- • Apple resmi meluncurkan MacBook Neo, laptop murah dengan target segmen pelajar dan pengguna pemula.
- • Harganya mulai US$599 (sekitar Rp10,1 juta) untuk kelas terendah dan Rp11,8 juta untuk yang tertinggi.
- • Apple menyematkan chip A18 Pro dari iPhone 16 Pro ke dalam laptop, memberikan performa AI hingga 3x lebih cepat dibandingkan PC dengan Intel Core Ultra 5.
INFORMASI.COM, Jakarta - Apple akhirnya membuka tabir salah satu rahasianya. Setelah berbulan-bulan dibisikkan oleh para pengamat dan bocoran rantai pasok, raksasa teknologi asal Cupertino, AS, itu secara resmi memperkenalkan MacBook Neo.
Ini merupakan laptop dengan harga termurah yang pernah mereka luncurkan dalam sejarah modern. Dengan harga mulai US$599 atau setara Rp10,1 juta, produk ini menjadi senjata baru Apple untuk membajak pasar yang selama ini dikuasai Chromebook dan laptop Windows murah.
Dalam acara peluncuran yang digelar serentak di New York, Shanghai, dan London, Rabu, Apple tak hanya memperkenalkan spesifikasi, tetapi juga filosofi baru: membuat ekosistem macOS tak lagi eksklusif.
Wakil Presiden Senior Apple untuk Hardware Engineering, John Ternus, dengan percaya diri memamerkan perangkat berwarna citrus tersebut di atas panggung.
"Kami sangat antusias memperkenalkan MacBook Neo, yang menghadirkan keajaiban Mac dengan harga yang revolusioner," ujar John Ternus dalam keterangan resmi yang diterima, Rabu (4/3/2026).
"Dibangun dari awal untuk menjadi lebih terjangkau bagi lebih banyak orang, MacBook Neo adalah laptop yang hanya Apple yang dapat menciptakan," tambahnya, merefleksikan keyakinan bahwa kombinasi desain dan ekosistem tak bisa ditiru pesaing.
Bukan M-Chip, tapi A18 Pro: Eksperimen Berani Apple
Kejutan terbesar dari MacBook Neo terletak di jantung pacunya. Alih-alih menggunakan prosesor seri-M yang selama satu dekade terakhir menjadi ciri khas Mac, Apple justru menyematkan chip A18 Pro, System-on-Chip yang pertama kali debut di iPhone 16 Pro pada 2024. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Apple sebuah laptop ditenagai oleh prosesor yang dirancang untuk ponsel.
Namun, ada catatan penting. Versi A18 Pro yang digunakan di MacBook Neo bukanlah versi "full blooded" seperti di iPhone 16 Pro. Jika di iPhone, chip ini memiliki konfigurasi 6-core CPU dan 6-core GPU, maka di MacBook Neo, GPU-nya dipangkas satu inti menjadi 5-core. Meski demikian, Neural Engine 16-core tetap dipertahankan utuh untuk mendukung fitur Apple Intelligence.
Menurut klaim Apple, dengan konfigurasi ini MacBook Neo tetap mampu melesat hingga 50 persen lebih cepat untuk tugas sehari-hari dibandingkan PC terlaris dengan prosesor Intel Core Ultra 5. Untuk beban kerja AI di perangkat, laptop ini diklaim 3 kali lebih cepat, sementara untuk tugas editing foto, performanya 2 kali lebih lipat.
Laptop ini juga dibekali RAM 8GB yang bersifat unified memory dan tidak dapat ditingkatkan. Pengguna hanya memiliki dua opsi penyimpanan: 256GB atau 512GB. Apple juga membekali perangkat ini dengan baterai 36,5 Wh yang diklaim mampu bertahan hingga 16 jam untuk pemutaran video atau 11 jam untuk browsing web.
Baca Juga
Apple Rilis MacBook Air dan Pro M5, Harganya Mulai US$1.100 hingga US$2.200
Teknologi
Layar Liquid Retina dan Desain Penuh Warna
Dari segi tampilan, MacBook Neo membawa layar Liquid Retina IPS LCD berukuran 13 inci dengan resolusi 2.408 x 1.506 piksel. Dengan kerapatan 500 nits dan rasio aspek 3:2, layar ini diklaim lebih terang dan tajam dibandingkan kebanyakan laptop di kelas harga yang sama. Apple juga membekalinya dengan lapisan anti-reflektif untuk kenyamanan di berbagai kondisi pencahayaan.
Namun, untuk mencapai titik harga tersebut, Apple harus melakukan sejumlah pengorbanan. Layar ini tidak mendukung teknologi True Tone yang menyesuaikan white balance dengan cahaya sekitar, tidak memiliki P3 wide color, dan refresh rate-nya stuck di 60Hz tanpa ProMotion. Yang cukup mencolok, laptop ini juga tidak memiliki "notch" seperti MacBook generasi terbaru, tetapi justru menggunakan bezel tebal ala iPad lawas.
Dari sisi desain, MacBook Neo hadir dengan balutan bodi aluminium daur ulang 90 persen yang tersedia dalam empat warna: Silver klasik, Blush (merah muda), Citrus (kuning), dan Indigo (biru). Dengan bobot 1,23 kg dan ketebalan 1,27 cm, perangkat ini sedikit lebih tebal dari MacBook Air namun tetap masuk kategori ultraportabel.
Yang menarik, warna-warna cerah ini tidak hanya menghiasi bagian luar, tetapi juga merambah ke keyboard dan wallpaper default, sebuah pendekatan yang selama ini hanya dilakukan Apple di lini iPod dan iPhone.
Keyboard dan Trackpad: Sentuhan Fisik yang Kembali
Apple membekali MacBook Neo dengan Magic Keyboard, namun dengan sejumlah catatan. Keyboard ini tidak memiliki lampu latar (non-backlit), sebuah keputusan yang cukup mengejutkan di era di mana hampir semua laptop sudah mengadopsi fitur tersebut.
Trackpad-nya juga mengalami perubahan filosofi. Alih-alih menggunakan Force Touch dengan umpan balik haptic seperti di MacBook lainnya, Apple kembali ke trackpad mekanis dengan tombol fisik yang benar-benar bisa ditekan. Ini berarti pengguna kehilangan fitur seperti pressure sensitivity dan klik. Namun, bagi pengguna biasa, fungsionalitas dasar seperti scrolling dan tapping tetap tersedia.
Fitur Touch ID, pemindai sidik jari untuk login cepat dan Apple Pay, hanya tersedia di varian dengan penyimpanan 512GB. Sementara itu, kamera FaceTime HD 1080p hadir tanpa fitur Center Stage yang biasanya mengikuti gerakan pengguna.
Port dan Konektivitas: Kompromi Paling Nyata
Untuk urusan konektivitas, kompromi paling terasa. MacBook Neo hanya memiliki dua buah port USB-C. Satu port mendukung USB 3 dengan kecepatan transfer hingga 10Gb/s dan DisplayPort, sementara port lainnya hanya berkecepatan USB 2 (480Mb/s), setara dengan kecepatan flashdisk murah. Kedua port ini digunakan untuk pengisian daya dan koneksi aksesori.
Tidak ada port Thunderbolt, tidak ada MagSafe, dan tidak ada dukungan untuk Studio Display karena keterbatasan bandwidth. Untuk audio, masih tersedia jack 3.5mm, namun tidak mendukung headphone impedansi tinggi. Speaker ganda yang ditempatkan di sisi laptop mendukung Spatial Audio dan Dolby Atmos, sementara mikrofon ganda dengan beamforming membantu kualitas panggilan.
Untuk konektivitas nirkabel, MacBook Neo mendukung Wi-Fi 6E dan Bluetooth 6, yang justru lebih baru dibandingkan MacBook Air M5 yang masih menggunakan Bluetooth 5.3.
Harga Menantang Dominasi Chromebook
Dari sisi harga, MacBook Neo diposisikan sebagai produk paling agresif Apple dalam satu dekade terakhir. Berikut rincian harganya:
- •MacBook Neo 8/256GB: US$599 / €699 / £599 / AU$999 / SGD 849 (sekitar Rp10,1 juta).
- •MacBook Neo 8/512GB (dengan Touch ID): US$699 / €799 / £699 / AU$1.199 / SGD 999 (sekitar Rp11,8 juta).
Untuk sektor pendidikan, harga bahkan lebih murah: US$499 untuk varian dasar dan US$599 untuk varian 512GB.
Pemesanan sudah mulai dibuka dan pengiriman pertama akan dimulai pada 11 Maret 2026. Di Indonesia, produk ini dipastikan masuk, namun detail harga dan ketersediaan masih menunggu konfirmasi distributor resmi.
Baca Juga
Apple iPad Air 2026 Dirilis: Pakai Chip M4, RAM 12GB, dan Wi-Fi 7, Harga Mulai US$600
Teknologi
Siapa Target Pasar MacBook Neo?
Dengan spesifikasi dan harga yang ditawarkan, MacBook Neo jelas tidak ditujukan untuk para profesional atau kreator konten. Targetnya adalah segmen yang selama ini diabaikan Apple: pelajar, pengguna pertama Mac, dan mereka yang selama ini bertahan di Windows atau Chrome OS karena harga.
Seperti diulas oleh berbagai analis, laptop ini adalah "pintu gerbang" menuju ekosistem Apple. Dengan memiliki MacBook Neo, pengguna iPhone kelas menengah kini bisa merasakan integrasi penuh Handoff, iCloud, dan fitur continuity lainnya tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam untuk MacBook Air atau Pro.
Apple sendiri tampaknya sadar bahwa produk ini bukan untuk semua orang. Dalam materi pemasarannya, mereka menekankan bahwa MacBook Neo cocok untuk "menjelajahi web, membuat dokumen, streaming konten, mengedit foto, dan memanfaatkan AI," bukan untuk rendering video 8K atau gaming berat.
Namun, dengan segala kompromi yang ada, mulai dari keyboard tanpa lampu, port USB 2, trackpad mekanis, hingga ketiadaan Thunderbolt, pertanyaan besarnya adalah: apakah konsumen di kelas harga Rp10 juta akan peduli dengan kekurangan tersebut, atau mereka akan tetap setia pada laptop Windows dengan spesifikasi lebih mentereng?
Apple sepertinya bertaruh pada satu hal yakni pengalaman macOS dan ekosistem yang terintegrasi lebih berharga daripada sekadar spesifikasi di atas kertas. Dan, dengan warna citrus yang cerah itu, mereka berharap bisa memikat hati generasi muda yang haus akan gaya.