- • Spekulasi mengenai kemungkinan pengerahan pasukan darat Amerika Serikat ke Iran meningkat.
- • Presiden Donald Trump belum menutup kemungkinan operasi tersebut, namun sejumlah pejabat dan senator AS sudah khawatir.
- • Analis menilai jika operasi darat terjadi, misinya kemungkinan terbatas, dengan sasaran utama fasilitas nuklir Iran.
INFORMASI.COM, Jakarta - Spekulasi mengenai kemungkinan pengerahan pasukan darat Amerika Serikat ke Iran terus meningkat seiring perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Teheran memasuki hari ke-12.
Perdebatan tersebut menguat di Washington setelah sejumlah anggota Kongres menerima pengarahan rahasia mengenai perkembangan perang. Salah satu kritik keras datang dari Senator Partai Demokrat AS, Richard Blumenthal, yang mengikuti briefing tertutup Komite Angkatan Bersenjata Senat.
Blumenthal menyampaikan kekecewaannya terhadap informasi yang disampaikan pemerintah dalam pertemuan tersebut.
“Saya keluar dari briefing ini dengan perasaan tidak puas dan marah, terus terang, seperti yang pernah saya rasakan dari briefing mana pun dalam 15 tahun terakhir,” kata Blumenthal kepada wartawan, pekan lalu, seperti dikutip dari Aljazeera.
Ia juga menyatakan kekhawatiran terhadap kemungkinan pengerahan pasukan Amerika ke medan perang.
“Saya paling khawatir tentang ancaman terhadap nyawa warga Amerika jika putra dan putri kita berpotensi dikerahkan di darat di Irak. Kita tampaknya berada di jalur menuju pengerahan pasukan Amerika di darat di Iran untuk mencapai salah satu dari kemungkinan tujuan di sini,” kata Blumenthal.
Baca Juga
Benarkah Iran Pakai Satelit China? Mengurai Dugaan Peran BeiDou dalam Perang Iran vs AS-Israel
Internasional
Perdebatan Politik di Washington
Pernyataan Blumenthal menjadi bagian dari kritik yang lebih luas dari Partai Demokrat terhadap kebijakan perang pemerintahan Presiden Donald Trump.
Para politisi Demokrat menilai pemerintah belum memberikan penjelasan yang cukup mengenai alasan Amerika Serikat menyerang Iran serta tujuan jangka panjang dari operasi militer tersebut.
Senator Demokrat lain, Chris Murphy, juga menyampaikan keraguannya setelah menghadiri briefing yang sama. Dalam unggahannya di platform X, Murphy mengatakan pejabat pemerintah menyebut tujuan perang adalah menghancurkan aset militer Iran, namun tidak menjelaskan rencana jangka panjangnya secara rinci.
Di sisi lain, pemerintah Trump sejak awal perang menyatakan bahwa operasi militer bertujuan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Pemerintah Iran sendiri menegaskan program nuklirnya hanya ditujukan untuk kepentingan sipil.
Sikap Pemerintah AS
Hingga kini pemerintah Amerika Serikat belum mengonfirmasi apakah pasukan darat akan dikirim ke Iran. Namun sejumlah pejabat juga tidak menutup kemungkinan tersebut.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan Washington siap mengambil langkah yang diperlukan untuk menghentikan ambisi nuklir Iran.
Amerika Serikat, kata Hegseth kepada jaringan televisi CBS, “bersedia melangkah sejauh yang diperlukan” dan akan memastikan ambisi nuklir Iran “tidak pernah tercapai”.
Sementara itu, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan operasi darat belum menjadi bagian dari rencana saat ini, tetapi Presiden Trump tetap mempertahankan berbagai opsi militer.
Isyarat lain muncul dari pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam sebuah briefing di Kongres. Ia mengatakan Amerika Serikat perlu mengamankan secara fisik material nuklir Iran.
“Orang-orang harus pergi ke sana dan mengambilnya,” kata Rubio tanpa menjelaskan siapa yang akan menjalankan operasi tersebut.
Pada saat yang hampir bersamaan, muncul laporan bahwa Trump telah berbicara dengan kelompok pemberontak Kurdi Iran yang berbasis di Irak dekat perbatasan Iran. Para analis menilai kemungkinan Amerika Serikat mencoba memanfaatkan kelompok bersenjata Kurdi sebagai kekuatan proksi di darat.
Baca Juga
Menteri AS Prediksi Perang Iran Berakhir dalam Beberapa Pekan Lagi
Internasional
Penolakan Publik di Amerika Serikat
Sejumlah survei menunjukkan mayoritas warga Amerika tidak mendukung pengerahan pasukan darat ke Iran.
Jajak pendapat Quinnipiac University menunjukkan sekitar 74 persen responden menolak kemungkinan tersebut. Sementara survei pesan singkat yang dilakukan oleh The Washington Post juga menunjukkan sebagian besar responden menentang perang tersebut.
Survei lain dari Reuters dan Ipsos yang dilakukan setelah perang dimulai pada 28 Februari menunjukkan 43 persen responden tidak menyetujui operasi militer tersebut. Sebanyak 29 persen responden menyatakan tidak yakin, dan hanya sekitar seperempat yang mendukung serangan AS–Israel.
Jika Operasi Darat Terjadi
Para analis menilai operasi darat di Iran akan jauh lebih sulit dibandingkan operasi militer Amerika Serikat di negara lain.
Iran memiliki wilayah yang empat kali lebih luas dari Irak dan didominasi oleh medan pegunungan yang kompleks. Faktor tersebut membuat operasi militer skala besar menjadi sangat menantang.
Profesor dari AFG College di Qatar yang berafiliasi dengan University of Aberdeen, Thomas Bonnie James, mengatakan operasi darat kemungkinan akan berskala terbatas dan memiliki sasaran yang sangat spesifik.
“Hal ini jauh lebih mungkin merujuk pada operasi terbatas dan khusus yang melibatkan unit-unit kecil yang menargetkan fasilitas tertentu, yang kemungkinan didukung oleh pasukan pengerahan cepat seperti Divisi Lintas Udara ke-82,” kata James.
82nd Airborne Division merupakan unit elit Angkatan Darat Amerika Serikat yang dilatih untuk operasi penerjunan cepat di wilayah konflik guna menguasai bandara atau lokasi strategis lainnya. Unit tersebut pernah dikerahkan dalam Perang Dunia II serta perang di Afghanistan dan Irak.
Baca Juga
Harga BBM di 85 Negara Naik Gara-gara Perang AS vs Iran, Kamboja dan Vietnam Paling Tinggi
Ekonomi
Target Operasi Militer
Jika operasi tersebut dilakukan, analis menilai sasaran utamanya adalah fasilitas nuklir Iran.
Beberapa lokasi yang disebut paling penting antara lain Natanz Nuclear Facility, Fordow Fuel Enrichment Plant, dan Isfahan Nuclear Technology Center.
Selain itu, pulau strategis Kharg Island yang menjadi jalur utama ekspor minyak Iran juga dinilai berpotensi menjadi target operasi militer.
James menjelaskan bahwa setiap operasi darat kemungkinan akan dimulai dengan penguasaan udara serta penghancuran sistem pertahanan udara Iran.
“Setiap operasi darat terbatas kemungkinan akan dimulai dengan memperoleh superioritas udara dan menekan pertahanan udara Iran agar pesawat dan aset pendukung dapat mencapai target dengan aman,” kata James.
Setelah itu, pasukan pengerahan cepat akan mengamankan titik masuk seperti bandara atau area staging. Unit khusus seperti US Navy SEALs dan US Army Special Forces kemudian menjalankan operasi paling sensitif di lapangan.
James menjelaskan misi tersebut kemungkinan akan melibatkan upaya menembus fasilitas yang diperkuat, mengumpulkan intelijen, serta mengamankan material nuklir.
“Penekanannya adalah pada kecepatan, presisi, dan paparan yang terbatas,” kata James.
Setelah misi selesai, pasukan diperkirakan segera melakukan penarikan cepat dari wilayah Iran menuju titik evakuasi untuk mengakhiri operasi dalam waktu singkat.