- • Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut Rusia meluncurkan lebih dari 2.200 drone jarak jauh, 1.650 bom luncur, dan 38 rudal terhadap Ukraina dalam sekitar sepekan terakhir.
- • Serangan terbaru kembali menyasar Kyiv dan sejumlah wilayah lain, termasuk infrastruktur sipil, energi, logistik, komunikasi, serta fasilitas industri.
- • Intensitas serangan meningkat ketika upaya diplomatik untuk menghentikan perang belum menghasilkan penghentian serangan udara secara berkelanjutan.
INFORMASI.COM, Jakarta - Rusia meningkatkan serangan udara terhadap Ukraina dalam sepekan terakhir dengan meluncurkan lebih dari 2.200 drone jarak jauh, 1.650 bom luncur, dan 38 rudal, menurut Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada 27 September 2026.
Jika seluruh jenis senjata tersebut dihitung, jumlahnya mencapai hampir 3.900 unit dalam sekitar tujuh hari. Data tersebut dikutip dalam penilaian Institute for the Study of War (ISW) pada 27 September 2026. Angka tersebut berasal dari pernyataan pemerintah Ukraina dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Peningkatan serangan berlangsung ketika perang Rusia-Ukraina memasuki fase baru dengan penggunaan drone dalam jumlah besar, termasuk varian Shahed bertenaga jet yang menurut laporan Reuters semakin membebani sistem pertahanan udara Ukraina.
170 Drone Diluncurkan dalam Satu Malam
Serangan terbaru terjadi pada malam 26–27 September 2026.
Angkatan Udara Ukraina melaporkan Rusia meluncurkan 170 drone jenis Shahed, Gerbera, dan Parodiya dari sejumlah lokasi di Rusia serta wilayah yang diduduki Rusia.
Dari jumlah tersebut, Ukraina menyatakan berhasil menembak jatuh 147 drone. Namun, sejumlah drone tetap mencapai sasaran. Dampak dilaporkan terjadi di 18 lokasi, sementara puing-puing drone jatuh di delapan lokasi.
Serangan tersebut menjangkau sejumlah wilayah, termasuk Kyiv, Odesa, Kharkiv, Sumy, Mykolaiv, Poltava, Zhytomyr, dan Zaporizhzhia.
Menurut laporan Ukraina, sasaran serangan mencakup infrastruktur logistik, sipil, energi, industri, dan fasilitas medis.
Pada malam berikutnya, 27–28 September 2026, Ukraina kembali melaporkan serangan besar. Angkatan Udara Ukraina menyatakan Rusia meluncurkan 165 drone, termasuk 79 drone bertenaga jet. Hingga pukul 07.00 waktu setempat, Ukraina menyatakan 112 drone berhasil dihancurkan atau diganggu dengan sistem peperangan elektronik.
Kyiv Kembali Menjadi Sasaran
Serangan Rusia juga menyasar ibu kota Ukraina.
Pada 27 September 2026, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pasukannya menyerang pusat data dan fasilitas logistik di Kyiv serta sejumlah sasaran lain yang disebut terkait dengan militer Ukraina.
Rusia juga mengklaim menyerang pusat logistik di wilayah Kyiv dan Odesa, tempat penyimpanan drone di Mykolaiv, fasilitas penjaga perbatasan, serta kapal yang membawa barang militer dan penggunaan ganda menuju Odesa. Reuters menyebut klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Pada hari yang sama, kantor pusat Kyivstar, operator telekomunikasi terbesar Ukraina, juga dilaporkan terkena serangan. Perusahaan mengatakan tidak ada korban dalam insiden tersebut. Serangan terhadap infrastruktur komunikasi menjadi perhatian karena jaringan telekomunikasi merupakan bagian penting dari aktivitas sipil sekaligus infrastruktur strategis selama perang.
Baca Juga
Rusia Gempur Kyiv, Dua Tewas dan 45 Orang Terluka
Internasional
Drone Bertenaga Jet Jadi Ancaman Baru
Salah satu perkembangan penting dalam serangan Rusia adalah meningkatnya penggunaan drone Shahed bertenaga jet.
Reuters melaporkan pada 22 September 2026 bahwa varian tersebut bergerak lebih cepat dan terbang pada ketinggian sekitar 4–7 kilometer. Karakteristik tersebut membuat sebagian sistem pertahanan udara jarak pendek Ukraina kesulitan menghadapinya.
Menurut laporan Reuters, tingkat intersepsi drone Ukraina terhadap jenis serangan tersebut telah menurun dibandingkan periode sebelumnya.
Pada September saja, Reuters melaporkan Rusia telah meluncurkan sekitar 2.100 drone bertenaga jet dan 136 rudal, sementara serangan udara Rusia sepanjang bulan tersebut menewaskan 288 orang, termasuk anak-anak, menurut data yang disampaikan pejabat Ukraina.
Drone-drone tersebut juga digunakan untuk menyerang sektor ekonomi penting seperti pelabuhan gandum, jaringan kereta api, dan fasilitas baja.
Infrastruktur Energi dan Logistik Tertekan
Peningkatan serangan tidak hanya berkaitan dengan jumlah senjata yang digunakan.
Rusia juga meningkatkan serangan terhadap infrastruktur yang menopang aktivitas ekonomi Ukraina. Sejumlah serangan dalam beberapa hari terakhir menyasar pelabuhan, jaringan transportasi, pusat data, fasilitas energi, dan kawasan industri.
Perkembangan tersebut terjadi ketika Ukraina berusaha mempertahankan ekspor melalui pelabuhan Laut Hitam sekaligus menjaga sistem energi menjelang musim dingin.
Presiden Zelensky sebelumnya mendorong pembentukan gencatan senjata terhadap infrastruktur energi. Namun, serangan kembali terjadi dari kedua pihak.
Ukraina Juga Melancarkan Serangan Balasan
Eskalasi tidak hanya berlangsung dari pihak Rusia.
ISW mencatat Ukraina juga meningkatkan serangan terhadap sasaran militer dan logistik Rusia di wilayah belakang garis depan.
Pada 26–27 September 2026, pasukan Ukraina dilaporkan menyerang sejumlah fasilitas militer Rusia, termasuk depot amunisi dan fasilitas bahan bakar di wilayah yang diduduki Rusia. Ukraina juga terus menggunakan drone untuk menyerang fasilitas energi dan industri di dalam wilayah Rusia.
Reuters melaporkan serangan drone Ukraina pada 22 September 2026 menewaskan satu orang di wilayah Samara dan melukai empat lainnya, menurut gubernur wilayah tersebut.
Dengan demikian, peningkatan serangan udara berlangsung dua arah, meskipun skala serangan Rusia terhadap wilayah Ukraina dalam beberapa hari terakhir jauh lebih besar menurut data yang disampaikan Kyiv.
Serangan Meningkat di Tengah Upaya Diplomasi
Eskalasi udara tersebut berlangsung ketika upaya diplomatik untuk mengakhiri perang masih berjalan.
Presiden Ukraina Zelensky sebelumnya bertemu Presiden AS Donald Trump dalam rangkaian Sidang Umum PBB di New York. Kyiv mendorong pembicaraan mengenai penghentian serangan terhadap infrastruktur energi dan memperoleh tambahan sistem pertahanan udara, termasuk Patriot. Namun, serangan udara terus berlanjut.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa pembicaraan diplomatik belum menghasilkan penghentian operasi militer secara menyeluruh. Bahkan ketika para pemimpin dunia berkumpul di New York untuk membahas perang dan keamanan internasional, serangan udara di Ukraina tetap berlangsung.
Baca Juga
Moskow Digempur Serangan Drone Ukraina, Kilang Minyak Rusak di Tengah Pemilu Rusia
Internasional
Hampir 4.000 Serangan dalam Sepekan
Data yang disampaikan Zelensky memberikan gambaran mengenai intensitas serangan terbaru.
Lebih dari 2.200 drone jarak jauh + 1.650 bom luncur + 38 rudal berarti sekitar 3.888 senjata udara digunakan Rusia dalam periode sekitar satu pekan menurut data Ukraina. Namun, angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Istilah “hampir 4.000” mencakup tiga kategori persenjataan yang berbeda dan berasal dari pelaporan pemerintah Ukraina. Angka tersebut bukan hasil penghitungan independen seluruh peluncuran Rusia. Yang dapat dikonfirmasi dari laporan terbaru adalah bahwa serangan drone Rusia berlangsung dalam skala besar dan berulang, dengan ratusan drone diluncurkan hanya dalam satu malam.
Hingga 28 September 2026, serangan udara Rusia terhadap Ukraina belum menunjukkan tanda berhenti. Sementara diplomasi terus berlangsung di tingkat internasional, Kyiv menghadapi tekanan untuk mempertahankan pertahanan udara, melindungi infrastruktur vital, dan menjaga jaringan energi serta komunikasi menjelang musim dingin.