- • Harga minyak mentah dunia turun 16,5 persen setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan gencatan senjata selama 2 pekan dengan Iran.
- • Sebelumnya, Invasi AS-Israel ke Iran memicu kenaikan harga minyak hingga di atas 120 dolar atau naik 50% selama Maret.
- • Kabar jeda perang selama dua pekan membuat minyak mentah turun ke level 94 dolar per barel.
INFORMASI.COM, Jakarta – Kabar gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran langsung mengubah peta pergerakan pasar global. Investor yang sebelumnya panik berbondong-bondong keluar dari aset berisiko, kini justru berlomba masuk kembali.
Harga minyak dunia terjun bebas. US crude futures merosot sekitar 16,5% hingga menyentuh 94 dolar per barel pada Rabu (8/4/2026). Angka itu menjadi penanda seberapa besar ketegangan sebelumnya telah menyuntikkan premi risiko ke dalam harga energi.
Sebagai perbandingan, perang AS-Israel melawan Iran yang dimulai akhir Februari lalu telah mencatatkan rekor kenaikan harga minyak bulanan tertinggi dalam sejarah, yakni 50% sepanjang Maret. Saat itu, Tehran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur air strategis yang mengangkut seperlima kebutuhan minyak dan gas dunia.
Namun, segalanya berubah setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada Rabu (8/4/2026) waktu Indonesia. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyetujui penangguhan serangan ke Iran selama dua pekan. Trump bahkan menambahkan bahwa kesepakatan perdamaian jangka panjang sedang dalam proses.
Dari sisi Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi merespons dengan mengatakan bahwa negaranya akan menghentikan serangan jika serangan terhadapnya dihentikan. Ia juga menjamin bahwa transit aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan selama dua minggu, dengan koordinasi Angkatan Bersenjata Iran.
Baca Juga
Donald Trump Sebut AS Setujui Gencatan Senjata 14 Hari dengan Iran
Internasional
Reaksi Pasar: Dari Panik ke Euforia
Dampaknya langsung terasa di seluruh lini. Saham di S&P 500 futures melonjak lebih dari 2 persen, membalikkan tren penurunan yang terjadi selama berminggu-minggu. Di sisi lain, dolar AS justru melemah secara luas, sebuah sinyal bahwa investor mulai meninggalkan mata uang safe haven yang selama gejolak menjadi tempat berlindung.
Jamie Cox, managing partner di Harris Financial Group, memberikan komentarnya kepada media. “Pasar telah memprediksi bahwa Trump sedang mencari jalan keluar dari kebuntuan di Iran,” ujar Cox. “Hari ini, ia mendapatkannya dan mengambilnya.”
Bursa saham Asia pun menghijau. Sebelumnya, benua kuning menjadi salah satu yang terpukul paling parah akibat perang dan melonjaknya harga energi.
Tony Sycamore, analis dari IG, kepada Al Jazeera, berkata bahwa perkembangan ini adalah awal yang baik bagi ekonomi dunia. "Dapat membuka jalan menuju pembukaan kembali (keran ekonomi) yang lebih permanen, namun masih banyak hal yang harus diselesaikan,” kata dia.
Para pelaku pasar kini akan mencermati dua pekan ke depan. Apakah gencatan senjata sementara ini benar-benar akan diikuti kesepakatan definitif?
Jika benar, Selat Hormuz bisa kembali normal dan tekanan harga energi akan mereda. Jika tidak, reli yang baru terjadi hari ini bisa berubah menjadi jebakan bagi investor yang terlalu cepat bersorak.
Baca Juga
Trump Dilaporkan Sepakat Cabut Sanksi Ekonomi dan Bayar Kompensasi kepada Iran
Internasional