Studi: Risiko Tabrakan Pesawat dengan Sampah Luar Angkasa Makin Besar

INFORMASI.COM, Jakarta - Sebuah studi memperlihatkan kemungkinan sampah luar angkasa menimpa pesawat terbang, makin besar. Jika ini terjadi, tabrakan sampah antariksa dengan pesawat terbang, bisa menjadi bencana yang besar.
Dikutip dari Science Alert, Selasa (11/2/2025), para peneliti di University of British Columbia di Kanada, mengamati data penerbangan di seluruh dunia untuk memodelkan distribusi pesawat di langit. Kemudian, model itu dibandingkan dengan catatan masuk kembali badan roket yang tidak terkendali.
Badan Penerbangan Federal AS Investigasi Insiden Malfungsi Roket SpaceXMeningkatkan risiko ini juga didorong sebagian oleh penyebaran satelit massal, seperti Starlink milik Space X. Makin banyak satelit roket dan pesawat yang mengudara, akan memperbesar peluang tabrakan.
Dalam makalah yang terbit di jurnal Scientific Reports, wilayah dengan kepadatan tertinggi, di sekitar bandara utama, berpeluang 0,8% per tahun terkena sampah luar angkasa
"Angka ini meningkat hingga 26% untuk wilayah udara yang lebih besar, tetapi masih sibuk, seperti di AS bagian timur laut, Eropa utara, atau di sekitar kota-kota besar di kawasan Asia Pasifik," tulis para peneliti.
Sekadar informasi, menurut The Aerospace Corporation, kemungkinan tabrakan pesawat yang fatal dengan benda yang jatuh dari luar angkasa mendekati 1: 100 ribu pada 2021. Ditambah lagi bongkahan kecil dari roket atau satelit seberat satu gram, bisa merusak kaca depan atau mesin pesawat.
Suatu wilayah udara bisa berpeluang ditutup jika gangguan penerbangan meningkat. Kondisi ini bisa memicu wilayah udara lain menjadi lebih padat serta penerbangan bisa tertunda atau dibatalkan.
Bukti Baru Ungkap Bulan Masih Aktif Secara GeologisIdentifikasi jalur masuk kembali puing-puing sampah antariksa sering menjadi tantangan. Ini menandakan wilayah udara yang lebih luas perlu ditutup untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seperti yang terjadi pada badan roket Long March 5B pada 2022.
Sebagai solusi, para peneliti mengusulkan investasi lebih besar terhadap peluncuran roket yang terkendali. Teknologi ini sudah ada, tetapi baru 35% peluncuran yang menggunakannya.
Para peneliti menyebut upaya meningkatkan keselamatan di dalam dan luar bumi perlu dukungan pemerintah dan swasta. Ditambah lagi ada lebih dari 2.300 badan roket yang sudah berada di orbit dan akan masuk ke orbit tanpa kendali.
"Otoritas wilayah udara akan menghadapi tantangan masuk kembali tanpa kendali selama beberapa dekade mendatang," tulis para peneliti.
(Penulis: Hanun Rifda Arabella)
Komentar (0)
Login to comment on this news