- • Harga minyak global naik tajam setelah Amerika Serikat mengumumkan blokade pelabuhan Iran mulai Senin (13/4/2026).
- • Ketua Parlemen Iran menyindir AS dengan peringatan bahwa harga BBM akan melonjak lebih tinggi.
- • Sejumlah pejabat militer Iran menolak ancaman Washington dan menyatakan kesiapan menghadapi tekanan.
INFORMASI.COM, Jakarta - Ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Iran berdampak langsung pada pasar energi global. Harga minyak melonjak tajam setelah Presiden AS, Donald Trump, memerintahkan pasukannya untuk memblokade Selat Hormuz.
Kenaikan harga terjadi pada awal perdagangan Senin. Harga minyak mentah Amerika Serikat naik 8 persen menjadi 104,24 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai acuan internasional meningkat 7 persen menjadi 102,29 dolar AS per barel.
Pergerakan harga tersebut melanjutkan volatilitas yang sudah terjadi sejak konflik memanas. Sebelumnya, harga Brent sempat melonjak setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari, dari kisaran 70 dolar AS per barel menjadi lebih dari 119 dolar AS. Namun, menjelang perundingan di Pakistan, harga sempat turun 0,8 persen ke level 95,20 dolar AS per barel.
Baca Juga
Blokade Dimulai, AS Tutup Pelabuhan Iran di Selat Hormuz, IRGC Ancam Membalas
Internasional
Iran kepada Warga AS: Silakan Nikmati Harga Minyak saat Ini
Di tengah lonjakan harga tersebut, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, kembali menanggapi ancaman blokade yang disampaikan Presiden Donald Trump. Ia menyampaikan sindiran melalui media sosial dengan menyoroti harga bahan bakar di Amerika Serikat.
Dalam akun X-nya, Ghalibaf menulis, “Nikmati harga di pompa saat ini,” sambil menyertakan peta harga bahan bakar di sekitar Gedung Putih. Ia menambahkan, “Dengan apa yang disebut ‘blokade’, segera Anda akan merindukan harga bensin 4-5 dolar AS.”
Enjoy the current pump figures. With the so-called 'blockade', Soon you'll be nostalgic for $4–$5 gas.
— محمدباقر قالیباف | MB Ghalibaf (@mb_ghalibaf) April 12, 2026
ΔO_BSOH>0 ⇒ f(f(O))>f(O) pic.twitter.com/rVxlC6vFWG
Sejumlah pejabat tinggi Iran juga menolak ancaman Washington. Komandan Angkatan Laut Iran, Shahram Irani, menyebut pernyataan Trump tidak serius.
“Ancaman Trump menggelikan,” kata Shahram Irani, dikutip dari Al Jazeera, Selasa. Ia menambahkan bahwa pasukan Iran telah memantau seluruh pergerakan militer AS di kawasan Teluk dan Laut Arab.
Komandan Pasukan Quds, Esmail Qaani, menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Israel akan dipaksa keluar dari kawasan tanpa hasil. Ia mengatakan bahwa kedua negara tersebut akan diusir “tanpa pencapaian apa pun” seperti yang terjadi di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb oleh Yaman.
Sementara itu, mantan Komandan Garda Revolusi Iran sekaligus Sekretaris Dewan Kebijaksanaan Iran, Mohsen Rezaei, menegaskan bahwa negaranya tidak mudah ditekan.
“(Iran) bukan tempat yang bisa diblokade dengan cuitan dan rencana imajiner,” kata Rezaei.
Ia pun menyebut Amerika Serikat akan “ditakdirkan gagal.”
Baca Juga
Iran Batasi Cuma 12 Kapal Lewati Selat Hormuz per Hari, Tarifnya Rp34 Miliar per Tanker
Ekonomi