INFORMASI.COM, Jakarta - Crypto neobank tidak lagi sekadar bank digital yang menambahkan fitur jual-beli aset kripto. Memasuki 2026, model ini berevolusi menjadi platform multifungsi yang menopang teknologi pembayaran generasi baru.
Dalam perkembangannya, crypto neobank mulai menempatkan stablecoin sebagai uang inti, Layer-2 (L2) sebagai mesin penyelesaian transaksi (settlement), serta compliance engine sebagai gerbang utama agar operasionalnya patuh regulasi dan dapat digunakan lintas yurisdiksi.
Arsitektur tersebut dikenal dengan konsep Open Money Stack, yakni penyatuan seluruh rantai nilai uang, mulai dari identitas, penyimpanan aset (custody), pencatatan transaksi (ledger), settlement, hingga instrumen pembayaran seperti kartu, dalam satu tumpukan teknologi yang dapat diprogram.
Dalam kerangka ini, integrasi L2 dan lapisan kepatuhan bukan lagi fitur tambahan, melainkan fondasi utama.
Baca Juga
Jajan Ciki Pakai Kripto di Minimarket? Emang Bisa? Ingenico Siapkan Sistemnya
Teknologi
L2 sebagai Mesin Settlement
Penggunaan stablecoin menuntut jalur pembayaran yang cepat dan berbiaya rendah. Di sinilah Layer-2 memainkan peran penting. L2 memungkinkan transaksi stablecoin diselesaikan dengan cepat dan murah, sembari tetap mengandalkan mekanisme finalitas jaringan utama melalui desain rollup dan proses penarikan.
Selain itu, L2 menggabungkan transaksi dalam bentuk batch sehingga menekan biaya per transaksi sekaligus meningkatkan kapasitas jaringan. Dukungan API, RPC, serta sistem indexing yang ramah pengembang juga mempermudah integrasi L2 ke dalam aplikasi neobank.
Dengan model ini, uang fiat tetap masuk melalui jalur on-ramp, namun pergerakan dana di belakang layar berlangsung dalam bentuk stablecoin yang diselesaikan di jaringan L2.
Compliance Engine Jadi Penentu Skala
Di sisi lain, neobank kripto tidak dapat menghindari kewajiban regulasi seperti KYC/AML, penyaringan daftar sanksi, hingga pelaporan transaksi. Peran tersebut dijalankan oleh compliance engine yang berfungsi memverifikasi identitas pengguna, menilai profil risiko, menyaring alamat dompet yang terindikasi aktivitas ilegal, serta memantau transaksi berbasis aturan dan penilaian risiko.
Compliance engine juga menangani kewajiban Travel Rule, yakni pertukaran data pengirim dan penerima untuk transfer lintas platform di yurisdiksi tertentu. Tanpa lapisan ini, L2 hanya menawarkan kecepatan. Dengan compliance, crypto neobank dapat masuk ke ekosistem merchant, payroll, dan pembayaran lintas negara.
Baca Juga
Polymarket vs Kalshi: Duel Arsitektur Crypto-Native Melawan Hybrid
Teknologi
Apa itu Open Money Stack?
Secara teknis, Open Money Stack umumnya disusun dalam beberapa lapisan. Dimulai dari identity and risk layer untuk KYC/AML dan penilaian risiko, lalu custody layer yang menggunakan teknologi pengamanan seperti MPC atau HSM, maupun self-custody berbasis smart wallet.
Di atasnya terdapat ledger layer dengan sistem pembukuan ganda untuk saldo fiat dan kripto, yang direkonsiliasi dengan data on-chain. Settlement layer memanfaatkan stablecoin di L2 sebagai jalur penyelesaian akhir, sementara payment interface menghadirkan kartu, QR, atau API untuk kebutuhan merchant. Seluruh proses tersebut dilengkapi sistem observability berupa audit trail, analitik, dan deteksi penipuan.
Tujuan utama tumpukan ini bukan sekadar memindahkan uang, melainkan memastikan setiap pergerakan dana dapat diaudit dan dipertanggungjawabkan.
Tampilan Bank, Infrastruktur On-Chain
Dari sisi pengguna, crypto neobank menawarkan pengalaman layaknya bank konvensional: transfer instan, biaya rendah, kartu fisik, dan dashboard yang sederhana. Namun di balik layar, terdapat kompleksitas teknis seperti account abstraction agar dompet kripto terasa seperti rekening, session key untuk transaksi kecil tanpa tanda tangan berulang, serta paymaster yang menanggung biaya gas pengguna.
Dengan pendekatan ini, pengguna berinteraksi seperti menggunakan bank biasa, meskipun transaksi akhirnya diselesaikan di jaringan Layer-2.
Tantangan yang Masih Mengemuka
Meski dinilai matang, model ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Risiko bridge antar-chain tetap menjadi titik rawan, sementara likuiditas stablecoin masih terfragmentasi di berbagai jaringan dan L2. Ketegangan antara kepatuhan dan pengalaman pengguna juga belum sepenuhnya teratasi, karena onboarding cenderung semakin berat seiring ketatnya regulasi. Selain itu, stablecoin masih bergantung pada kredibilitas penerbitnya.
Karena itu, pengelola crypto neobank dituntut menyeimbangkan tiga aspek utama: keamanan, kepatuhan, dan kenyamanan pengguna.
Baca Juga
Polygon Akuisisi Coinme & Sequence US$250 Juta Demi Open Money Stack
Teknologi