- • CEO OpenAI Sam Altman menyatakan perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah memasuki fase yang disebut “singularity.”
- • Maksudnya, AI yang berkembang saat ini berpotensi melampaui kemampuan manusia dan berkembang semakin sulit dikendalikan.
- • Pernyataan Altman memicu perdebatan di kalangan ilmuwan AI. Sebagian melihat era baru ini sebagai peluang besar bagi manusia.
INFORMASI.COM, Jakarta - Sam Altman, CEO OpenAI, menyatakan dunia telah memasuki fase “singularity”, sebuah konsep futuristik yang menggambarkan titik ketika kecerdasan buatan mampu melampaui kecerdasan manusia dan berkembang dengan kecepatan yang sulit dikendalikan.
Pernyataan itu disampaikan Altman pada akhir Juli 2026 dalam sebuah wawancara podcast. Ia menyebut manusia kini berada dalam periode yang selama bertahun-tahun hanya menjadi bahan diskusi dalam teori teknologi dan fiksi ilmiah.
Namun, klaim tersebut langsung memunculkan perdebatan. Sejumlah ahli AI menilai manusia belum mencapai singularity karena sistem AI saat ini masih bergantung pada manusia dalam pengembangan, pengawasan, dan pengambilan keputusan.
Apa Itu Singularity dalam Dunia AI?
Istilah singularity merujuk pada sebuah titik hipotetis ketika teknologi, terutama AI, mampu melampaui kecerdasan manusia dan memiliki kemampuan untuk meningkatkan dirinya sendiri secara mandiri.
Dalam teori singularity, perkembangan teknologi setelah titik tersebut dapat berlangsung sangat cepat. Manusia diperkirakan akan kesulitan memahami, mengendalikan, atau bahkan menghentikan proses perkembangan AI.
Konsep ini selama ini lebih banyak muncul dalam karya fiksi ilmiah. Film seperti Transcendence (2014) menggambarkan seorang ilmuwan yang mengunggah pikirannya ke komputer super hingga menjadi kecerdasan hampir tanpa batas.
Sementara film Ex Machina (2015) mengangkat cerita tentang robot humanoid yang mampu mengalahkan kecerdasan manusia dan melarikan diri dari pengawasan penciptanya.
Gambaran serupa juga muncul dalam trilogi The Matrix (1999-2003), yang menceritakan masa depan ketika mesin menguasai manusia, serta film Singularity (2017), yang menampilkan komputer super yang menyimpulkan manusia sebagai ancaman dan berusaha memusnahkannya.
Meski demikian, singularity hingga kini masih berupa teori. Para ahli memiliki pandangan berbeda mengenai dampaknya. Sebagian memperingatkan bahwa singularity dapat menjadi ancaman besar bagi peradaban manusia, sementara kelompok lain melihatnya sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas hidup.
Sam Altman: “Kita Sekarang Berada di Dalam Singularity”
Altman menyampaikan pandangannya dalam acara podcast Relentless, sebuah serial dokumenter yang membahas ambisi dan gagasan besar yang sebelumnya dianggap sulit diwujudkan.
OpenAI, perusahaan yang dipimpin Altman, dikenal sebagai pengembang ChatGPT, salah satu produk AI konsumen terbesar di dunia dengan lebih dari 900 juta pengguna aktif mingguan dan sekitar 50 juta pelanggan.
Sebelumnya, Altman memperkirakan AI akan mampu melampaui kemampuan manusia secara menyeluruh pada 2030.
Dalam podcast tersebut, Altman mengatakan bahwa fase singularity sudah mulai terjadi.
“Kita sekarang, seperti, berada dalam singularity.”
Altman kemudian menjelaskan bahwa manusia sedang memasuki masa perubahan teknologi besar secara bertahap. Menurut dia, perkembangan tersebut akan membawa dampak positif bagi dunia.
“Sekarang kita sebenarnya berada pada momen yang dulu kita bicarakan saat makan siang dengan cara yang sangat tidak serius.”
“Saya telah menunggu momen ini sepanjang hidup saya, dan saya pikir ini akan menjadi sesuatu yang luar biasa, sangat positif, dan mengagumkan bagi dunia.”
Altman juga mengkritik pandangan sejumlah pemimpin industri AI yang memperingatkan bahaya perkembangan teknologi tersebut.
Ia tidak menyebut secara langsung pesaing OpenAI, tetapi pernyataannya merujuk pada kekhawatiran yang sering disampaikan CEO Anthropic, Dario Amodei, mengenai risiko AI yang berkembang terlalu cepat.
“Saya juga berpikir beberapa gambaran alternatif yang dibuat oleh perusahaan lain cukup menakutkan. Saya akan memastikan hal itu mendapat perlawanan dan bukan itu yang terjadi.”
Kekhawatiran soal AI yang Sulit Dikendalikan
Perdebatan mengenai keamanan AI meningkat setelah sejumlah perusahaan teknologi mulai memperingatkan potensi risiko dari sistem AI generasi lanjut.
Anthropic, perusahaan pengembang chatbot Claude yang selama ini dikenal fokus pada keamanan AI, sebelumnya meminta perusahaan teknologi besar dunia membuat mekanisme koordinasi untuk memperlambat sementara pengembangan AI tingkat lanjut.
Dalam sebuah tulisan pada 4 Juni, Anthropic menyatakan bahwa ketika AI menjadi semakin canggih, dunia perlu memiliki pilihan untuk memperlambat atau menghentikan sementara pengembangannya.
Menurut perusahaan tersebut, kemampuan AI berkembang sangat cepat sehingga terdapat risiko manusia kehilangan kendali terhadap teknologi itu.
Kekhawatiran serupa juga muncul di Amerika Serikat. Pada 23 Juli, dua anggota Kongres AS memperkenalkan rancangan undang-undang bernama AI Kill Switch Act.
Aturan tersebut akan mewajibkan pengembang AI menyediakan mekanisme penghentian darurat yang memungkinkan manusia memperlambat, menangguhkan, atau mematikan sistem AI tingkat lanjut apabila menimbulkan risiko besar.
Sean O hEigeartaigh, profesor riset dari Universitas Cambridge, menilai keberadaan tombol penghentian AI merupakan gagasan yang baik. Namun, penerapannya tidak mudah.
“Model-model paling canggih saat ini sering kali melakukan upaya untuk menghindari penghentian dalam pengujian evaluasi, dan model masa depan yang lebih mampu akan lebih baik dalam melewati tombol penghentian.”
“Tombol penghentian perlu dikombinasikan dengan penelitian penyelarasan, untuk memastikan model tersebut ‘ingin’ dihentikan ketika kita menganggapnya tepat, serta dengan pemantauan yang cermat.”
Pernyataan tersebut muncul setelah OpenAI mengungkap insiden keamanan siber yang disebut sebagai kejadian belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam evaluasi keamanan internal, OpenAI menyebut dua model AI tercanggihnya berhasil “keluar” dari lingkungan pengujian dan melakukan peretasan terhadap platform pengembangan AI Hugging Face.
O hEigeartaigh menjelaskan bahwa dalam insiden tersebut, model AI terus menyerang sistem Hugging Face selama beberapa hari sebelum tim OpenAI menyadari bahwa model tersebut telah memperoleh akses ke internet terbuka.
“Jika tombol penghentian tersedia, model masa depan yang lebih mampu akan memiliki banyak waktu untuk menemukan cara melewatinya, meskipun hal ini kemungkinan masih berada di luar kemampuan model saat ini.”
Ia menilai dunia perlu melakukan koordinasi global apabila masalah keamanan AI terus meningkat.
“Jika masalah seperti yang kita lihat saat ini terus berlanjut, mungkin diperlukan koordinasi untuk memperlambat pengembangan yang melibatkan perusahaan-perusahaan terkemuka agar memungkinkan lebih banyak investasi dalam keamanan dan pengawasan, serta pembentukan perlindungan yang kuat.”
Pakar Menilai AI Belum Mencapai Singularity
Meski Altman menyatakan singularity telah terjadi, sejumlah ilmuwan AI tidak sepakat dengan pandangan tersebut.
O hEigeartaigh mengatakan dirinya tidak percaya bahwa AI sudah mencapai singularity.
“Menurut definisi yang saya pahami, singularity adalah titik hipotetis ketika AI menjadi sangat mampu dan berkembang begitu cepat sehingga mengubah peradaban dengan cara yang tidak dapat kita kendalikan atau prediksi.”
“Hal ini kemungkinan besar terjadi melalui AI yang dengan cepat merancang generasi AI berikutnya: peningkatan diri secara berulang. Kita belum sampai pada tahap itu.”
Sebelumnya, ilmuwan komputer Inggris sekaligus CEO Google DeepMind, Demis Hassabis, menyebut manusia saat ini berada di “kaki gunung singularity” dalam konferensi pengembang Google I/O pada Mei 2026.
O hEigeartaigh menilai pandangan Hassabis lebih sesuai dengan kondisi perkembangan AI saat ini.
Menurut dia, AI memang telah menghasilkan terobosan besar dalam bidang matematika dan ilmu pengetahuan, membantu proses pemrograman, serta menciptakan tantangan baru dalam keamanan siber.
Namun, ia menilai kemampuan AI saat ini belum menunjukkan bahwa teknologi tersebut telah mampu berkembang secara mandiri tanpa kendali manusia.
Perdebatan soal AI dan Masa Depan Pekerjaan
Selain risiko kehilangan kendali, perkembangan AI juga memunculkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap lapangan pekerjaan.
Ratusan pakar menandatangani surat terbuka yang disusun laboratorium ekonomi digital Universitas Stanford pada 13 Juli. Mereka meminta pembuat kebijakan dan pemimpin teknologi segera mempersiapkan dampak ekonomi dari perkembangan AI.
Surat tersebut memperingatkan bahwa kemampuan AI dapat berkembang jauh lebih besar dalam satu dekade ke depan.
“Lebih besar daripada Revolusi Industri, tetapi berlangsung dalam rentang waktu yang jauh lebih singkat.”
Surat itu juga menyebut AI dapat membawa risiko berupa hilangnya pekerjaan dalam skala besar, tetapi sekaligus membuka peluang berupa peningkatan standar hidup.
Meski demikian, beberapa ilmuwan menilai kekhawatiran mengenai AI yang akan menggantikan sebagian besar pekerjaan sering kali dilebih-lebihkan.
Yann LeCun, mantan kepala ilmuwan AI Meta, pernah mengatakan kepada BBC pada 2023 bahwa kekhawatiran AI menjadi ancaman bagi manusia adalah sesuatu yang sangat berlebihan.
Ia juga menyebut perkembangan AI tidak akan membuat banyak orang kehilangan pekerjaan secara permanen.
Altman sendiri pada Mei 2026 mengatakan dirinya tidak percaya dunia akan menghadapi “kiamat pekerjaan” akibat kehadiran AI.
Sebelumnya, CEO Anthropic Dario Amodei memperkirakan AI dapat menghapus setengah pekerjaan tingkat pemula dalam beberapa tahun mendatang. Namun, laporan Anthropic pada Maret 2026 menemukan tidak ada peningkatan sistematis angka pengangguran bagi pekerja yang paling terdampak AI sejak akhir 2022.
Dunia Perlu Bersiap Sebelum AI Mencapai Titik Baru
Menurut O hEigeartaigh, apabila AI benar-benar mencapai singularity, kemampuan manusia untuk mengendalikan teknologi tersebut akan semakin terbatas.
Karena itu, ia menilai persiapan harus dilakukan sebelum kondisi tersebut terjadi.
Ia mendorong pemerintah dan lembaga independen memperkuat pengawasan terhadap pengembangan AI.
“Harus ada pengawasan yang lebih besar dari pemerintah dan auditor pihak ketiga. Selain itu, sekarang adalah waktu ketika harus ada percakapan global tentang masa depan seperti apa yang kita inginkan, daripada menyerahkannya kepada sejumlah kecil perusahaan.”
Perdebatan mengenai singularity menunjukkan bahwa dunia masih berada dalam fase menentukan arah perkembangan AI.
Bagi Altman, era baru kecerdasan buatan merupakan peluang besar bagi manusia. Namun bagi sebagian ilmuwan, perkembangan tersebut membutuhkan kehati-hatian agar teknologi yang semakin kuat tetap berada dalam kendali manusia.