- • Muhammad Lutfi menduga Singapura memanfaatkan pengaruhnya di MSCI untuk menekan klasifikasi pasar modal Indonesia.
- • Ia menuding tekanan itu bertujuan memicu kejatuhan harga saham agar investor asing bisa membeli aset Indonesia dengan harga lebih murah.
- • Lutfi menyebut nama petinggi GIC, Rachel Goh, tetapi tidak menyertakan bukti yang mendukung tuduhannya.
INFORMASI.COM, Jakarta - Mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menuding Singapura berupaya menekan pasar saham Indonesia melalui Morgan Stanley Capital International (MSCI), lembaga penyedia indeks pasar modal global.
Ia menduga tekanan tersebut bertujuan memicu penurunan harga saham di dalam negeri, terutama pada Jumat pekan lalu dan Senin (19/10/2026). Nantinya, kata Lutfi, investor asing bisa kembali membeli saham perusahaan Indonesia dengan harga lebih murah.
Lutfi menyampaikan tuduhan itu melalui unggahan Reels di akun Instagram resminya, @m.lutfi, pada Senin (19/10/2026). Ia mempertanyakan alasan Singapura, melalui perusahaan investasi negara Temasek dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC), diduga mendorong MSCI menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market atau pasar berkembang menjadi standalone market atau pasar mandiri.
“Lalu, kenapa Singapura lewat institusi raksasa mereka seperti Temasek dan GIC yang punya pengaruh besar di MSCI begitu ngotot menekan Indonesia?” kata Lutfi.
Ia bahkan menyebut seorang petinggi GIC bernama Rachel Goh sebagai sosok yang diduga ikut menekan MSCI. Lutfi mengaku memperoleh informasi mengenai keterlibatan perempuan tersebut dari sumber internal.
“Bahkan saya dapat kabar langsung di dalam, Rachel Goh di GIC yang marah-marah dan menekan MSCI supaya peringkat Indonesia diturunkan,” ujarnya.
Namun, Lutfi tidak menyertakan bukti untuk mendukung tuduhan tersebut. Klaim mengenai keterlibatan Singapura, Temasek, GIC, maupun Rachel Goh juga belum terverifikasi secara independen. Karena itu, tuduhan tersebut belum dapat diperlakukan sebagai fakta yang terbukti.
Baca Juga
Mantan Mendag RI Sentil Singapura soal Karhutla: Apakah Keadilan Tergantung Rekening Bank Singapura?
Internasional
Lutfi Sebut Investor Asing Ingin Membeli Saham dengan Harga Murah
Lutfi mengaitkan dugaan tekanan terhadap MSCI dengan pergerakan dana investor institusi asing di pasar saham Indonesia. Menurut dia, investor asing telah menarik sebagian besar dananya, tetapi langkah tersebut tidak membuat harga saham domestik jatuh sesuai harapan mereka.
Ia mengklaim sekitar 80 persen dana institusi asing telah keluar dari pasar Indonesia. Namun, menurut Lutfi, harga saham yang tidak merosot tajam membuat investor tersebut belum mendapatkan kesempatan untuk membeli kembali aset dengan harga lebih rendah.
“Dana-dana institusi asing ini sudah keluar sekitar 80 persen dari pasar Indonesia. Masalahnya, waktu mereka keluar, bursa kita tidak hancur. Karena harganya tidak turun, mereka tidak bisa masuk lagi buat beli murah,” kata Lutfi.
Berdasarkan dugaan tersebut, ia menilai ancaman perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dapat menjadi pemicu tekanan baru. Penurunan status, menurut Lutfi, berpotensi menimbulkan kepanikan investor dan mendorong indeks saham turun.
Ia menggambarkan skenario yang dicurigainya sebagai upaya menjatuhkan harga saham terlebih dahulu, kemudian membeli kembali aset-aset perusahaan Indonesia ketika harganya lebih rendah.
“Mereka tekan MSCI untuk mengancam turunkan kasta Indonesia ke standalone market. Bikin kepanikan massal supaya indeks saham kita rontok. Lalu mereka borong kembali aset-aset terbaik Indonesia di harga diskon,” ujarnya.
Meski demikian, Lutfi tidak memaparkan data pendukung untuk memastikan besaran dana asing yang keluar, pihak yang disebut berkepentingan, ataupun hubungan antara arus dana tersebut dan dugaan tekanan terhadap MSCI.
Baca Juga
Reformasi Pasar Modal Bukan Cuma Soal MSCI, Tapi Banyak Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Investasi
Ekonomi
Lutfi Pertanyakan Kategori Standalone Market
Selain menuding adanya kepentingan investor asing, Lutfi mempersoalkan alasan pasar modal Indonesia berpotensi turun ke kategori standalone market. Ia menghubungkan kategori tersebut dengan negara-negara yang menerapkan pembatasan arus modal atau capital control.
Menurut Lutfi, pembatasan itu dapat mencakup pembatasan transaksi valuta asing serta penerapan nilai tukar yang dikendalikan pemerintah. Ia menilai Indonesia tidak menerapkan kebijakan semacam itu sehingga mempertanyakan kelayakan Indonesia masuk ke kategori tersebut.
Namun, pernyataan Lutfi mengenai kriteria klasifikasi dan dugaan adanya tekanan dari Singapura merupakan dua hal yang berbeda. Penilaian atas kelayakan klasifikasi pasar modal Indonesia perlu merujuk pada kriteria resmi MSCI, sedangkan tuduhan mengenai intervensi pihak tertentu memerlukan bukti tersendiri.
Lutfi pernah menjabat Menteri Perdagangan pada dua periode pemerintahan. Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ia menjabat pada 14 Februari hingga 20 Oktober 2014. Ia kembali menduduki jabatan tersebut pada masa Presiden Joko Widodo, dari 23 Desember 2020 hingga 15 Juni 2022.