknum terkait kepada petugas kepolisian agar segera ditindaklanjuti secara hukum.
Lebih jauh lagi, kelompok ini juga mengemban misi edukasi jangka panjang. Mereka dituntut untuk membimbing sesama suporter agar mendukung tim kebanggaan dengan cara yang lebih beradab. Pendekatan antarsesama pendukung ini diyakini jauh lebih efektif untuk mendesak suporter meninggalkan kebiasaan lama yang kerap memicu gesekan fisik dengan pendukung klub rival. Kombes Pol. Tri Suhartanto menilai bahwa elemen suporter memiliki jangkauan pengawasan krusial terhadap titik-titik buta yang sering kali tidak terjangkau langsung oleh petugas berseragam.