- • Starlink dilaporkan menawarkan layanan internet gratis di Iran saat pemerintah memberlakukan pemadaman komunikasi nasional.
- • Akses satelit ini menjadi salah satu jalur utama keluarnya informasi tentang protes dan penindakan aparat.
- • Iran merespons dengan pemblokiran, penyitaan perangkat, hingga upaya mengganggu sinyal Starlink.
INFORMASI.COM, Jakarta - Pemutusan akses internet secara luas di Iran di tengah gelombang protes antigovernment mendorong penggunaan Starlink, layanan internet satelit milik SpaceX, sebagai salah satu sarana utama warga Iran untuk tetap terhubung dengan dunia luar.
Starlink disebut menjadi salah satu dari sedikit jalur yang memungkinkan gambar dan video aksi protes serta penindakan aparat pemerintah dapat keluar dari Iran ketika pemerintah membatasi akses ke jaringan global.
Pemadaman tersebut diberlakukan setelah pemerintah Iran memutus akses ke sebagian besar internet sejak Kamis, di tengah eskalasi unjuk rasa di berbagai wilayah.
Di tengah situasi tersebut, Starlink dilaporkan menawarkan layanan gratis kepada pengguna di Iran. Informasi ini disampaikan oleh seseorang yang mengetahui operasional Starlink dan dikutip oleh Bloomberg.
Hingga kini, Starlink maupun Elon Musk belum memberikan konfirmasi publik terkait kebijakan tersebut. Namun, langkah ini sejalan dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang meminta agar Starlink memulihkan akses internet di Iran.
Laporan dari berbagai organisasi dan pemantau independen menyatakan bahwa SpaceX menggratiskan layanan Starlink bagi pengguna di Iran yang memiliki terminal. Hal ini dimaksudkan agar warga tetap dapat mengirimkan berita, gambar, dan video protes yang tidak dapat dicegah oleh pemadaman pemerintah.
Menurut aktivis teknologi yang berbasis di Los Angeles, Mehdi Yahyanejad, yang membantu mendistribusikan terminal di Iran:
“ Kami dapat memastikan bahwa langganan gratis untuk terminal Starlink berfungsi sepenuhnya. ”
— Yahyanejad saat berbicara kepada Associated Press, beberapa waktu lalu.
Langkah ini memungkinkan banyak pengunjuk rasa dan warga sipil berbagi informasi langsung ke audiens internasional, mematahkan kontrol informasi negara yang ketat.
Baca Juga
Trump: Warga Iran Teruslah Demo dan Gulingkan Pemerintah
Video
Dianggap Peran Kunci Ungkap Situasi
Direktur Iran Human Rights, yang dinilai pro-Barat, Mahmood Amiry-Moghaddam, menyatakan bahwa akses Starlink memainkan peran penting dalam penyebaran informasi dari dalam Iran.
Ia menjelaskan bahwa konektivitas tersebut memungkinkan organisasi hak asasi manusia dan publik internasional memperoleh informasi, termasuk perkiraan jumlah korban tewas selama protes.
“ Akses Starlink sangat penting karena alternatifnya adalah tidak ada informasi sama sekali. ”
— Mahmood Amiry-Moghaddam kepada Al Jazeera, dalam wawancara yang dilakukan pada Januari, di luar Iran.
Hingga kini, tidak ada kepastian berapa angka resmi korban tewas dari kalangan sipil maupun petugas akibat unjuk rasa berujung kerusuhan di Iran. Otoritas setempat menyatakan bahwa lebih dari 100 anggota pasukan keamanan tewas, tapi tak menyebut berapa korban dari warga sipil.
Di sisi lain, kelompok oposisi menyebut jumlah korban jauh lebih besar dan mencakup lebih dari 1.000 pengunjuk rasa.
Sementara itu, Human Rights Activists News Agency, lembaga berbasis di Amerika Serikat, melaporkan bahwa jumlah korban tewas mencapai setidaknya 2.571 orang. Angka-angka tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen.
Sabbas Aragachi, Menteri Luar Negeri Iran, dalam wawancara khusus dengan Fox News, Rabu (14/1/2026), membantah angka yang diklaim lembaga HAM yang menyebut ribuan. Kepada news anchor Fox News, Aragachi memperkirakan hanya ratusan korban.
Baca Juga
Trump Berubah, Sebut Iran Tidak Lagi Bunuh Pendemo
Video
Pemadaman Terparah Sejak 2018
Menurut Internet Society, Iran telah melakukan 17 kali pemadaman internet sejak 2018, dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.
Pemutusan akses sebelumnya terjadi pada saat protes kenaikan harga bahan bakar pada 2019 dan demonstrasi pascakematian Mahsa Amini pada 2022.
Iran juga sempat memutus internet secara singkat pada Juni, selama konflik bersenjata selama 12 hari dengan Israel dan Amerika Serikat.
Namun, Mahmood Amiry-Moghaddam menilai pemadaman kali ini jauh lebih luas.
“ Pada 2019 terjadi pemadaman total. Pada 2022, pemadaman hanya terjadi di beberapa wilayah dan berpindah-pindah. Kali ini seluruh negara terdampak selama berhari-hari. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. ”
— Mahmood Amiry-Moghaddam mengatakan.
Upaya Mengganggu Starlink dan Penyitaan Perangkat
Starlink tidak memiliki izin resmi untuk beroperasi di Iran. Meski demikian, ribuan terminal Starlink telah diselundupkan ke Iran sejak 2022.
Masuknya perangkat tersebut terjadi setelah Presiden Amerika Serikat saat itu, Joe Biden, mengizinkan perusahaan teknologi AS melewati sanksi dan menjual alat komunikasi kepada warga Iran.
Kebijakan ini diberlakukan bersamaan dengan gelombang protes besar pada 2022, yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini, seorang perempuan Iran yang meninggal dalam tahanan setelah ditangkap dengan tuduhan mengenakan hijab secara tidak pantas.
Analisis Cloudflare menunjukkan bahwa sebelum pemadaman total di tengah panasnya unjuk rasa yang berubah menjadi kerusuhan, terjadi anomali lalu lintas internet selama beberapa hari. Setelah pemutusan awal pada Kamis, koneksi sempat muncul secara terbatas pada Jumat. Namun, hingga Sabtu, Iran disebut hampir sepenuhnya terputus dari internet global.
Berbeda dari pemadaman sebelumnya, pemerintah Iran kini juga berupaya mengganggu sinyal Starlink dan menyita terminalnya.
“ Kami tidak pernah melihat Iran mencoba mengganggu Starlink sebelumnya. Sekarang mereka melakukannya. ”
— Amir Rashidi, Direktur Keamanan Internet dan Hak Digital di organisasi nirlaba Miaan Group, kepada Al Jazeera.
Media pemerintah Iran bahkan menayangkan video di Telegram yang memperlihatkan terminal Starlink dan peralatan telekomunikasi lain yang disita, masih dalam kemasan asli. Peralatan tersebut disebut sebagai alat spionase dan sabotase elektronik.
Kementerian Intelijen Iran menyatakan perangkat tersebut direncanakan untuk didistribusikan di wilayah yang mengalami kerusuhan.
Respon pemerintah Iran terhadap fenomena ini sangat keras. Menurut seumlah pengamat digital:
- •Gangguan sinyal Starlink telah meningkat drastis, dengan gangguan paket data mencapai hingga 80 persen di beberapa area kota besar.
- •Alat jammer sinyal yang digunakan diperkirakan memiliki kualitas militer dan mampu mengganggu baik uplink maupun downlink Starlink.
- •Kontrol sinyal juga dikombinasikan dengan operasi pengintaian udara untuk mencari terminal di atap rumah warga.
Baca Juga
Amerika Serikat Minta Warganya Segera Keluar dari Iran
Internasional
Perusahaan Teknologi Ingin Gulingkan Kedaulatan Negara?
Kasus Starlink di Iran memperlihatkan dinamika baru dalam konflik modern, ketika perusahaan teknologi global berhadapan langsung dengan negara dalam perebutan kontrol komunikasi dan informasi.
Kontroversi serupa sebelumnya juga muncul ketika Starlink digunakan dalam konflik di Ukraina, Sudan, dan Myanmar, serta ketika layanan ini dimanfaatkan oleh jaringan kriminal lintas negara.
Pada 2023, Iran secara resmi mengadukan Starlink ke International Telecommunication Union (ITU). Badan PBB tersebut memutuskan bahwa pengoperasian Starlink di Iran tanpa izin melanggar hukum dan kedaulatan negara.
Penggunaan Starlink di Iran menghadapi risiko tinggi. Pemerintah telah menerapkan undang-undang yang mengancam:
- •Hukuman penjara hingga 10 tahun bagi yang tertangkap memiliki terminal tanpa izin.
- •Tuduhan spionase, yang dalam beberapa kasus dapat berujung hukuman mati.