- • Mantan Wamenlu Dino Patti Djalal menyayangkan serangkaian kritik tajam mantan Mendag Muhammad Lutfi terhadap Singapura yang dilontarkan usai rilis investigasi karhutla.
- • Lutfi sebelumnya mencecar Singapura terkait skema investasi, phantom FDI, transfer pricing, perjanjian pajak, hingga dugaan manuver status pasar saham MSCI.
- • Dino juga pernah menegaskan tuduhan konspirasi sabotase ekonomi oleh Singapura tidak rasional.
INFORMASI.COM, Jakarta — Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Dino Patti Djalal, secara terbuka menyampaikan kritik terhadap mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi atas aksi sang mantan menteri yang berulang kali menyerang Singapura. Pernyataan tersebut disampaikan Dino melalui unggahan di akun media sosial X miliknya pada Rabu, 28 Oktober 2026.
"Serangan-serangan yang obsesif dan tiada henti terhadap Singapura yang dilontarkan oleh mantan Menteri Perdagangan M. Lutfi sungguh mencengangkan," ujar Dino.
Dino menceritakan pengalamannya pernah bekerja sama dengan Lutfi selama satu dekade di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pada masa itu, Lutfi menjabat sebagai menteri perdagangan sekaligus menteri investasi, di mana ia bekerja keras memajukan kerja sama bilateral antara Indonesia dan Singapura.
"Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya, atau mengapa tiba-tiba sikapnya berubah drastis hingga merusak berbagai kontribusi yang sudah dibangun untuk hubungan Indonesia-Singapura—sesuatu yang sangat tidak mencerminkan dirinya. Namun, saya sungguh berharap ia baik-baik saja," kata Dino.
Rangkaian Kritik M. Lutfi terhadap Singapura
Latar belakang ketegangan ini bermula ketika pemerintah Singapura merilis hasil investigasi yang menyatakan bahwa 10 perusahaan di Indonesia diduga menjadi penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Peristiwa tersebut memicu timbulnya kabut asap yang berdampak hingga ke negara-negara tetangga, termasuk Singapura.
Sejak publikasi investigasi tersebut, Lutfi terpantau mengunggah sekitar lima video di Instagram yang berisi kritik tajam terhadap Singapura terkait investasi, perjanjian pajak, hingga dugaan pengalihan keuntungan modal dari Indonesia.
Dalam video yang diunggah pada Selasa sebelumnya, Lutfi menilai angka investasi besar dari Singapura ke Indonesia tidak otomatis mencerminkan asal-usul modal yang murni. Ia menduga sebagian dana investasi tersebut bersumber dari keuntungan kekayaan alam Indonesia yang dialirkan ke Singapura, kemudian diputar kembali ke dalam negeri.
Lutfi turut menyinggung praktik transfer pricing (penetapan harga transaksi antarperusahaan berelasi) yang disebutnya dapat dimanfaatkan untuk mengalihkan laba dari Indonesia ke yurisdiksi dengan tarif pajak lebih menguntungkan. Selain itu, ia membahas fenomena phantom foreign direct investment (phantom FDI), yakni investasi asing yang tercatat secara statistik dari suatu negara namun sumber modal aslinya belum tentu berasal dari negara tersebut. Skema pemindahan modal keluar masuk ini dikenal pula sebagai round-tripping. Kendati demikian, Lutfi tidak menyertakan rincian data atau metode perhitungan untuk mendukung klaim tersebut.
Eks Mendag tersebut juga mempersoalkan perjanjian pajak bilateral tahun 2020, dan menilai pemerintah perlu mengevaluasi aturan yang dinilai tidak memberi keuntungan memadai bagi Indonesia. Wacana Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berencana menurunkan status pasar saham lokal menjadi standalone market turut dikaitkan oleh Lutfi sebagai manuver dari pihak Singapura.
Tanggapan Dino atas Isu Konspirasi Singapura di Balik MSCI
Menanggapi narasi yang mengaitkan Singapura dengan wacana penurunan status pasar saham di MSCI, Dino Patti Djalal meluruskan bahwa pandangan tersebut sangat irasional dan tidak didasari pijakan geopolitik yang kuat.
"Pandangan yang belakangan beredar bahwa mereka sedang berkonspirasi untuk menjatuhkan pasar modal kita, mensabotase ekonomi, dan melalui lembaga itu mencoba merebut aset-aset kita dalam situasi fire sale atau jual serba murah, adalah pandangan yang tidak masuk akal dan jauh dari realitas yang sebenarnya," urai Dino yang dikutip pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Dino menilai menuduh Singapura memakai lembaga indeks global sebagai proksi untuk memiskinkan negara tetangga merupakan kontradiksi yang menyesatkan. Ia mengingatkan publik agar tidak mudah terprovokasi oleh sentimen ultranasionalisme semu yang justru memperkeruh suasana diplomasi.
Sikap Dino ini kemudian berkembang menjadi polemik di media sosial. Sejumlah netizen menuding Dino berpihak kepada Singapura, bahkan berhembus rumor bahwa dirinya bersama Saiful Mujani mendatangi Kedutaan Besar Singapura di Jakarta.
Menanggapi desas-desus tersebut, pihak Kedubes Singapura dan Dino Patti Djalal langsung memberikan bantahan tegas. Eks Wamenlu era SBY tersebut menegaskan bahwa dirinya sedang berada di Australia untuk menghadiri sebuah acara ketika rumor itu beredar.