Harga Minyak Dunia Naik ke Atas US$105, Trump Ancam Lagi Serang Iran

Harga Minyak Dunia Naik ke Atas US$105, Trump Ancam Lagi Serang Iran
Ilustrasi kenaikan harga minyak mentah
Ikhtisar
  • Harga minyak mentah dunia kembali menguat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam eskalasi serangan terhadap Iran.
  • Minyak jenis WTI sempat menembus lebih dari US$105 per barel di tengah gangguan pasokan akibat krisis di Selat Hormuz.
  • Pasar juga mencermati keterlibatan kelompok Houthi yang berpotensi memperluas gangguan ke jalur pelayaran Laut Merah.

INFORMASI.COM, Jakarta - Harga minyak mentah dunia kembali menanjak pada perdagangan terbaru setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman baru terhadap Iran. Pasar merespons pernyataan tersebut dengan kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah masih jauh dari mereda, sementara risiko gangguan pasokan energi global terus membesar.

Kenaikan harga itu terlihat pada minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) yang bergerak naik hingga kisaran US$105 per barel, setelah sehari sebelumnya juga ditutup pada level tertinggi sejak 2022. Di saat yang sama, minyak acuan global juga menguat seiring pasar menilai jalur distribusi energi utama dunia masih berada dalam tekanan tinggi.

Lonjakan harga ini tidak berdiri sendiri. Pergerakan pasar terjadi setelah Trump melalui pernyataan publiknya kembali menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Ia mengancam bahwa Amerika Serikat dapat meningkatkan serangan terhadap infrastruktur strategis Iran bila tuntutan itu tidak dipenuhi.

Dalam eskalasi terbaru, ancaman tersebut menyasar fasilitas yang sangat sensitif bagi ekonomi dan kehidupan sipil Iran, termasuk pembangkit listrik, fasilitas minyak, dan kemungkinan infrastruktur desalinasi. Pesan itu segera dibaca pasar sebagai sinyal bahwa konflik belum bergerak menuju deeskalasi yang stabil.

Thumbnail Trump Klaim AS Hancurkan Banyak Target di Iran, Iran Kirim Hadiah 20 Kapal Minyak?
i

Baca Juga

Trump Klaim AS Hancurkan Banyak Target di Iran, Iran Kirim Hadiah 20 Kapal Minyak?

Video

Ketegangan ini menjadi sangat penting karena Selat Hormuz merupakan titik sempit yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk. Gangguan di jalur itu tidak hanya memukul pasokan minyak mentah, tetapi juga menghambat distribusi gas alam dan produk turunan energi seperti diesel ke berbagai pasar dunia.

Di tengah ancaman tersebut, pasar justru melihat sinyal yang saling bertabrakan dari Washington. Di satu sisi, Trump beberapa kali menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan dengan Iran bisa dicapai. Namun di sisi lain, Amerika Serikat terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan, sehingga pelaku pasar menilai risiko perang tetap tinggi.

Pandangan itu juga tercermin dari komentar para pelaku pasar energi. Rebecca Babin, trader energi senior di CIBC Private Wealth Group, menilai upaya meredakan ketegangan belum benar-benar meyakinkan.

“Sinyal yang muncul saat ini adalah satu langkah maju, namun lima langkah mundur dalam setiap upaya deeskalasi,” ujar Babin.

Ia menambahkan bahwa tekanan terhadap pasar energi kini tidak lagi mudah diredam hanya dengan pernyataan politik. Menurut dia, hilangnya jutaan barel pasokan dari pasar global telah membuat ruang penyangga pasokan semakin sempit.

“Dengan absennya 10 hingga 12 juta barel per hari dari pasar, cadangan penyangga semakin menipis. Upaya untuk menekan harga melalui retorika semata kini menjadi kurang efektif,” lanjutnya.

Komentar tersebut menggambarkan satu hal penting: pasar saat ini tidak hanya bereaksi terhadap perang, tetapi juga terhadap kemungkinan konflik berkepanjangan yang terus memangkas fleksibilitas pasokan dunia. Dalam kondisi seperti ini, setiap ancaman baru dapat langsung diterjemahkan menjadi lonjakan harga.

Thumbnail Apakah AS Berani Kirim Pasukan Militer untuk Invasi Darat ke Iran?
i

Baca Juga

Apakah AS Berani Kirim Pasukan Militer untuk Invasi Darat ke Iran?

Internasional

Situasi menjadi semakin rumit setelah kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, ikut masuk ke dalam eskalasi konflik. Dalam beberapa hari terakhir, kelompok itu dilaporkan meluncurkan rudal ke arah Israel, memperluas dimensi perang ke area yang selama ini sudah sensitif bagi pelayaran global.

Keterlibatan Houthi menambah kecemasan pasar karena ancaman tidak lagi hanya terpusat di Selat Hormuz. Risiko juga mulai meluas ke jalur laut lain yang selama ini dipakai sebagai alternatif distribusi energi, terutama di kawasan Laut Merah dan sekitarnya.

Bagi pasar minyak, perkembangan ini sangat krusial. Ketika jalur utama seperti Hormuz terganggu, pelaku industri biasanya mengandalkan rute alternatif untuk menjaga arus ekspor tetap berjalan. Namun jika tekanan juga merembet ke jalur pengganti, maka biaya logistik, premi asuransi, dan risiko keterlambatan pengiriman akan ikut melonjak.

Di sinilah pasar melihat bahwa krisis energi saat ini bukan sekadar soal perang satu kawasan, melainkan soal keamanan infrastruktur global yang menopang distribusi minyak dunia. Karena itu, lonjakan harga minyak bukan hanya respons emosional jangka pendek, tetapi cerminan dari ketakutan bahwa gangguan fisik terhadap pasokan bisa menjadi lebih panjang dan lebih luas.

Bila eskalasi terus berlanjut, tekanan tersebut bisa merembet ke banyak sektor lain, mulai dari inflasi energi, ongkos transportasi, biaya industri, hingga harga barang konsumsi di berbagai negara. Untuk saat ini, pasar masih menunggu apakah ancaman terbaru dari Trump akan berujung pada tekanan diplomatik baru atau justru membuka babak konflik yang lebih besar.

Thumbnail Negara Teluk Mulai Cari Jalur Baru, Penutupan Selat Hormuz Ganggu Pasokan Minyak Dunia
i

Baca Juga

Negara Teluk Mulai Cari Jalur Baru, Penutupan Selat Hormuz Ganggu Pasokan Minyak Dunia

Internasional

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.