Bapak Kendaraan Listrik Asia Ternyata Lahir di Magelang, Sukseskan Proyek Mobil Listrik di China

Bapak Kendaraan Listrik Asia Ternyata Lahir di Magelang, Sukseskan Proyek Mobil Listrik di China
Pertemuan Stella Christie, dengan pakar kendaraan listrik atau dikenal dengan julukan Bapak Kendaraan Listrik Asia, Prof.Ching-Chuen Chan (C.C. Chan), Selasa (27/10/2026). Foto: kemdiktisaintek

Traktir Redaksi

Suka dengan artikel ini? Dukung jurnalisme Informasi.com dengan scan QRIS di bawah melalui m-banking atau e-wallet.

QRIS Media Informasi Dunia Simpan QRIS
Ikhtisar
  • • Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie bertemu dengan Prof. Ching-Chuen Chan atau C.C. Chan di Jakarta pada 27 Oktober 2026 untuk membahas pengembangan talenta dan teknologi kendaraan listrik di Indonesia.
  • • Prof. C.C. Chan, ilmuwan yang dijuluki Father of Asian Electric Vehicles, lahir di Magelang, Jawa Tengah, pada 14 Januari 1937. Ia mendorong Indonesia mengembangkan teknologi kendaraan listrik sendiri melalui riset dan pendidikan.
  • • Pertemuan tersebut membahas penyelarasan kurikulum perguruan tinggi dengan kebutuhan industri, program magang, serta peluang kolaborasi antara politeknik dan industri kendaraan listrik.

INFORMASI.COM, Jakarta — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie bertemu dengan pakar kendaraan listrik Prof. Ching-Chuen Chan atau C.C. Chan di Jakarta pada Selasa, 27 Oktober 2026. Pertemuan tersebut membahas pengembangan sumber daya manusia, riset, dan pendidikan vokasi untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Indonesia.

Nama C.C. Chan dikenal di kalangan teknologi internasional melalui julukan Father of Asian Electric Vehicles atau Bapak Kendaraan Listrik Asia. Di balik reputasinya sebagai ilmuwan di bidang kendaraan listrik, Chan memiliki hubungan dengan Indonesia karena lahir di Magelang, Jawa Tengah, pada 14 Januari 1937.

Dalam pertemuan tersebut, Stella dan Chan membahas cara menghubungkan pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri kendaraan listrik. Pembahasan mencakup penyesuaian kurikulum, kesempatan magang bagi mahasiswa, kompetisi kendaraan hemat energi, serta keterlibatan praktisi industri dalam proses pembelajaran.

Pertemuan itu juga menyoroti pentingnya membangun kemampuan teknologi di dalam negeri. Menurut Chan, pengembangan kendaraan listrik tidak cukup mengandalkan pembelian teknologi dari luar negeri, tetapi harus disertai riset dan inovasi yang dikembangkan oleh sumber daya manusia Indonesia.

Prof. C.C. Chan, Ilmuwan Kendaraan Listrik Kelahiran Magelang

Prof. Ching-Chuen Chan lahir di Magelang, Jawa Tengah, pada 14 Januari 1937. Pada Oktober 2026, ia berusia 89 tahun. Ia berasal dari keluarga pengusaha keturunan Tionghoa di Indonesia sebelum melanjutkan perjalanan pendidikan dan karier akademiknya di luar negeri.

Chan menempuh pendidikan teknik elektro dan meraih gelar sarjana serta magister dari China University of Mining and Technology dan Tsinghua University. Ia kemudian memperoleh gelar doktor dari University of Hong Kong pada 1982.

Karier akademiknya berkembang seiring kontribusinya terhadap teknologi penggerak listrik dan kendaraan listrik. Chan pernah menjabat sebagai profesor teknik di University of Hong Kong dan memimpin Departemen Teknik Elektro dan Elektronika di universitas tersebut.

Ia juga mendirikan pusat riset kendaraan listrik di University of Hong Kong pada 1986. Selain itu, Chan menjadi salah satu pendiri World Electric Vehicle Association dan pernah memimpin organisasi tersebut.

Kontribusinya membuat Chan memperoleh pengakuan dari berbagai lembaga teknik internasional. Majalah Global View menjulukinya Father of Asian Electric Vehicles pada 2003, yang kemudian melekat pada namanya di dunia akademik dan industri kendaraan listrik.

Pengalaman panjang Chan dalam riset dan pengembangan teknologi menjadi salah satu alasan pemikirannya relevan bagi negara yang sedang membangun industri kendaraan listrik, termasuk Indonesia.

Teknologi Tidak Cukup Dibeli, Harus Dikembangkan

Dalam pertemuannya dengan Stella Christie, Chan menekankan pentingnya membangun kemampuan teknologi nasional melalui pendidikan, penelitian, dan inovasi.

“Teknologi tidak bisa hanya dibeli, tetapi harus dikembangkan sendiri. Kita harus mendidik generasi muda, menentukan arah pengembangan teknologi sendiri, serta menemukan dan menciptakan teknologi kendaraan listrik kita sendiri. Kita tidak bisa hanya mengharapkan pihak lain memberikan teknologi kepada kita,” ujar Chan.

Pernyataan tersebut menyoroti tantangan Indonesia dalam mengembangkan industri kendaraan listrik. Investasi pabrik dan peningkatan penjualan kendaraan listrik perlu berjalan beriringan dengan penguasaan teknologi, mulai dari sistem penggerak, baterai, hingga pengembangan kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Chan juga menyarankan agar Indonesia memulai pengembangan teknologi kendaraan listrik dari kendaraan roda dua dan kendaraan berdaya rendah. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk menghasilkan inovasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna dan membuka peluang penerapan teknologi secara lebih luas.

Pengembangan kendaraan listrik roda dua juga memberikan ruang bagi perguruan tinggi dan politeknik untuk mengembangkan prototipe, menguji teknologi, serta melibatkan mahasiswa dalam penyelesaian persoalan teknis yang dekat dengan kebutuhan industri.

Stella Christie Dorong Kampus Terhubung dengan Industri

Stella Christie menilai pengembangan kendaraan listrik membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menerjemahkan hasil riset menjadi teknologi dan produk industri. Karena itu, perguruan tinggi perlu menyiapkan lulusan dengan keterampilan yang sesuai dengan perkembangan sektor tersebut.

Salah satu agenda yang dibahas adalah penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan perusahaan. Industri diharapkan dapat memberikan masukan mengenai kompetensi yang dibutuhkan, terlibat dalam proses pembelajaran, serta menyediakan kesempatan magang bagi mahasiswa.

Stella juga mendorong pelaku industri mengirimkan tenaga ahli untuk mengajar di politeknik. Keterlibatan praktisi dinilai dapat membantu mahasiswa memahami tantangan teknis dan kebutuhan dunia kerja sebelum menyelesaikan pendidikan.

Selain kurikulum dan magang, kompetisi kendaraan hemat energi menjadi salah satu sarana untuk mendorong mahasiswa menerapkan pengetahuan teknik dalam proyek nyata. Kegiatan semacam ini dapat mempertemukan kemampuan akademik, kreativitas, dan pemecahan masalah.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi juga melihat peluang untuk memperluas kerja sama pendidikan vokasi dengan mitra industri di China. Kolaborasi tersebut dapat mencakup program pendidikan bersama antara politeknik Indonesia dan institusi mitra, sehingga pembelajaran lebih terhubung dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.

Meski demikian, pertemuan tersebut masih membahas peluang dan arah kerja sama. Rincian program, jadwal pelaksanaan, serta institusi yang akan terlibat perlu diumumkan lebih lanjut untuk memastikan bentuk konkret kolaborasi.

Tantangan Indonesia Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik

Pengembangan kendaraan listrik tidak hanya berkaitan dengan produksi mobil atau sepeda motor. Industri ini juga membutuhkan tenaga ahli, lembaga riset, infrastruktur pendukung, kebijakan pemerintah, serta hubungan yang kuat antara kampus dan perusahaan.

Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan kemampuan tersebut melalui perguruan tinggi dan pendidikan vokasi. Namun, tantangannya adalah memastikan hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi akademik, melainkan dapat dikembangkan menjadi teknologi yang bisa diuji, diproduksi, dan dimanfaatkan masyarakat.

Di sinilah gagasan Chan mengenai kemandirian teknologi bertemu dengan agenda pendidikan yang didorong Stella. Perguruan tinggi dapat menjadi penghubung antara penelitian dan industri, sementara perusahaan membantu menentukan kebutuhan kompetensi serta memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman praktis.

Pengembangan kendaraan listrik roda dua dan kendaraan berdaya rendah yang disarankan Chan juga dapat menjadi salah satu titik awal. Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti dan mahasiswa mengembangkan teknologi secara bertahap sebelum memperluasnya ke sistem kendaraan yang lebih kompleks.

Pertemuan Stella Christie dan C.C. Chan pada akhirnya menempatkan pendidikan dan riset sebagai bagian penting dari strategi pengembangan kendaraan listrik Indonesia. Pengalaman Chan selama puluhan tahun di bidang teknologi menjadi masukan bagi upaya membangun kemampuan nasional, sedangkan agenda pemerintah berfokus pada penyiapan talenta yang dapat mengubah pengetahuan menjadi inovasi.

Bagi Indonesia, tantangan berikutnya adalah menerjemahkan gagasan tersebut menjadi program yang terukur. Penyelarasan kurikulum, kerja sama industri, magang mahasiswa, dan penguatan riset akan menentukan sejauh mana perguruan tinggi dapat berkontribusi terhadap kemandirian teknologi kendaraan listrik nasional.

BAGIKAN
Add preferred source on Google
Anda harus login untuk memberikan komentar.