Ainun, Guru SLB Tunanetra yang Raih Gelar S2 Setelah 23 Tahun, Buktikan Pendidikan Tak Kenal Batas

Ainun, Guru SLB Tunanetra yang Raih Gelar S2 Setelah 23 Tahun, Buktikan Pendidikan Tak Kenal Batas
Guru tunanetra di SLB Ainun mengikuti wisuda S2 UPI pada pertengahan Oktober. Foto: UPI

Traktir Redaksi

Suka dengan artikel ini? Dukung jurnalisme Informasi.com dengan scan QRIS di bawah melalui m-banking atau e-wallet.

QRIS Media Informasi Dunia Simpan QRIS
Ikhtisar
  • • Ainun, guru tunanetra di SLB Negeri Tasikmalaya, berhasil menyelesaikan pendidikan magister Pendidikan Khusus di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) setelah sekitar 23 tahun menamatkan pendidikan sarjana.
  • • Perkembangan teknologi pembaca layar NVDA membantunya menjalani perkuliahan dan menyelesaikan tugas secara lebih mandiri dibandingkan ketika menempuh S1.
  • • Pengalamannya sebagai pendidik mendorong Ainun melanjutkan studi sekaligus menyuarakan pentingnya pendidikan inklusif, aksesibilitas teknologi, dan penghapusan stigma terhadap penyandang disabilitas.

INFORMASI.COM, Jakarta — Ainun, seorang guru tunanetra di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Tasikmalaya, Jawa Barat, berhasil menyelesaikan pendidikan magister Pendidikan Khusus di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Pencapaian ini diraih setelah lebih dari dua dekade sejak ia menamatkan pendidikan sarjana di kampus yang sama.

Perjalanan Ainun menjadi gambaran bahwa kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri dapat terus terbuka, termasuk bagi penyandang disabilitas netra. Setelah bertahun-tahun mengabdikan diri sebagai guru, ia kembali ke bangku kuliah untuk memperdalam ilmu yang berkaitan langsung dengan pekerjaannya.

Sebelumnya, Ainun menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Pendidikan Sejarah UPI sekitar 23 tahun lalu. Setelah lulus, ia memilih berkarier sebagai guru di SLB. Pengalaman mendampingi peserta didik penyandang disabilitas kemudian mendorongnya mengambil pendidikan lanjutan yang lebih relevan dengan bidang pekerjaannya.

“Cuma kan ngajarnya dari awal saya di SLB ya, jadi makanya sekarang ada kesempatan ngambil S2 di Pendidikan Khusus biar sesuai dengan lapangan kerjanya, tempat kerjanya,” tutur Ainun, seperti dikutip dari pemberitaan mengenai pengalamannya yang dipublikasikan UPI.

Keputusan tersebut membuat Ainun kembali menjadi mahasiswa setelah sekian lama meninggalkan kegiatan akademik. Kali ini, ia tidak hanya membawa pengalaman sebagai lulusan perguruan tinggi, tetapi juga pengetahuan praktis dari pekerjaannya sebagai pendidik di sekolah luar biasa.

Teknologi Membantu Ainun Belajar Lebih Mandiri

Salah satu perubahan terbesar yang dirasakan Ainun selama menempuh pendidikan magister adalah perkembangan teknologi pendukung bagi penyandang disabilitas netra.

Ketika menjalani pendidikan sarjana sekitar dua dekade lalu, ia belum memiliki akses terhadap perangkat pembaca layar seperti yang tersedia sekarang. Untuk mempelajari materi perkuliahan, Ainun masih mengandalkan bantuan orang lain yang membacakan teks.

Kondisi tersebut membuat proses belajar membutuhkan dukungan tambahan. Materi tertulis yang dapat diakses secara langsung oleh mahasiswa lain belum tentu bisa dipelajari Ainun secara mandiri.

Situasinya berbeda ketika ia kembali kuliah di jenjang magister. Ainun memanfaatkan laptop dengan perangkat lunak pembaca layar NVDA atau NonVisual Desktop Access. Perangkat lunak ini membantu pengguna tunanetra mengakses informasi pada layar komputer melalui suara.

Dengan teknologi tersebut, Ainun dapat membaca materi digital yang kompatibel, mengetik, serta mengerjakan tugas kuliah secara lebih mandiri.

“Sekarang kan udah ada komputer bicara, ya laptop yang pakai pembaca layar NVDA. Jadi untuk mengetik tugas, ngerjain tugas bisa sendiri. Tidak terlalu mengandalkan reader atau orang melihat,” ujarnya.

Perkembangan teknologi bantu memberikan ruang lebih besar bagi Ainun untuk mengelola kegiatan akademiknya. Pengalaman tersebut juga memperlihatkan pentingnya akses terhadap teknologi dalam membuka kesempatan pendidikan yang lebih setara bagi penyandang disabilitas.

Kembali Beradaptasi dengan Lingkungan Kampus

Selain menghadapi tantangan akademik, Ainun perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus yang telah berubah sejak terakhir kali ia menempuh pendidikan sarjana.

Setelah lebih dari dua dekade, kondisi fisik UPI tidak lagi sama seperti yang diingatnya. Penambahan gedung dan perubahan tata ruang membuat Ainun harus kembali mengenali jalur serta lingkungan kampus.

Bagi penyandang disabilitas netra, orientasi dan mobilitas merupakan bagian penting dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Mengenali posisi bangunan, jalur menuju ruang kuliah, serta perubahan lingkungan membutuhkan proses adaptasi tersendiri.

Ainun mengakui bahwa UPI yang sekarang berbeda dari kampus yang dikenalnya ketika masih menjadi mahasiswa S1. Perubahan tersebut membuatnya perlu menyesuaikan kembali kemampuan orientasi dan mobilitasnya.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa aksesibilitas pendidikan tidak hanya berkaitan dengan materi pembelajaran. Lingkungan fisik kampus, petunjuk arah, layanan akademik, serta dukungan dari orang-orang di sekitar juga berperan dalam membantu mahasiswa penyandang disabilitas mengikuti perkuliahan.

Saat Teknologi Belum Sepenuhnya Aksesibel

Meski teknologi pembaca layar membantunya belajar lebih mandiri, Ainun masih menemukan kendala ketika mengakses sejumlah layanan digital di lingkungan kampus.

Ia menceritakan bahwa beberapa laman UPI belum sepenuhnya ramah bagi pengguna pembaca layar. Kendala tersebut pernah menyulitkannya saat mengunggah tugas maupun mengirimkan tesis melalui laman repositori.

Bagi pengguna teknologi bantu, situs web perlu memiliki struktur yang dapat dikenali pembaca layar. Tombol, menu, kolom isian, dan petunjuk navigasi harus dapat diakses agar pengguna dapat menyelesaikan tugas tanpa selalu membutuhkan bantuan orang lain.

Ketika elemen-elemen tersebut tidak terbaca dengan baik, proses yang sederhana bagi pengguna tanpa hambatan penglihatan dapat menjadi lebih sulit bagi penyandang disabilitas netra.

Ainun menilai aksesibilitas layanan digital perlu mendapat perhatian agar penyandang disabilitas dapat menggunakan fasilitas pendidikan secara lebih mandiri.

Di sisi lain, ia mengapresiasi keramahan orang-orang yang ditemuinya selama menjalani studi di UPI. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam membantu proses adaptasinya ketika kembali ke lingkungan akademik.

Pengalamannya sekaligus memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi perlu diikuti dengan penyediaan layanan digital yang inklusif. Teknologi pembaca layar akan memberikan manfaat lebih besar apabila situs web dan sistem akademik dirancang agar dapat digunakan oleh semua mahasiswa.

Ainun Dorong Penyandang Disabilitas Terus Mengenyam Pendidikan

Pengalaman panjang sebagai guru membuat Ainun memahami bahwa penyandang disabilitas masih menghadapi stigma di masyarakat. Sebagian orang masih memandang kondisi disabilitas sebagai keterbatasan yang membuat seseorang sulit mengembangkan kemampuan.

Padahal, setiap individu memiliki potensi yang dapat tumbuh melalui pendidikan, pelatihan, dan kesempatan yang sesuai. Menurut Ainun, masyarakat perlu memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan mereka, bukan membatasi kesempatan berdasarkan kondisi fisik.

Ia juga mengingatkan pentingnya penguasaan teknologi bagi penyandang disabilitas, terutama generasi muda yang sedang menempuh pendidikan.

Akses terhadap teknologi dapat membantu mereka memperoleh informasi, mengembangkan keterampilan, dan meningkatkan kemandirian. Karena itu, perkembangan teknologi seharusnya menjadi kesempatan yang dapat dimanfaatkan secara luas, termasuk oleh kelompok penyandang disabilitas.

Ainun turut berpesan kepada orang tua yang memiliki anak penyandang disabilitas agar tetap memberikan dukungan pendidikan dan tidak berkecil hati terhadap masa depan anak-anak mereka.

Menurutnya, kesempatan untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi perlu tetap terbuka. Dukungan keluarga, lingkungan pendidikan yang inklusif, serta akses terhadap teknologi dapat membantu anak mengembangkan potensi yang dimiliki.

Pendidikan Inklusif Membutuhkan Kesempatan yang Setara

Keberhasilan Ainun menyelesaikan pendidikan magister tidak hanya menjadi pencapaian akademik pribadi. Pengalamannya juga menyoroti pentingnya menciptakan sistem pendidikan yang dapat diakses oleh mahasiswa dengan kebutuhan yang beragam.

Perguruan tinggi perlu memastikan materi pembelajaran, sistem administrasi, dan layanan digital dapat digunakan oleh mahasiswa penyandang disabilitas. Lingkungan kampus juga perlu mendukung mobilitas dan kemandirian mereka selama mengikuti kegiatan akademik.

Di sisi lain, masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap penyandang disabilitas. Kondisi fisik seseorang tidak semestinya menjadi dasar untuk meragukan kemampuan atau membatasi kesempatan mereka memperoleh pendidikan.

Perjalanan Ainun dari mahasiswa Pendidikan Sejarah hingga meraih gelar magister Pendidikan Khusus memperlihatkan bahwa proses belajar dapat berlanjut pada berbagai tahap kehidupan. Pengalaman profesionalnya sebagai guru juga menjadi alasan untuk terus memperdalam pengetahuan yang berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari.

Kisah Ainun akhirnya membawa pesan bahwa pendidikan bukan sekadar tentang memperoleh gelar akademik. Pendidikan juga membuka kesempatan untuk meningkatkan kemampuan, memperluas wawasan, dan mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas.

BAGIKAN
Add preferred source on Google
Anda harus login untuk memberikan komentar.