- • Kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal secara agresif di Laut Arab pada Selasa.
- • Beberapa jam setelah itu, dua kapal cepat Iran mengancam akan menyita kapal tanker kimia berbendera Amerika Serikat di Selat Hormuz.
- • Rangkaian insiden terjadi menjelang rencana perundingan diplomatik Amerika Serikat dan Iran untuk mencegah bentrokan militer.
INFORMASI.COM, Jakarta - Militer Amerika Serikat mengklaim telah menembak jatuh pesawat tanpa awak milik Iran yang mendekati kapal induk USS, Abraham Lincoln, pada Selasa (3/2/2026).
Insiden tersebut terjadi beberapa jam sebelum kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengancam akan menaiki dan menyita kapal tanker berbendera Amerika Serikat di Selat Hormuz.
Juru bicara Komando Pusat Amerika Serikat, Kapten Tim Hawkins, menyatakan insiden pertama terjadi ketika kapal induk USS Abraham Lincoln sedang melintas di Laut Arab, sekitar 500 mil dari pesisir selatan Iran. Drone Iran mendekati kapal induk saat pasukan Amerika Serikat beroperasi di wilayah perairan internasional.
Hawkins menyatakan drone tersebut tetap bergerak mendekati kapal meskipun militer Amerika Serikat telah melakukan langkah de-eskalasi.
Militer Amerika Serikat kemudian mengerahkan pesawat tempur F-35C dari kapal induk tersebut untuk menembak jatuh drone. Hawkins menyatakan tindakan tersebut dilakukan untuk melindungi kapal dan personel militer.
“ Tidak ada anggota militer Amerika yang terluka selama insiden tersebut, dan tidak ada peralatan Amerika Serikat yang rusak. ”
— Tim Hawkins, Jubir Komando Pusat AS, Selasa waktu AS.
Baca Juga
Jubir Militer: Iran Siap Perang Lawan AS, Trump Mimpi Bisa Mudah Kalahkan Iran
Video
Laporan Iran Mengenai Hilangnya Drone
Media Iran yang berafiliasi dengan pemerintah, Tasnim News Agency, juga melaporkan bahwa Iran kehilangan kontak dengan drone milik IRGC pada hari yang sama.
Media tersebut menyatakan drone tersebut sedang menjalankan misi pengintaian di wilayah perairan internasional Laut Arab.
Tasnim mengutip sumber Iran yang menyatakan drone sempat mengirimkan data pengintaian sebelum kontak terputus.
“ Drone tersebut berhasil mengirimkan rekaman pengintaian dan surveilans kepada operatornya di pusat komando IRGC sebelum hilang kontak. ”
— Pernyataan seorang sumber militer Iran kepada Tasnim News Agency.
Sumber itu menambahkan penyebab hilangnya drone masih dalam penyelidikan.
“ Penyebab hilangnya kontak ini sedang diselidiki, dan rincian akan diumumkan setelah dipastikan. ”
— Sumber militer Iran itu menambahkan.
Ancaman Penyitaan Kapal Tanker AS di Selat Hormuz
Militer AS juga mengklaim dua kapal cepat milik IRGC mendekati kapal tanker kimia M/V Stena Imperative yang dioperasikan perusahaan Amerika Serikat dan berlayar dengan bendera Amerika di Selat Hormuz, beberapa jam setelah insiden drone.
Kapten Hawkins menyatakan dua kapal cepat Iran mendekati kapal tanker tersebut dengan kecepatan tinggi dan melintas sebanyak tiga kali. Pada saat yang sama, drone Mohajer milik Iran juga terbang di atas kapal tanker.
Hawkins menyatakan kapal cepat Iran sempat menyampaikan ancaman melalui komunikasi radio.
Iran mengancam akan menaiki dan menyita kapal tanker tersebut.
Hawkins menegaskan kapal tanker berada di perairan internasional ketika ancaman tersebut terjadi. Militer Amerika Serikat kemudian merespons ancaman tersebut dengan mengerahkan kapal perang USS McFaul untuk mengawal kapal tanker menjauh dari lokasi.
USS McFaul memberikan pengawalan laut, sementara Angkatan Udara Amerika Serikat menyediakan dukungan udara defensif. Hawkins menyatakan situasi kemudian mereda setelah pengawalan dilakukan.
Hawkins menyatakan perilaku tersebut tidak dapat diterima. Ia menyebut tindakan Iran sebagai bentuk “ketidakprofesionalan dan perilaku agresif” yang meningkatkan risiko kapal-kapal yang beroperasi di Selat Hormuz.
Baca Juga
Habis Ancam Serangan Militer, Trump Buka Opsi Perundingan dengan Iran, Berubah Lagi?
Internasional
Ketegangan Terjadi Menjelang Negosiasi Diplomatik
Rangkaian insiden militer tersebut terjadi hanya beberapa hari sebelum pejabat Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan menggelar perundingan diplomatik pada Jumat (6/2/2026). Perundingan tersebut bertujuan mencegah terjadinya konflik militer antara kedua negara.
Dialog AS dan Iran sempat menghadapi hambatan pada Selasa. Pemerintah Iran meminta lokasi perundingan dipindahkan serta meminta peserta dari negara kawasan tidak dilibatkan dalam proses negosiasi.
Iran juga meminta ruang lingkup pembahasan dibatasi hanya pada program nuklir nasionalnya.
Permintaan tersebut memicu ketidaksepakatan awal antara kedua pihak yang sedang mempersiapkan pertemuan diplomatik.