- • Pemerintah melarang atraksi gajah tunggang karena bertentangan dengan prinsip kesejahteraan satwa.
- • Penelitian dan kajian konservasi menunjukkan struktur punggung gajah tidak dirancang untuk menahan beban manusia secara berulang.
- • Praktik penjinakan dan penggunaan gajah untuk wisata dinilai berdampak pada kesehatan fisik dan perilaku satwa.
INFORMASI.COM, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan menghentikan praktik atraksi gajah tunggang di lembaga konservasi di Indonesia.
Larangan tersebut diberlakukan melalui Surat Edaran Nomor SE. 6 Tahun 2025 Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) tentang Penghentian Peragaan Gajah Tunggang di Lembaga Konservasi.
Larangan itu mulai berlaku sejak SE larangan itu ditandatangani pada tanggal 18 Desember 2025. Larangan berlaku secara nasional.
Larangan gajah tunggang diberlakukan sebagai bagian dari upaya perlindungan satwa dan peningkatan standar kesejahteraan hewan.
Kebijakan tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap dampak fisik dan psikologis yang dialami gajah akibat aktivitas wisata berbasis interaksi langsung dengan manusia, termasuk menunggangi gajah.
Baca Juga
Awas! Tak Boleh Naik Gajah, Atraksi Gajah Tunggang Dilarang di Indonesia
Nasional
Bisa Bikin Cedera pada Tubuh Gajah
Secara ilmiah, tubuh gajah memang mampu menopang bobot besar, tetapi sistem penopang tersebut berfokus pada kaki dan tulang anggota gerak, bukan pada tulang belakang. Struktur tulang panjang pada kaki gajah memiliki adaptasi khusus untuk menahan berat badan yang sangat besar melalui jaringan tulang trabekular yang padat dan orientasi mekanis tertentu.
Sebaliknya, bagian punggung gajah tidak berevolusi untuk membawa beban tambahan di atasnya. Tonjolan tulang belakang (spinous process) pada gajah relatif menonjol dan hanya dilapisi jaringan lunak tipis, sehingga tekanan dari kursi tunggang atau wisatawan dapat menimbulkan luka dan gangguan tulang belakang.
Kajian kesejahteraan satwa yang banyak dirujuk organisasi konservasi menunjukkan bahwa beban wisatawan yang ditempatkan di punggung gajah dapat menyebabkan cedera tulang belakang, gangguan postur tubuh, luka pada jaringan kulit dan otot, serta tekanan berlebih pada organ internal.
Kursi khusus wisatawan yang dipasang di punggung gajah bahkan menambah tekanan mekanis pada tulang belakang karena distribusi beban yang tidak alami. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat pertumbuhan dan memicu kerusakan jaringan tubuh.
Selain dampak fisik, gajah yang digunakan dalam wisata tunggang umumnya mengalami proses pelatihan intensif untuk menekan perilaku alaminya. Praktik ini sering melibatkan pembatasan gerak, stres, serta hukuman fisik agar gajah patuh terhadap manusia.
Baca Juga
Kejinya Pemburu di Riau, Seekor Gajah Sumatra Mati dengan Kepala Terpotong dan Tanpa Gading
Hijau
Populasi Gajah Asia Terus Menurun dan Terancam Punah
Populasi gajah Asia sendiri terus menurun di alam liar dan kini berstatus terancam punah. Jumlahnya diperkirakan kurang dari 50.000 individu yang tersebar di berbagai negara Asia.
Di Indonesia, gajah sumatera bahkan berada pada kategori Critically Endangered (kritis) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), yang berarti spesies tersebut berada di ambang kepunahan.
Karena itu, penghentian atraksi gajah tunggang dipandang sebagai langkah untuk mengarahkan fungsi lembaga konservasi pada edukasi dan perlindungan satwa, bukan hiburan berbasis eksploitasi.
Pendekatan konservasi modern mendorong interaksi tanpa kontak fisik langsung dengan satwa, seperti pengamatan perilaku alami, interpretasi habitat, dan edukasi ekologi. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik bahwa konservasi satwa tidak hanya tentang menjaga populasi, tetapi juga memastikan kesejahteraan individu hewan di dalamnya.
Baca Juga
Momen Gajah Ikut Bantu Penanganan Pasca Bencana Aceh, Bersihkan Kayu
Video