Jio Platforms Milik Ambani Siap IPO, Bidik Dana Rp54 Triliun, Bisa Pecahkan Rekor Bursa India

Jio Platforms Milik Ambani Siap IPO, Bidik Dana Rp54 Triliun, Bisa Pecahkan Rekor Bursa India
Jio, perusahaan teknologi milik Mukesh Ambani siap IPO di Bursa India.
Ikhtisar
  • • Jio Platforms, anak usaha digital Reliance Industries milik Mukesh Ambani, menargetkan menghimpun hingga US$3,2 miliar atau sekitar Rp57,43 triliun melalui penawaran umum perdana (IPO).
  • • IPO itu akan dibuka 21–23 Oktober 2026, dengan penawaran hingga 270 juta saham baru pada kisaran harga ₹1.065–₹1.119 per lembar.
  • • Pada harga tertinggi, valuasi Jio diperkirakan mencapai sekitar US$108,3 miliar atau Rp1.944 triliun, berpotensi melampaui rekor IPO Hyundai Motor India.

INFORMASI.COM, Jakarta - Jio Platforms membuka pintu pasar modal untuk memperbesar ekspansi digitalnya di India. Perusahaan milik keluarga Ambani itu menargetkan menghimpun dana hingga US$3,2 miliar atau sekitar Rp57,43 triliun melalui IPO, yang berpotensi menjadi penawaran umum perdana terbesar dalam sejarah bursa India.

Reliance Industries mengumumkan rencana tersebut dalam keterbukaan informasi bursa pada Rabu (14/10/2026). Jio menetapkan kisaran harga IPO sebesar ₹1.065–₹1.119 per saham, atau sekitar US$11,19–US$11,76 per lembar.

Langganan publik akan dibuka pada 21 Oktober dan ditutup pada 23 Oktober 2026. Penawaran kepada investor jangkar dijadwalkan pada 19 Oktober.

Valuasi Tembus Rp1.944 Triliun

Pada batas atas harga, IPO Jio akan menilai perusahaan sekitar ₹10,3 triliun atau US$108,3 miliar, setara sekitar Rp1.944 triliun. Nilai itu dihitung dari total saham beredar pasca penawaran umum.

IPO tersebut diperkirakan melampaui penawaran Hyundai Motor India pada 2024 senilai ₹278,7 miliar atau US$3,3 miliar. Bahkan bila saham Jio dijual pada batas bawah, nilai IPO-nya tetap lebih besar.

Pada 2020, Jio dinilai hingga ₹4,91 triliun atau sekitar US$65 miliar, atau sekitar Rp1.167 triliun dengan kurs saat ini. Meta, yang saat itu bernama Facebook, menanamkan US$5,7 miliar, sedangkan Google berkomitmen US$4,5 miliar.

Dari Telko Murah ke Raksasa Digital

Jio memulai operasi pada 2016 dengan strategi data murah dan paket gratis. Strategi itu mengubah lanskap telekomunikasi India dan menjadikan Jio operator terbesar di negara tersebut.

Per 31 Maret, Jio mencatat lebih dari 524 juta pelanggan. Jumlah itu menempatkannya di depan Bharti Airtel, Vodafone Idea, dan BSNL milik negara.

Perusahaan kini tidak lagi hanya bergerak di telekomunikasi. Jio memperluas bisnisnya ke broadband, layanan cloud, dan berbagai produk digital.

Dana IPO untuk Lunas Utang

Kinerja keuangan Jio menjadi daya tarik utama IPO ini. Pada kuartal yang berakhir Juni, pendapatannya naik hampir 12 persen secara tahunan menjadi ₹391,7 miliar atau sekitar US$4,1 miliar atau Rp73,59 triliun, sementara laba bersih naik 9 persen menjadi ₹77,6 miliar atau sekitar US$816 juta atau Rp14,65 triliun.

Jio mengalokasikan hingga ₹275 miliar atau sekitar US$2,9 miliar atau Rp52,05 triliun dari hasil IPO untuk melunasi utang anak usaha telekomunikasinya, Reliance Jio Infocomm. Sisa dana akan digunakan untuk kebutuhan korporasi umum.

Perusahaan juga menyediakan saham senilai hingga ₹25 miliar atau sekitar US$263 juta atau Rp4,72 triliun bagi pemegang saham Reliance Industries, serta ₹5 miliar atau US$53 juta atau Rp951,24 miliar bagi karyawan. Karyawan akan memperoleh potongan harga ₹54 per saham.

Persaingan dengan Starlink Memanas

IPO Jio berlangsung di tengah ketegangan antara Mukesh Ambani dan Elon Musk. Musk menuduh Ambani berupaya menghalangi masuknya Starlink ke India, meski otoritas India telah menolak tuduhan tersebut.

Sebelumnya, Jio dan Bharti Airtel telah menandatangani kesepakatan dengan SpaceX milik Musk untuk mendistribusikan layanan internet satelit Starlink di India. Kesepakatan itu masih menunggu persetujuan regulator.

Dengan valuasi yang berpotensi menembus US$108,3 miliar atau Rp1.944 triliun, IPO Jio menjadi ujian besar bagi pasar modal India. Keberhasilannya akan menentukan apakah investor masih bersedia membayar mahal untuk raksasa digital yang terus memperluas wilayah bisnisnya.

BAGIKAN
Add preferred source on Google
Anda harus login untuk memberikan komentar.