- • Saham BMRI turun 0,47% ke Rp4.200 pada perdagangan 24 Agustus 2026 di tengah polemik pemblokiran rekening aktivis Pati.
- • BMRI telah tertekan 17,65% secara YTD, sehingga pelemahan terbaru tidak sepenuhnya dapat dikaitkan dengan isu pemblokiran rekening.
- • BMRI mencatat net sell sekitar Rp37,4 miliar pada perdagangan reguler, menambah tekanan jual terhadap saham bank tersebut.
INFORMASI.COM, Jakarta – Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) bergerak melemah pada perdagangan Senin (24/8/2026), di tengah sorotan publik terhadap polemik pemblokiran rekening milik aktivis Pati, Supriyono alias Botok.
Berdasarkan data perdagangan saham, BMRI ditutup di level Rp4.200 per saham, turun 20 poin atau 0,47% dibandingkan penutupan Jumat (21/8/2026) di Rp4.220. Sepanjang perdagangan 24 Agustus, BMRI bergerak dalam rentang Rp4.170-Rp4.220.
Pelemahan tersebut terjadi setelah isu pemblokiran rekening Supriyono mencuat ke publik. Rekening yang disebut berisi sekitar Rp80,9 juta tersebut digunakan untuk menampung dana pribadi dan donasi bagi kebutuhan aksi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB).
Bank Mandiri menyatakan pembatasan rekening tersebut merupakan tindak lanjut atas permintaan aparat penegak hukum dan dilakukan sesuai prosedur serta ketentuan yang berlaku. Bank juga menyampaikan permintaan maaf atas ketidaknyamanan yang muncul.
Baca Juga
Buntut Pemblokiran Rekening Botok, Warganet Serbu Akun Medsos Bank Mandiri
Ekonomi
Tekanan terhadap BMRI sebenarnya sudah terlihat sebelum isu rekening aktivis Pati menjadi perhatian publik. Pada 18 Agustus, BMRI ditutup di Rp4.150 atau turun 0,48%. Sehari berikutnya kembali terkoreksi 0,24% ke Rp4.140.
Namun, BMRI kemudian menguat 0,24% pada 20 Agustus menjadi Rp4.150 dan melonjak 1,69% pada 21 Agustus ke Rp4.220. Setelah isu rekening mencuat pada akhir pekan, saham BMRI kembali melemah pada perdagangan Senin (24/8/2026).
Dengan demikian, pelemahan 0,47% pada 24 Agustus belum dapat secara langsung disebut sepenuhnya disebabkan oleh polemik pemblokiran rekening, mengingat saham BMRI juga dipengaruhi oleh kondisi pasar, sentimen sektor perbankan, serta aktivitas investor secara keseluruhan.
Jika ditarik secara year to date (YTD), tekanan terhadap BMRI jauh lebih besar dibandingkan koreksi pada perdagangan 24 Agustus.
BMRI tercatat melemah sekitar 17,65% sejak awal 2026, dengan penutupan 24 Agustus di Rp4.200. Bahkan saham BMRI sudah masuk 10 besar saham yang menahan laju IHSG tahun ini dengan memberi kontribusi minus 68,97 poin.
Baca Juga
PPATK Klaim Tidak Pernah Meminta Bank Mandiri Blokir Rekening Botok Pati
Nasional
Sementara itu, dalam periode satu bulan, saham tersebut juga terkoreksi sekitar 4,11%, sementara dalam enam bulan terakhir turun 20,38%.
Artinya, isu pemblokiran rekening aktivis Pati muncul ketika saham BMRI memang sudah berada dalam tren penurunan secara YTD. Karena itu, sentimen negatif dari polemik tersebut lebih tepat dilihat sebagai tambahan tekanan terhadap persepsi investor, khususnya terkait risiko reputasi dan kepercayaan terhadap layanan perbankan.
Di sisi transaksi, BMRI pada 24 Agustus juga mencatat tekanan jual. Data transaksi pasar reguler yang dihimpun menunjukkan adanya net sell sekitar Rp37,4 miliar, dengan volume penjualan bersih sekitar 90 ribu lot.
Meski demikian, investor tetap perlu membedakan antara korelasi waktu dan hubungan sebab-akibat. Penurunan BMRI pada 24 Agustus terjadi bersamaan dengan mencuatnya polemik rekening, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa isu tersebut menjadi satu-satunya penyebab pelemahan saham.
Sebagai perusahaan tercatat, BMRI merupakan emiten PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dengan kode saham BMRI di Bursa Efek Indonesia (BEI).