- • Iran membatasi kapal yang melintas di Selat Hormuz maksimal sekitar 12 unit per hari dengan tarif hingga 2 juta dolar AS per kapal.
- • Kebijakan ini memicu negosiasi antara pemilik kapal dan Islamic Revolutionary Guard Corps untuk mendapatkan izin melintas.
- • Donald Trump mendesak Iran menghentikan pungutan tersebut di tengah gagalnya perundingan kedua negara.
INFORMASI.COM, Jakarta - Iran menetapkan pembatasan ketat terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz dengan kuota sekitar 12 kapal per hari serta tarif yang dapat mencapai 2 juta dolar AS per kapal tanker. Kebijakan ini mempertegas eskalasi ketegangan di jalur energi global yang vital.
Laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa para pemilik kapal dari berbagai negara kini tengah melakukan negosiasi dengan Islamic Revolutionary Guard Corps untuk memperoleh izin melintasi selat tersebut. Iran juga menetapkan bahwa kapal yang diizinkan harus mengikuti jalur khusus serta memenuhi persyaratan izin yang ketat.
Langkah ini menjadi perubahan signifikan dalam pengelolaan lalu lintas maritim di kawasan tersebut. Pembatasan jumlah kapal dan penerapan biaya tinggi dinilai akan berdampak langsung terhadap distribusi energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak dunia.
Juru bicara IRGC menegaskan bahwa kebijakan ini diambil sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan wilayah.
“Kami akan membatasi jumlah kapal yang melintas dan mengenakan biaya sesuai dengan kebijakan baru demi menjaga keamanan dan kedaulatan wilayah kami,” ujar juru bicara tersebut.
Baca Juga
Trump Perintahkan Militer AS Blokade Selat Hormuz, AS dan Iran Kembali Tegang
Internasional
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump merespons kebijakan tersebut dengan pernyataan keras. Ia mengaku menerima laporan bahwa Iran memungut biaya dari kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz.
“Ada laporan bahwa Iran mengenakan biaya kepada kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Sebaiknya mereka tidak melakukan itu dan, jika mereka melakukannya, sebaiknya hentikan sekarang!” tulis Trump di Truth Social.
Kebijakan Iran ini muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap pelaku industri pelayaran. Para pemilik kapal menghadapi dilema antara mematuhi regulasi baru dengan biaya tinggi atau mencari jalur alternatif yang lebih panjang dan mahal.
Situasi ini juga berpotensi mendorong kenaikan harga minyak global serta memperumit hubungan diplomatik antara Iran dan negara-negara pengguna jalur tersebut.
Sebelumnya, perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang berlangsung selama 21 jam pada Sabtu, 11 April 2026, berakhir tanpa kesepakatan. Kegagalan diplomasi tersebut memperbesar ketidakpastian di kawasan dan memperkuat langkah-langkah unilateral di sektor energi dan keamanan maritim.
Baca Juga
Perundingan AS-Iran Buntu di Pakistan, Isu Selat Hormuz Jadi Titik Krusial
Internasional