- • Bank investasi Goldman Sachs menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight.
- • Hal itu menambah tekanan terhadap IHSG yang dua hari anjlok usai MSCI mengeluarkan peringatan soal risiko investabilitas pasar.
- • UBS juga memangkas rekomendasi saham Indonesia menjadi 'netral' sebagai respons terhadap sentimen negatif dari laporan MSCI.
INFORMASI.COM, Jakarta - Bank investasi global Goldman Sachs Group Inc. menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight pada Kamis (29/1/2026) setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) memperingatkan soal risiko investability di pasar modal Indonesia.
“ Kami memperkirakan aksi jual pasif masih akan berlanjut dan memandang perkembangan ini sebagai faktor penghambat yang akan membebani kinerja pasar. ”
— Timothy Moe dan timnya, mengutip laporan riset yang dirilis agen itu pada Kamis.
Menurut analis tersebut, dalam skenario tertentu apabila Indonesia diklasifikasikan ulang dari emerging market menjadi frontier market, dana global yang mengikuti indeks MSCI berpotensi melepas saham hingga US$7,8 miliar.
Selain langkah Goldman Sachs, UBS AG juga memangkas rekomendasi terhadap saham Indonesia menjadi netral.
Eksekusi perubahan rekomendasi tersebut menyusul pengumuman dari MSCI yang membekukan penyeimbangan ulang indeks free float saham-saham Indonesia. Akibatnya, kekhawatiran terhadap transparansi struktur kepemilikan saham meningkat di kalangan investor global.
Baca Juga
IHSG Sempat Turun 8 Persen, IHSG Alami Trading Halt pada Kamis, 2 Hari Berturut
Ekonomi
Sentimen negatif dari arahan MSCI dan penurunan rating oleh Goldman Sachs serta UBS langsung memengaruhi perilaku pasar saham domestik.
Pada perdagangan Kamis (29/1/2026) pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali anjlok tajam.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG turun 8,00 persen ke posisi 7.654,66 poin pada pukul 09.26 WIB, sehingga memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt sesuai ketentuan pasar.
Data perdagangan menunjukkan bahwa nilai transaksi tercatat mencapai Rp10,78 triliun, dengan mayoritas saham mengalami tekanan jual sehingga IHSG bergerak di zona merah tajam.
Penurunan ini mengikuti pelemahan pada sesi sebelumnya, ketika IHSG sempat turun lebih dari 7 persen dalam perdagangan Rabu (28/1/2026) setelah aksi jual besar oleh investor yang dipicu oleh laporan MSCI tentang status pasar Indonesia.
Baca Juga
MSCI Bekukan Sementara Perubahan Indeks Saham Indonesia, Pasar Diminta Perbaiki Data Free Float
Ekonomi
Pembekuan Sementara MSCI
Morgan Stanley Capital International (MSCI) secara resmi menerapkan pembekuan sementara (interim freeze) terhadap sejumlah perubahan indeks yang berkaitan dengan saham Indonesia. Pembekuan sementara dilakukan termasuk kenaikan Foreign Inclusion Factor dan penambahan saham baru ke dalam indeks global, sambil memberi waktu bagi otoritas pasar untuk memperbaiki transparansi data free float menjelang Mei 2026.
MSCI mengumumkan bahwa mereka akan membekukan secara sementara semua kenaikan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan jumlah saham (Number of Shares/NOS) untuk sekuritas Indonesia. Selain itu, MSCI juga menegaskan tidak akan menerapkan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).
Langkah pembekuan mencakup penangguhan upward migration atau perpindahan segmen ukuran saham, termasuk potensi perubahan dari Small Cap ke Standard Cap, dalam indeks global tersebut.
MSCI menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil untuk meredam risiko index turnover dan isu kelayakan investasi (investability risks). Sumber kebijakan juga menyebut bahwa ini dilakukan sambil memberi waktu bagi otoritas pasar terkait untuk menyampaikan peningkatan transparansi yang bermakna.
Menurut pernyataan lembaga penyusun indeks itu, pembekuan ini bukan semata karena perubahan teknis, tetapi juga karena terdapat kekhawatiran yang masih berlanjut mengenai transparansi struktur kepemilikan saham dan data free float.
Baca Juga
Menkeu Purbaya: Trading Halt IHSG Efek Kejut Sementara, Optimis 10.000, Enggak Usah Takut
Ekonomi