- Home
- Internasional
- Kisah Frank Lenz, Seorang Pesepeda yang Hilang saat Keliling Dunia
Kisah Frank Lenz, Seorang Pesepeda yang Hilang saat Keliling Dunia

INFORMASI.COM, Jakarta – Frank Lenz merupakan seorang akuntan asal Pittsburgh, AS, dan memulai perjalanan ambisius, yaitu keliling dunia dengan bersepeda. Perjalanan ini dilakukan pada Mei 1892.
Dikutip dari JSTOR Daily dan Adventure Cycling, Sabtu (11/1/2025), terinspirasi oleh penjelajah Thomas Stevens, Lenz bertekad menaklukkan dunia dengan sepeda "safety" beroda dua yang lebih modern dibandingkan sepeda beroda besar sebelumnya.
Perjalanan Lenz dimulai dari Pittsburgh menuju Washington DC dan New York, kemudian melintasi Amerika Serikat hingga mencapai San Francisco pada Oktober 1892. Dari sana, ia berlayar ke Jepang dan melanjutkan perjalanan darat dari Yokohama ke Nagasaki.
Inilah Kisah di Balik Tiga Lukisan Raden Saleh yang TerkenalLenz memuji infrastruktur jalan di Jepang yang memadai, namun tantangan sebenarnya menantinya di Tiongkok. Jalan yang buruk dan sikap penduduk lokal yang kurang bersahabat membuat perjalanannya melalui Tiongkok sangat sulit, memakan waktu enam bulan, dua kali lipat dari perkiraan awalnya.
Setelah melewati Tiongkok, Lenz tiba di Burma (sekarang Myanmar). Di sana dia menghadapi hutan lebat, hujan deras, dan penyakit malaria.
Kondisi ini memaksanya menunda perjalanan untuk pemulihan. Dari Rangoon, ia berlayar ke Kalkuta, India, dan melanjutkan perjalanan darat ke Lahore, kemudian ke Karachi. Selanjutnya, ia menyeberang ke Bushehr, Persia (sekarang Iran), dan menuju Teheran.
Lenz menikmati waktunya di Teheran, namun pada April 1894, ia melanjutkan perjalanan ke Tabriz dengan tujuan mencapai Istanbul sebelum puncak musim panas.
Pada awal Mei 1894, Lenz meninggalkan Tabriz menuju Erzurum, wilayah Kekaisaran Ottoman (sekarang Turki). Setelah itu, ia tidak pernah terdengar lagi. Kekhawatiran keluarganya meningkat seiring berjalannya waktu tanpa kabar. Majalah Outing, yang mensponsori perjalanannya, mengirim William Sachtleben, seorang pesepeda terkenal, untuk menyelidiki.
Sachtleben menemukan bahwa Lenz kemungkinan besar dibunuh oleh seorang kepala suku Kurdi setelah terjadi konflik di sebuah desa kecil. Meskipun pelaku utama diadili dan dihukum oleh otoritas Ottoman, dia kemudian melarikan diri.
Mengapa Dulu Indonesia Bernama Hindia Belanda?Beberapa penduduk Armenia yang membantu penyelidikan Sachtleben juga dipenjara, dan beberapa meninggal dalam tahanan.
Setelah tekanan diplomatik dari pemerintah Amerika Serikat, pemerintah Ottoman setuju membayar kompensasi sekitar US$7.500 kepada ibu Lenz, delapan tahun setelah kematiannya.
Kisah Frank Lenz menjadi pengingat akan bahaya dan tantangan yang dihadapi para penjelajah pada era tersebut, serta semangat petualangan yang mendorong mereka menjelajahi dunia dengan sarana yang terbatas.
(Penulis: Daffa Prasetia)
Komentar (0)
Login to comment on this news