- • Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan dukungan terhadap keputusan AS yang menerima syarat Iran dan membuka gencatan senjata 2 minggu.
- • Namun, Nentanyahu menegaskan bahwa masa jeda dua minggu itu tidak mencakup operasi militer Israel di Lebanon.
- • Sementara Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengumumkan bahwa AS, Iran, dan sekutu-sekutunya menyepakati gencatan senjata di mana pun, termasuk Lebanon dan wilayah lain.
INFORMASI.COM, Jakarta – Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara resmi menyatakan dukungannya terhadap keputusan Amerika Serikat untuk menangguhkan sementara serangan ke Iran. Namun, dukungan itu datang dengan satu pengecualian tegas.
Dalam pernyataan yang diunggah di X pada Rabu (8/4/2026), Netanyahu menyatakan bahwa Israel mendukung upaya Presiden AS Donald Trump untuk memastikan “Iran tidak lagi menjadi ancaman nuklir, rudal, dan teror terhadap Amerika, Israel, tetangga Arab Iran, dan dunia.”
Akan tetapi, Netanyahu segera menambahkan klarifikasi yang memecah suasana. Gencatan senjata selama dua pekan itu “tidak termasuk Lebanon,” ujarnya.
Baca Juga
Donald Trump Sebut AS Setujui Gencatan Senjata 14 Hari dengan Iran
Internasional
Pernyataan Netanyahu itu muncul hanya beberapa saat setelah Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengumumkan sebuah perkembangan yang terdengar lebih luas. Sharif menyatakan bahwa Amerika Serikat, Iran, dan sekutu-sekutu mereka “telah menyetujui gencatan senjata segera di mana pun, termasuk Lebanon dan tempat lainnya.”
Sharif bahkan menegaskan bahwa langkah tersebut “berlaku efektif segera.”
Lantas, mengapa Lebanon menjadi titik silang yang begitu tajam antara klaim Pakistan dan penegasan Israel? Untuk memahaminya, kita perlu mundur sejenak ke awal eskalasi.
Baca Juga
Trump Dilaporkan Sepakat Cabut Sanksi Ekonomi dan Bayar Kompensasi kepada Iran
Internasional
Kronologi Masuknya Lebanon ke Dalam Perang
Menurut bahan yang dihimpun, Lebanon terseret ke dalam perang AS dan Israel melawan Iran pada 2 Maret. Saat itu, Hizbullah yang beraliansi dengan Tehran melancarkan serangan ke Israel.
Kelompok tersebut menyatakan bahwa aksi itu sebagai balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, oleh Israel pada hari pertama perang, yakni 28 Februari. Selain itu, Hizbullah juga merespons pelanggaran hampir setiap hari yang dilakukan Israel terhadap gencatan senjata yang disepakati di Lebanon pada November 2024.
Gencatan senjata lama itu sendiri sebelumnya disepakati setelah lebih dari setahun baku tembak lintas perbatasan antara pasukan Israel dan pejuang Hizbullah. Baku tembak itu dipicu oleh peluncuran perang genosida Israel di Gaza pada Oktober 2023.
Akibat dari eskalasi sejak 2 Maret lalu, otoritas Lebanon mencatat bahwa serangan Israel ke Lebanon telah menewaskan lebih dari 1.500 orang dan mengungsi lebih dari satu juta warga. Militer Israel juga melancarkan invasi ke Lebanon selatan dan menyatakan bertujuan untuk merebut lebih banyak wilayah demi apa yang disebutnya sebagai zona penyangga.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada komentar segera dari Hizbullah atau pemerintah Lebanon atas pernyataan Netanyahu yang mengecualikan Lebanon dari gencatan senjata dua pekan.
Baca Juga
Israel Dibombardir Hizbullah, Netanyahu Fokus Amankan Daerah Dekat Lebanon
Video
Analisis: Hizbullah Punya Perhitungan Tersendiri
Jurnalis Al Jazeera, Zeina Khodr, yang melaporkan dari ibu kota Lebanon, Beirut, memberikan analisis mendalam. Menurut Khodr, masuknya Hizbullah ke dalam perang AS-Israel melawan Iran telah memperluas konflik dan membuat Israel terhambat di banyak front.
“Perhitungan Hizbullah adalah bahwa mereka memiliki pengaruh politik lebih besar ketika bergabung dengan Iran dalam kemungkinan negosiasi,” ujar Khodr. Ia menambahkan alasan di balik perhitungan itu: “karena Hizbullah telah mengkritik pemerintah Lebanon karena gagal membuat Israel menyetujui persyaratan gencatan senjata terakhir pada tahun 2024.”
Selain serangan yang hampir setiap hari, Khodr mencatat bahwa Israel juga menolak menarik diri dari Lebanon selatan, membebaskan tahanan, atau mengizinkan penduduk kembali ke rumah mereka.
Baca Juga
Anak Menteri Keuangan Israel Terluka Parah akibat Serangan Mortir Hizbullah
Internasional
Kini, pertanyaan besarnya, menurut Khodr, adalah apakah front Israel-Hizbullah akan dibahas dalam negosiasi yang akan datang antara Iran dan AS.
“Perdana Menteri Lebanon sendiri mengatakan bahwa ia percaya Iran telah menjalankan kampanye militer yang diluncurkan Hizbullah di Lebanon selatan. Jadi, keputusan akan dibuat oleh Iran. Dan itulah sebabnya negosiasi selama dua minggu ke depan akan menjadi kritis dan penting bagi Lebanon,” jelas Khodr.
Ia kemudian menambahkan poin yang paling krusial: “Karena pada akhirnya, Israel menginginkan jaminan keamanan. Dan itu adalah sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh pemerintah Lebanon, negara Lebanon.”